JAKARTA, KAMIS - Belakangan ini nama Hendra menjadi buah bibir masyarakat. Ia adalah korban mutilasi yang dilakukan isterinya, Yati (48). Potongan tubuh Hendra pertamakali ditemukan di Bus Mayasari Bhakti P64 Jurusan Kalideres- Pulogadung.
Dalam penyelidikan terungkap, Yati adalah isteri keempat Hendra. Beberapa nama disebut sebagai isteri Hendra sebelumnya adalah Dewi dan Mega. Hendra memang doyan kawin. Oleh teman-temannya sopir angkutan umum jurusan Kotabumi-Kalideres itu dipanggil "burung".
Sumber-sumber di kepolisian menyebut Hendra berasal dari Riau. Tribun Pekanbaru menyusuri jejak Si Burung di provinsi ini dan berhasil bertemu dengan isteri pertama Hendra yang telah dicerai 20 tahun lalu.
Awalnya Kho Tjoe Ping alias Aping (45), istri pertama Hendra, korban mutilasi 13 potong, menolak Tribun saat datang ke rumahnya untuk wawancara, Rabu (29/10). Dengan suara meninggi perempuan berwajah oriental yang sehari-hari berjualan lontong sayur itu melontarkan kekhawatiranya.
"Jangan kaitkan kami dengan kasus kematian Pho (panggilan akrab Hendra). Saya dan anak-anak sudah lebih dari 20 tahun ditinggalkanya," ujar Aping, seraya mempersilakan Tribun untuk keluar dari rumah kontarakan tua yang terletak di Jalan Tamtama Pasar Mambo No. 12 Rt.01/011 Kelurahan Kota Tinggi, Kecamatan Kota Pekanbaru, Pekanbaru.
Namun Tribun tak patah arang. Berulangkali Tribun meyakinkan, dengan adanya wawancara ini, maka posisi Aping dan keluarga dalam masalah itu akan jelas. Apalagi, banyak pembaca yang ingin tahu siapa sebenarnya Pho alias Hendra alias Burung. Lelaki yang memiliki empat istri yang sebagian potongan tubuhnya ditemukan dalam sebuah kantong plastik pada 30 September (satu hari sebelum lebaran-red) di Bus Mayasari Bhakti P-64 jurusan Pulo Gadung Kalideres, Jakarta.
"Iya mami saya adalah istri pertamanya. Bukan Dewi dari Lampung itu, yang ngaku di televisi sebagai istri pertamanya. Papi tidak punya anak lagi, selain kami di Pekanbaru ini," ungkap Cristian (20), putra ke dua pasangan Hendra - Aping.
Pemuda gagah, yang memiliki wajah mirip dengan ayahnya ini, dengan santai dan lancar mulai menceritakan sosok ayahnya, yang telah meninggalkannya saat dirinya berusia 2 tahun.
"Setelah 18 tahun enggak ketemu, baru dua bulan lalu, kami ketemuan. Saya bilang ingin memeluknya, tapi dia menolak. Ayah terlihat begitu stres, pakainnya pun hanya celana pendek saja, " kata Christian yang datang ke Jakarta untuk urusan pekerjaan.
Pertemuan pertama itu hanya berlangsung beberapa menit.
Pada saat itu, Christian sempat dipertemukan dengan Yati, istri ke empat bapaknya yang menjadi tersangka kasus kematian Hendra.
Soal perilaku Hendra yang menurut Yati suka memukul, Aping mengaku heran. Menurut Aping, selama lima tahun pernikahannya dengan Hendra, hingga dikarunia tiga anak, Hendra tak pernah memarahi apalagi memukulnya. "Yang ada saya yang suka memukul dia. Dia baik, pendiam, tak pernah marah dan rajin nyari uang," ungkap Aping.
Mereka pun bercerai baik-baik karena Hendra ingin menikahi wanita lain dan Aping tak ingin dimadu. Aping lalu memilih membawa tiga anaknya, dan mengizinkan suaminya itu menikahi wanita lain asal Pekanbaru juga.
"Setelah cerai, saya tak tahu kabar dia. Tahu dia punya istri empat saja baru sekarang. Itu pun dari televisi, karena melihat perkembangan kasus pembunuhannya itu," ujar Aping yang tidak pernah absen mengikuti perkembangan kasus mantan suaminya dari tayangan berita kriminal di televisi.
Aping dan ketiga anaknya mengetahui kematian Hendra yang sadis itu dari keluarga Hendra di Jakarta. Ibu dan anak ini awalnya sangat syok dan sempat tak percaya. Mereka pun langsung mencari tahu kebenarannya dengan menelepon anggota keluarga lainnya.
"Meskipun bukan lagi istrinya tapi perasaan sedih dan kehilangan itu ada," ungkap Aping pelan.
Wajahnya tampak sedih hingga Tribun meninggalkan rumah itu sambil membawa dua lembar foto kenangan Aping dengan Hendra.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang