"Jika tidak berkesempatan meliput perang dan kampanye pemilu presiden AS, rasanya belum lengkap jati diri sebagai seorang wartawan,” kata Profesor Carole Simpson kepada wartawan Indonesia di Boston, Minggu (26/10). Perang dan kampanye presiden AS adalah dua kesempatan peliputan yang unik, memerlukan pengorbanan, sekaligus memberi reputasi.
Perang adalah lahan peliputan yang mempertaruhkan nyawa. Pemilu presiden AS adalah lahan peliputan yang sering membuat wartawan tidak cukup tidur, tidak sempat makan, dan mungkin tidak sempat ke toilet.
Peliputan juga sungguh tak nyaman. Masalahnya, pengamanan presiden sangat prima. ”Walau wartawan peliput presiden sudah sangat dikenal, para agen tidak mau tahu dengan penderitaan wartawan,” kata Simpson yang selama delapan tahun meliput kegiatan Presiden George W Bush.
Walau mendapatkan fasilitas penerbangan, kenyamanan di pesawat sangat buruk sehingga disebut zoo plane atau pesawat mirip kebun binatang. Misalnya, wartawan disuruh menumpuk di dalam pesawat terpisah, jauh sebelum presiden memasuki pesawat tersendiri. Pesawat wartawan terbang lebih dulu. Namun, saat mendarat, pesawat presiden mendarat lebih dulu sehingga pesawat wartawan harus berputar-putar di udara dalam waktu lama. Jadi, pesawat wartawan tak ubahnya seperti kurungan.
Rutinitas juga menjadi kebosanan. ”Kita, misalnya, hampir hafal dengan kalimat yang akan diucapkan presiden, bahkan sampai mimik presiden pun kita hafal,” katanya, seraya menambahkan, dalam peliputan presiden, pola makan dan hidup wartawan tidak teratur. ”Namun, memang saya suka profesi ini,” kata Simpson, wanita kulit hitam pertama yang menjadi wartawan televisi di AS, dengan segala perlakuan diskriminatif. (Simon Saragih dari Boston)