BANTUL, RABU - Kecamatan Sedayu dan Banguntapan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta menjadi lokasi perumahan yang banyak diincar oleh pengembang. Selain karena lokasinya berdekatan dengan daerah perkotaan, Pemerintah Kabupaten Bantul juga memberikan kemudahan kepengurusan izin. Akibatnya harga tanah di kedua wilayah tersebut merambah naik.
Darnawi, Kepala Desa Argorejo Kecamatan Sedayu, Rabu (19/10) mengatakan di desanya awalnya hanya ada satu perumahan namun kini telah berkembang menjadi 8 lokasi perumahan. Semua lokasi merupakan perumahan besar karena jumlah unitnya lebih dari 20 unit. Perumahan-perumahan tersebut mulai muncul sejak 5 tahun terakhir.
Menurut Darnawi, lokasi perumahan diprioritaskan pada lahan-lahan yang tidak produktif. Tujuannya agar tidak mengurangi luas lahan pertanian produktif. Sebagian besar berada di lahan tandus.
"Kehadiran pengembang membuat nilai jual lahan tandus ikut melonjak," katanya. Tak hanya di Desa Argorejo, di Desa Argosari Sedayu masih terdapat 3 lokasi perumahan. Kondisi serupa juga terjadi di Kecamatan Banguntapan. Sejumlah lokasi perumahan baru muncul di Desa Baturetno, Jambidan, dan Potorono.
Di Desa Jambidan misalnya perumahan baru ditawarkan dengan harga mulai Rp 77 juta. Pihak pengembang menyediakan 111 unit dengan berbagai tipe mulai dari 21 hingga 45. Hal serupa juga dijumpai di Desa Baturetno dengan harga sekitar Rp 150 juta.
Rustam Fathoni, Kepala Desa Jambidan mengatakan diliriknya wilayah Banguntapan karena kecamatan tersebut langsung berbatasan dengan Kota Yogyakarta, sehingga akses transportasinya lebih mudah.
"Kehadiran perumahan baru berdampak positif bagi perkembangan ekonomi di desa kami. Banyak usaha-usaha baru muncul karena banyaknya warga pendatang. Usaha-usaha kecil itu misalnya laundry, tempat cuci motor, dan usaha kelontong," katanya.
Dampak perkembangan perumahan yang begitu pesat adalah naiknya harga tanah. Di Dusun Ironayan, Desa Baturetno misalnya harga tanah yang semula hanya berkisar Rp 150.000-Rp 200.000 per meter, kini melonjak menjadi Rp 350.000 per meter. Ke depan saya yakin harganya masih akan terus naik. Apalagi sarana jalan aspal semakin banyak, sehingga minat pengembang pun makin tinggi, kata Pardi, warga Dusun Ironayan.
Selain lokasinya strategi, alasan pengembang memilih dua kecamatan tersebut karena Pemkab Bantul memberikan izin kemudahan. Mengurus izin di Bantul lebih mudah. Biayanya juga tidak terlalu tinggi. Sekarang ini banyak pengembang yang mulai fokus merambah ke wilayah Bantul, kata Winarno dari salah satu pengembang yang tengah membangun perumahan Gilang Asri.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang