JAKARTA, JUMAT - Pengoperasian 34 bus tunggal dan 13 bus gandeng sebagai bus transjakarta tambahan dari PT Eka Sari Lorena batal dioperasikan Sabtu (1/11) ini. Penundaan itu karena sejumlah bus belum memenuhi persyaratan administrasi sebagai persyaratan standar beroperasinya sebuah bus kota seperti kir dan STNK.
"Bus tambahan belum bisa dioperasikan Sabtu ini. Pada prinsipnya, bus-bus itu tidak multak harus dioperasikan saat ini. Kan masih bisa ditunda. Yang pasti awal November bus-bus itu sudah bisa dioperasikan," kata Wakil Kepala Badan Layanan Umum Bus Transjakarta, Anton Parura, Jumat (31/10) malam.
Anton mengatakan, sejauh ini sejumlah bus yang akan dioperasikan di Koridor V (Ancol- Kampung Melayu) dan Koridor VII (Kampung Melayu-Kampung Rambutan) ini belum melengkapi persyaratan administrasi seperti kir dan surat tanda nomor kendaraan bermotor (STNK).
Seperti diberitakan, kesiapan yang telah dilakukan Lorena, antara lain, enam dari 13 bus gandeng telah dikir. Tujuh bus lainnya masih dalam proses akhir di karoseri. Lorena juga telah menyiapkan 110 pramudi yang akan mengemudikan bus itu, 30 staf lapangan yang mendukung operasionalisasi, dan 30 mekanik untuk perbaikan dan pemeliharaan bus.
Bus tunggal yang digunakan Lorena bermerek Hino buatan Jepang seharga Rp 1,6 miliar. Bus gandeng merupakan produksi Jerman dengan karoseri Indonesia. Merek bus gandeng itu adalah AAI Komodo seharga Rp 4 miliar. Semua bus dilengkapi layar televisi sebagai sarana hiburan untuk penumpang dan GPS (global positioning system) untuk mengetahui keberadaan bus.
Untuk bisnis kedua koridor ini, Lorena menginvestasikan Rp 125 miliar dan diperkirakan akan impas setelah 4-5 tahun beroperasi.
Manajer Pengendalian Badan Layanan Umum Bus Transjakarta, Rene Nunumete mengatakan, hingga Jumat malam pihaknya belum mendapat perintah dari atasannya untuk pengoperasian bus tambahan tersebut.
"Sampai malam ini belum ada perintah untuk pengoperasian bus tambahan. Tetapi, setiap siang sejak beberapa hari terakhir ini para pramudi sudah melakukan latihan di jalan," jelasnya.
Surat JMT
Anton mengatakan, penundaan pengoperasional tambahan bus transjakarta ini tidak ada kaitan dengan surat dari PT Jakarta Mega Trans konsorsium koridor V dan VII, Rabu (29/11).
Informasi yang diperoleh Kompas, PT JMT telah mengirim surat permohonan kepala BLU Transjakarta mengenai penundaan pengoperasian tambahan bus Transjakarta dari Lorena. Dalam surat yang ditandatangani Direktur PT JMT Atin Sutisna itu, konsorsium meminta agar BLU Transjakarta menunda pengoperasian bus tambahan sampai keluarnya surat perjanjian kerja sama operasional yang baru untuk konsorsium. Perjanjian ini akan dilakukan jika BLU Transjakarta dan konsorsium telah menyepakati tarif tempuh per kilometer.
Direktur Teknik dan Operasional PT JTM I Gusti Ngurah Oka yang konfirmasi membenarkan telah melayangkan surat kepada BLU Transjakarta. "Dalam surat itu kami meminta agar bus tambahan dioperasionalkan jika sudah ada perjanjian kerja sama dengan konsorsium," ujar Oka.
Presiden Direktur PT Eka Sari Lorena Transport, GT Soerbakti menyatakan sangat kecewa atas penundaan itu. Apalagi penundaan hanya karena persoalan perbedaan tarif per km antara BLU Transjakarta dan konsorsium.
Dengan penundaan itu, kata Soerbakti, pihaknya merugi karena terkena bunga bank, sebanyak 110 kru Lorena pun akan kesulitan karena tidak kunjung bekerja.
"Seharusnya Pemerintah Provinsi bisa bersikap tegas dalam melihat persoalan ini. Semuanya harus dilihat untuk kepentingan warga Jakarta. Kami menentukan tarif sedemikian rendah bukan tanpa perhitungan," tegas Soerbakti.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang