SLAWI, KAMIS — Menyusul kelangkaan pupuk urea bersubsidi yang terjadi di tingkat pengecer, pemupukan yang dilakukan petani menjadi terlambat. Kondisi ini dikhawatirkan membuat hasil panen petani berkurang.
Wakil Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Kabupaten Tegal Slamet Mudasir, di Slawi, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, Kamis (30/10), mengatakan, petani mesti mengantre untuk memperoleh pupuk urea bersubsidi karena keterbatasan stok di tingkat pengecer.
Mudasir mencontohkan, para petani yang ada di Kecamatan Bumijawa, antara lain di Desa Cawitali, Jejeg, Pagerkasih, dan Carul, akhirnya terlambat memupuk karena pengecer di daerah itu kehabisan stok. "Mereka baru dapat pupuk setelah 20 hari. Itu juga mesti antre dulu dengan mendaftarkan nama mereka," ujarnya.
Samujo (48), petani di Desa Sirangkang, Kecamatan Petarukan, Kabupaten Pemalang, mengakui hal serupa. Ia terlambat memupuk padinya sampai 26 hari akibat kesulitan memperoleh pupuk urea bersubsidi. "Saya cari ke pengecer di sekitar desa sudah tidak ada stok, akhirnya saya mendapatkannya di Kecamatan Comal," katanya.
Oleh karena itu, ia mengkhawatirkan terjadi penurunan hasil produksi panennya hingga 30 persen. Hasil panen saya biasanya 3,6 ton gabah kering giling dari sawah seluas 0,5 hektar. Namun, kalau telat memupuknya seperti sekarang pasti hasil panennya turun, ucapnya. Selain sulit mendapatkannya, Samujo juga mesti membeli pupuk urea bersubsidi tersebut Rp 65.000 per zak di atas harga eceran tertinggi Rp 60.000 per zak.
Marketing Supervisor PT Pupuk Kujang Wilayah Brebes dan Tegal Dadeng Suhendra mengatakan, telah mendistribusikan 1.750 ton pupuk urea bersubsidi ke 12 distributor di seluruh Kabupaten Tegal selama Oktober ini.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang