YOGYAKARTA, RABU - Risiko kematian maupun cacat akibat terkena stroke bisa berkurang jika penyakit ini ditangani sejak dini. Untuk itu, semua orang yang rentan terkena stroke harus belajar mengenali gejala penyakit ini sejak awal.
Dokter spesialis penyakit saraf Laksmi Asanti mengatakan, selain stroke berat yang selama ini sudah banyak dikenal, dalam dunia kedokteran ada istilah stroke subklinis. Ini adalah fase ketika penyumbatan di otak seseorang tidak menyebabkan gejala kelumpuhan akut. Oleh karena itu, gejalanya seringkali tidak dikenali.
"Ini adalah stroke, tapi orang tidak tahu bahwa itu stroke," jelasnya saat memberi penyuluhan kesehatan dan pelatihan deteksi dini penyakit stroke, dalam rangka Hari Stroke Sedunia, Rabu (29/10) di Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta.
Gejala stroke subklinis ini antara lain berupa perubahan kepribadian seperti mendadak depresi, perubahan emosi seperti mudah marah, gangguan memori seperti tiba-tiba tidak bisa menghitung angka, sulit memakai sandal , sulit mengambil keputusan yang sederhana dan sebagainya. Jika pada suatu pagi seseorang terbangun dengan gejala seperti itu, ia harus mulai waspada.
Menurut Laksmi, stroke jenis ini terjadi lima kali lebih sering dibanding stroke berat yang selama ini dikenal. Jika tidak ditangani secepatnya, stroke subklinis ini bisa mengantarkan seseorang ke arah kepikunan, gangguan kognitif , hingga menjadi stroke berat. Sebaiknya segera konsultasi ke rumah sakit sebelum terlambat, stroke kecil akan berubah menjadi berat.
Selain mengenali gejala awal, Laksmi menganjurkan masyarakat rajin memeriksa tekanan darah, kadar gula dalam darah, kadar kolesterol, serta berat badan. Jika hasilnya lebih tinggi dari angka normal, segeralah mengambil tindakan karena stroke mudah datang dalam kondisi tersebut. Saat ini, stroke merupakan penyebab kematian nomor tiga dan penyebab kecacatan nomor satu di dunia.
Direktur RS Bethesda Yogyakarta Sugianto menambahkan, stroke dapat dicegah dengan mengendalikan faktor risikonya. Berdasarkan penelitian, kampanye mewaspadai tekanan darah tinggi, berhenti merokok, serta menurunkan berat badan ternyata bisa menurunkan angka kejadian stroke hingga 11,4 persen pada tahun 2007.
"Kebiasaan hidup sehat seperti berolahraga dan menjaga pola makan juga membantu," katanya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang