Gagal Ginjal, Tersangka Teroris Meninggal

Kompas.com - 29/10/2008, 13:35 WIB

JAKARTA,RABU-Kepala Divisi Humas Polri Irjen Pol Abubakar Nataprawira mengatakan, Budiman yang ditangkap oleh Detasemen Khusus 88 Anti Teror Bareskrim Polri karena diduga terkait kasus terorisme, meninggal dunia di RS Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur karena menderita gagal ginjal.

"Kemarin, dia sempat menjalani cuci darah. Tadi pagi, sekitar jam 05.00 WIB, Budiman meninggal dunia karena ginjalnya tidak berfungsi," katanya di Jakarta, Rabu (29/10).

Ia mengatakan, sejak dirawat di RS Polri, Budiman mendapatkan perawatan medis secara maksimal dan ditempatkan di kamar kelas VIP. Menurut dia, Budiman telah sakit sejak ditangkap bahkan polisi pun menangkapnya ketika sedang dirawat di RS Rawalumbu, Bekasi karena sakit tipes dan anemia.

"Saat dirawat di RS Polri, dia terindikasi gagal ginjal sehingga diberi perawatan yang maksimal termasuk upaya transfusi darah," katanya. Abubakar mengatakan, sejak ditangkap, Budiman belum pernah menjalani pemeriksaan karena langsung dirawat ke rumah sakit.

Polisi menangkap Budiman karena diduga menyembunyikan tersangka kasus terorisme Rusli Mardhani alias Wahyu Ramadhan alias Uci alias Farid alias Zulfikar alias Mukhlis.

Sementara itu pengacara dari Tim Pembela Muslim (TPM) Achmad Michdan mengatakan, untuk mengetahui penyebab kematian Budiman, pihak keluarga dan tim penyidik Polri sepakat untuk melakukan visum di RSCM. Visum dilakukan agar tidak menimbulkan polemik pasca kematian Budiman. "Kita ingin memastikan penyebab kematiannya," katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau