Rizieq Nasihati SBY Agar Bubarkan Ahmadiyah

Kompas.com - 30/10/2008, 13:54 WIB

 

JAKARTA, KAMIS - Usai mendengarkan vonis hakim dan menyatakan banding, Ketua Umum Front Pembela Islam (FPI), Habib Rizieq Shihab, memberikan nasihat untuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melalui wartawan.

Dia mengingatkan agar SBY takut kepada Allah dan segera bubarkan Ahmadiyah. "Bapak Presiden SBY, takutlah kepada Allah. Jangan kau lindungi Ahmadiyah. Nanti negeri ini akan semakin hancur. Nanti akan datang musibah yang besar. Saya nasihati Presiden SBY sebagai sesama muslim dari hati yang tulus, takut lah kepada Allah, segeralah bubarkan Ahmadiyah. Tidak apa-apa saya dipenjara Pak Presiden, bahkan tidak apa-apa saya dihukum mati sekali pun. Tapi satu yang saya minta, segera bubarkan Ahmadiyah," ujar Rizieq di Pengadilan Negeri Jakpus, Kamis (30/10).

Menanggapi putusan majelis hakim, dia menilai majelis tidak konsisten. Sebelumnya, majelis mengatakan keterangan Hendri Sujono dan Sunarto tidak akan dipakai. Tapi dalam pertimbangannya, keterangan keduanya masih dipakai.

"Ini menunjukkan hakim tidak konsisten. Mengenai ceramah saya yang dijadikan pertimbangan berlangsung pada 28 Mei, sebagaimana yang dilihat dalam DVD. Padahal menurut keterangan Roy Suryo, DVD itu diburning pada 19 januari 2008. Jadi artinya, majelis hakim tidak konsisten. Vonisnya itu kabur dan ngawur. Maka dari itu hakim melakukan pendzoliman. Kami banding Insyaallah," tukasnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau