Menelusuri Jejak Si Burung di Pekanbaru

Kompas.com - 30/10/2008, 06:44 WIB

JAKARTA, KAMIS - Belakangan ini nama Hendra menjadi buah bibir masyarakat. Ia adalah korban mutilasi yang dilakukan isterinya, Yati (48). Potongan tubuh Hendra pertamakali ditemukan di Bus Mayasari Bhakti P64 Jurusan Kalideres- Pulogadung.

Dalam penyelidikan terungkap, Yati adalah isteri keempat Hendra. Beberapa nama disebut sebagai isteri Hendra sebelumnya adalah Dewi dan Mega. Hendra memang doyan kawin. Oleh teman-temannya sopir angkutan umum jurusan Kotabumi-Kalideres itu dipanggil "burung".

Sumber-sumber di kepolisian menyebut Hendra berasal dari Riau. Tribun Pekanbaru menyusuri jejak Si Burung di provinsi ini dan berhasil bertemu dengan isteri pertama Hendra yang telah dicerai 20 tahun lalu.

***


Awalnya Kho Tjoe Ping alias Aping (45), istri pertama Hendra, korban mutilasi 13 potong, menolak Tribun saat datang ke rumahnya untuk wawancara, Rabu (29/10). Dengan suara meninggi perempuan berwajah oriental yang sehari-hari berjualan lontong sayur itu melontarkan kekhawatiranya.

"Jangan kaitkan kami dengan kasus kematian Pho (panggilan akrab Hendra). Saya dan anak-anak sudah lebih dari 20 tahun ditinggalkanya," ujar Aping, seraya mempersilakan Tribun untuk keluar dari rumah kontarakan tua yang terletak di Jalan Tamtama Pasar Mambo No. 12 Rt.01/011 Kelurahan Kota Tinggi, Kecamatan Kota Pekanbaru, Pekanbaru.

Namun Tribun tak patah arang. Berulangkali Tribun meyakinkan, dengan adanya wawancara ini, maka posisi Aping dan keluarga dalam masalah itu akan jelas. Apalagi, banyak pembaca yang ingin tahu siapa sebenarnya Pho alias Hendra alias Burung. Lelaki yang memiliki empat istri yang sebagian potongan tubuhnya ditemukan dalam sebuah kantong plastik pada 30 September (satu hari sebelum lebaran-red) di Bus Mayasari Bhakti P-64 jurusan Pulo Gadung Kalideres, Jakarta.

"Iya mami saya adalah istri pertamanya. Bukan Dewi dari Lampung itu, yang ngaku di televisi sebagai istri pertamanya. Papi tidak punya anak lagi, selain kami di Pekanbaru ini," ungkap Cristian (20), putra ke dua pasangan Hendra - Aping.

Pemuda gagah, yang memiliki wajah mirip dengan ayahnya ini, dengan santai dan lancar mulai menceritakan sosok ayahnya, yang telah meninggalkannya saat dirinya berusia 2 tahun.

"Setelah 18 tahun enggak ketemu, baru dua bulan lalu, kami ketemuan. Saya bilang ingin memeluknya, tapi dia menolak. Ayah terlihat begitu stres, pakainnya pun hanya celana pendek saja, " kata Christian yang datang ke Jakarta untuk urusan pekerjaan.

Pertemuan pertama itu hanya berlangsung beberapa menit.
Pada saat itu, Christian sempat dipertemukan dengan Yati, istri ke empat bapaknya yang menjadi tersangka kasus kematian Hendra.

Soal perilaku Hendra yang menurut Yati suka memukul, Aping mengaku heran.  Menurut Aping, selama lima tahun pernikahannya dengan Hendra, hingga dikarunia tiga anak, Hendra tak pernah memarahi apalagi memukulnya. "Yang ada saya yang suka memukul dia. Dia baik, pendiam, tak pernah marah dan rajin nyari uang," ungkap Aping.

Mereka pun bercerai baik-baik karena Hendra ingin menikahi wanita lain dan Aping tak ingin dimadu. Aping lalu memilih membawa tiga anaknya, dan mengizinkan suaminya itu menikahi wanita lain asal Pekanbaru juga.

"Setelah cerai, saya tak tahu kabar dia. Tahu dia punya istri empat saja baru sekarang. Itu pun dari televisi, karena melihat perkembangan kasus pembunuhannya itu," ujar Aping yang tidak pernah absen mengikuti perkembangan kasus mantan suaminya dari tayangan berita kriminal di televisi.

Aping dan ketiga anaknya mengetahui kematian Hendra yang sadis itu dari keluarga Hendra di Jakarta. Ibu dan anak ini awalnya sangat syok dan sempat tak percaya. Mereka pun langsung mencari tahu kebenarannya dengan menelepon anggota keluarga lainnya.

"Meskipun bukan lagi istrinya tapi perasaan sedih dan kehilangan itu ada," ungkap Aping pelan.

Wajahnya tampak sedih hingga Tribun meninggalkan rumah itu sambil membawa dua lembar foto kenangan Aping dengan Hendra.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau