Sedayu dan Banguntapan Diincar Pengembang Properti

Kompas.com - 29/10/2008, 18:13 WIB

BANTUL, RABU - Kecamatan Sedayu dan Banguntapan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta menjadi lokasi perumahan yang banyak diincar oleh pengembang. Selain karena lokasinya berdekatan dengan daerah perkotaan, Pemerintah Kabupaten Bantul juga memberikan kemudahan kepengurusan izin. Akibatnya harga tanah di kedua wilayah tersebut merambah naik.

Darnawi, Kepala Desa Argorejo Kecamatan Sedayu, Rabu (19/10) mengatakan di desanya awalnya hanya ada satu perumahan namun kini telah berkembang menjadi 8 lokasi perumahan. Semua lokasi merupakan perumahan besar karena jumlah unitnya lebih dari 20 unit. Perumahan-perumahan tersebut mulai muncul sejak 5 tahun terakhir.

Menurut Darnawi, lokasi perumahan diprioritaskan pada lahan-lahan yang tidak produktif. Tujuannya agar tidak mengurangi luas lahan pertanian produktif. Sebagian besar berada di lahan tandus.

"Kehadiran pengembang membuat nilai jual lahan tandus ikut melonjak," katanya. Tak hanya di Desa Argorejo, di Desa Argosari Sedayu masih terdapat 3 lokasi perumahan. Kondisi serupa juga terjadi di Kecamatan Banguntapan. Sejumlah lokasi perumahan baru muncul di Desa Baturetno, Jambidan, dan Potorono.

Di Desa Jambidan misalnya perumahan baru ditawarkan dengan harga mulai Rp 77 juta. Pihak pengembang menyediakan 111 unit dengan berbagai tipe mulai dari 21 hingga 45. Hal serupa juga dijumpai di Desa Baturetno dengan harga sekitar Rp 150 juta.

Rustam Fathoni, Kepala Desa Jambidan mengatakan diliriknya wilayah Banguntapan karena kecamatan tersebut langsung berbatasan dengan Kota Yogyakarta, sehingga akses transportasinya lebih mudah.

"Kehadiran perumahan baru berdampak positif bagi perkembangan ekonomi di desa kami. Banyak usaha-usaha baru muncul karena banyaknya warga pendatang. Usaha-usaha kecil itu misalnya laundry, tempat cuci motor, dan usaha kelontong," katanya.

Dampak perkembangan perumahan yang begitu pesat adalah naiknya harga tanah. Di Dusun Ironayan, Desa Baturetno misalnya harga tanah yang semula hanya berkisar Rp 150.000-Rp 200.000 per meter, kini melonjak menjadi Rp 350.000 per meter. Ke depan saya yakin harganya masih akan terus naik. Apalagi sarana jalan aspal semakin banyak, sehingga minat pengembang pun makin tinggi, kata Pardi, warga Dusun Ironayan.

Selain lokasinya strategi, alasan pengembang memilih dua kecamatan tersebut karena Pemkab Bantul memberikan izin kemudahan. Mengurus izin di Bantul lebih mudah. Biayanya juga tidak terlalu tinggi. Sekarang ini banyak pengembang yang mulai fokus merambah ke wilayah Bantul, kata Winarno dari salah satu pengembang yang tengah membangun perumahan Gilang Asri.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau