Rumah Imam Samudera Diportal

Kompas.com - 01/11/2008, 05:04 WIB

SERANG, SABTU - Sejumlah gang menuju rumah orangtua Imam Samudera di Serang, Banten, diportal dan dijaga sejumlah pemuda berseragam loreng. Di Jakarta, polisi meningkatkan pengamanan terhadap kantor-kantor kedutaan asing. Empat jalan dan gang menuju rumah orangtua Imam Samudera di RT 04/01 Kampung Lopanggede, Kelurahan Lopang, Kecamatan/Kota Serang, dipasangi portal bambu, Kamis (30/10). Setiap portal dijaga tiga pemuda berseragam loreng dengan tulisan BKR di dada.

Para pemuda tersebut memeriksa orang-orang, kecuali warga setempat, yang berkunjung kampung yang terletak sekitar 1 km dari Pasar Rau, pasar terbesar di Serang, tersebut. Mereka menanyakan maksud dan tujuan berkunjung ke Kampung Lopanggede.

"Pemasangan portal ini sebenarnya sudah lama direncanakan. Tujuannya untuk menjaga keamanan. Tapi, karena ada pilkada dan Lebaran, akhirnya baru sekarang bisa dipasang. Ini sekaligus mempersiapkan pengamanan untuk mengantisipasi banyaknya tamu terkait eksekusi Imam Samudera," ujar Ahmad Rosyadi, Ketua RW 01 Lopanggede,
Jumat (31/10).

Portal-portal tersebut terbuat dari bambu dan diberi pemberat berupa karung berisi pasir. Gang-gang yang dipasangi portal antara lain Gang Masjid Lopang atau gang utama menuju rumah Imam dan Gang RT 04/ 01, sekitar 150 meter sebelah kiri dari gang utama.

Dua gang lainnya adalah Gang RT 05, sekitar 200 meter sebelah kanan gang utama, dan Gang RT 07, yang menghubungkan Kampung Lopanggede dangan Kampung Kebaharan. Selain Gang RT 07, ketiga gang lainnya menghubungkan Kampung Lopanggede dengan Jalan Samaun Bahri, jalan raya menuju Pasar Rau. Menurut Rosyadi, seiring dengan gencarnya pemberitaan mengenai makin dekatnya hari pelaksanaan eksekusi Imam

Samudera dkk, banyak orang yang mendatangi rumah orangtua Imam di Kampung Lopanggede. Sebagian besar dari mereka adalah wartawan yang datang untuk mewawancarai keluarga Imam. "Kami tidak ingin, saat banyak orang datang, warga jadi lengah sehingga terjadi pencurian atau sebagainya. Makanya, kami buat pengamanan dengan melibatkan warga," ujar Rosyadi.

Lulu Djamaludin, adik Imam Samudera, mengatakan pemasangan portal itu merupakan permintaan keluarganya ke pengurus lingkungan yang kemudian disepakati oleh warga lainnya dengan alasan menjaga keamanan. "Jadi, setiap tamu diketahui dengan jelas tujuan maupun asalnya, tidak main selonong tanpa permisi," ujarnya.

Portal-portal yang dibangun dengan dana yang dihimpun dari para warga tersebut ditutup pukul 22.00-05.00. Setiap portal dijaga tiga hingga empat orang baik siang maupun malam. Para penjaga tersebut berwenang memeriksa setiap pengunjung antara lain dengan menanyakan
identitas dan maksud kedatangannya.

Mengenai seragam BKR yang dikenakan para penjaga portal, Rosyadi menjelaskan bahwa sebagian besar warga Lopanggede merupakan anggota BKR, sebuah organisasi masyarakat yang beberapa waktu lalu eksis di Serang. Karena tidak memiliki pakaian seragam khusus, para penjaga portal tersebut sepakat untuk memakai seragam BKR ketika bertugas menjaga portal. Pengurus lingkungan di Kampung Lopanggede juga telah menyiapkan lahan parkir, yakni lahan kosong yang terletak di dekat gang utama serta pinggiran Jalan Samaun Bahri.

Kedubes

Sementara itu, menjelang eksekusi mati pelaku Bom Bali I, yakni Imam Samudera, Amrozi, dan Mukhlas, Polri meningkatkan pengamanan terhadap Kedutaan Besar (Kedubes) AS di Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, dan Kedubes Australia di Kuningan, Jakarta Selatan.

Dalam kadar berbeda, peningkatan pengamanan juga dilakukan terhadap kantor-kantor kedutaan asing yang lain. "Tapi, sejauh ini, pengamanan masih bersifat pengamanan luar," ujar Kepala Divisi Humas Polri Irjen Abu Bakar Nataprawira, di Mabes Polri, Jumat siang. Peningkatan pengamanan juga dilakukan di empat wilayah polda, yaitu Polda Metro Jaya, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Banten.

Pantauan Warta Kota di Kedubes AS, sejumlah personel Brimob berjaga di depan gedung kedutaan di samping Istana Wakil Presiden di Jalan Medan Merdeka Selatan tersebut. Para anggota Brimob tersebut menyandang senjata laras panjang.

Di tengah berbagai peningkatan pengamanan tersebut, soal waktu pelaksanaan ekskusi Imam Samudera dkk, sampai semalam belum diketahui. Jaksa Agung Hendarman Supandji mengatakan pelaksanaan hukuman mati Imam Samudera dkk sesuai dengan jadwal yakni awal November 2008. "Awal November. Anda bisa menghitung, kalau awal bulan itu bukan pertengahan. Pertengahan itu kan tanggal 15. Nah, jadi sebelum pertengahan," katanya di Istana Negara, Jumat.

Hendarman menambahkan, kejaksaan tidak berkewajiban menyampaikan jadwal eksekusi ke publik. Namun kejaksaan wajib memberi tahu jadwal eksekusi tersebut kepada si terpidana mati. Sedangkan terhadap keluarga mereka, kata Hendarman, bahwa pemberitahuan akan dilakukan sesuai dengan permintaan terpidana.

Sementara itu, satu tim eksekutor terpidana mati kasus Bom Bali I yang anggotanya antara lain dua jaksa senior Kejaksaan Tinggi (Kejati) Bali telah berangkat ke Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah. Seorang petugas di Kejati Bali mengatakan tim tersebut berangkat Kamis (30/10).

Namun, Kepala Humas Kejati Bali IG Agung Endrawan mengaku belum mendapat penjelasan tentang keberangkatan dua jaksa senior itu ke Nusakambangan. "Saya belum mendapat kejelasan dari pimpinan tentang hal itu," katanya.

Pada Jumat siang, Amrozi, Mukhlas, dan Imam Samudra mengikuti salat Jumat di Masjid At-Taubah di kompleks Lembaga Pemasyarakatan (LP) Batu, Nusakambangan. Ustaz H Hasan A Makarim, imam dan khatib salat Jumat di LP Batu, mengatakan bahwa Amrozi, Imam Samudera, dan Mukhlas berada di saf paling depan. "Mereka dalam keadaan baik-baik saja dan sehat," katanya ketika mendarat di Dermaga Wijayapura, Cilacap, dari pulau Nusakambangan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau