Disnak Boyolali Sidak Melamin dalam Telur

Kompas.com - 30/10/2008, 18:55 WIB

BOYOLALI, KAMIS - Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, menggelar inspeksi mendadak di sejumlah pasar tradisional dan swalayan, Kamis (30/10). Petugas memeriksa kondisi fisik telur, sekaligus mengambil beberapa contoh untuk diuji di laboratorium guna memeriksa apakah terdapat kandungan melamin.

Petugas gabungan dari Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakan) dan Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Boyolali memulai pemeriksaan di Pasar Boyolali Kota dan berlanjut ke Pasar Ngebong dan sejumlah toko dan swalayan. Petugas memeriksa kondisi fisik telur dengan menggunakan uji apung dan penerawangan di cahaya guna memeriksa rongga udara dalam telur.

Telur yang kondisinya masih bagus bila diletakkan dalam air akan langsung tenggelam dan bila diterawang, rongga udaranya masih cukup padat. Selain itu, petugas juga membandingkan harga jual telur untuk antisipasi kemungkinan telur yang mengandung melamin dijual dengan harga rendah. Di setiap penjual yang didatangi, petugas membeli satu butir telur untuk diperiksakan ke Balai Besar Veteriner di Yogyakarta.

"Secara kasat mata akan sangat sulit untuk bisa memeriksa apakah telur mengandung melamin atau tidak. Kami akan segera mengirimkan contoh yang sudah kami kumpulkan dan hasilnya baru bisa diketahui dua pekan mendatang," kata Kepala Disnakan Kabupaten Boyolali Dwi Priyatmoko.

Menurut dia, langkah ini diambil untuk mengantisipasi kemungkinan telur yang beredar di Boyolali terkontaminasi melamin. Dia khawatir telur yang mengandung melamin yang berasal dari China sebagian diekspor ke Indonesia dan masuk ke Boyolali. Kandungan melamin dalam telur tersebut diduga berasal dari pakan ternak.

Dwi mengatakan, dalam waktu dekat juga akan memeriksa sejumlah peternakan ayam di Boyolali, terutama kandungan dalam pakan ayam petelur. Menurut dia, pedagang maupun konsumen sangat sulit bisa mengetahui apakah telur mengandung melamin hanya dari tampilan fisik. Namun, salah satu indikasi, lanjutnya, kuning telur lebih besar ketimbang telur normal.

Nyonya Widowo (38), pedagang telur di Siswodipuran, Kecamatan Boyolali Kota mengaku tidak mengetahui sama sekali perihal telur mengandung melamin. Dia mengaku mendapat pasokan telur dari distributor asal Kabupaten Boyolali, tetapi tidak mengatahui asal telur tersebut. 

 

 

 

 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau