Tanda-tanda Eksekusi Amrozi Kian Jelas

Kompas.com - 01/11/2008, 19:49 WIB

CILACAP,SABTU-Pengamanan menuju Pulau Nusakambangan kian ketat menyusul kian dekatnya pelaksanaan eksekusi mati Amrozi, Imam Samudra, dan Muklas. Sementara itu, tim jaksa eksekusi yang datang ke Lembaga Pemasyarakatan Nusakambangan sejak Jumat (31/10), untuk memproses aspek legal formal eksekusi mati, hingga Sabtu (1/11) sore belum kembali.

Semua pelabuhan penyeberangan dari Cilacap menuju Nusakambangan kini dijaga ketat aparat kepolisian. Para pengunjung pulau penjara tersebut, termasuk warga sipil dan karyawan yang bekerja di Nusakambangan pun diperiksa secara detail dengan alat deteksi logam. Pengamanan ketat tersebut memperkuat spekulasi yang kini muncul bahwa eksekusi akan dilakukan dalam 2-3 hari ini.

Satu unit helikopter dari Kepolisian Daerah Jawa Tengah juga disiagakan di Bandara Tunggul Wulung, Cilacap sejak Sabtu. Kepala Kepolisian Resor Cilacap, Ajun Komisaris Besar Teguh Pristiwanto mengatakan, helikopter tersebut disiapkan untuk menunjang pengamanan dan mengangkut logistik. Dia membantah, keberadaan helikopter tersebut untuk mengangkut tiga terpidana mati atau pun anggota keluarga mereka.

"Pelaksanaan eksekusi semakin dekat. Tentunya kami membutuhkan helikopter ini untuk menunjang pengamanan. Selain itu, helikopter ini juga diperlukan untuk mengangkut logistik," kata Teguh.

Peningkatan keamanan di wilayah Cilacap diakui Teguh menjelang eksekusi Amrozi dan kawan-kawan. Personel polisi brigade mobil disiagakan di sejumlah tempat, termasuk ratusan personel dan satu unit panser di Markas Kopassus Kesatrian Amirul Isnaini, Cilacap.

Saat ditanya mengenai pelaksanaan eksekusi, Teguh mengaku tidak tahu karena hal tersebut menjadi kewenangan kejaksaan.

Tim dari kejaksaan yang datang ke Nusakambangan sejak Jumat, belum kembali. Mereka masih memproses legalitas eksekusi dan penyerahan berkas. Sebagian staf kejaksaan dari Kejati Jateng yang ikut rombongan tim jaksa masuk ke Nusakambangan, Sabtu sore sempat terlihat kembali ke Cilacap. Beberapa di antaranya mengaku sedang mencari kebutuhan logistik tim jaksa yang masih ada di Nusakambangan.

Anggota Dewan Syuro Tim Pembela Muslim, Hasyim Abdullah, mengatakan, dia masih menunggu izin mengunjungi Amrozi dkk di LP Batu, Nusakambangan. Sedianya, TPM akan berkunjung Senin (3/11). Kunjungan tersebut diagendakan untuk menanyakan kepada Amrozi dkk, apakah berita acara pelaksanaan eksekusi sudah diserahkan.

"Kalau melihat kondisinya sekarang pelaksanaan eksekusi ini serius. Karena itu, kami akan menanyakan itu. Tapi, mengenai pelaksanaan eksekusi kami tak mau berandai-andai," imbuh dia.

 

Pengamanan gabungan

Selain dari unsur kepolisian, pengamanan juga dilakukan tim gabungan yang terdiri atas personel Komando Distrik Militer, Pangkalan Angkatan Laut, Detasemen Polisi Militer, Badan Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat, dan Satuan Polisi Pamong Praja Cilacap.

Komandan Regu Tim Gabungan, Pembantu Letnan Dua Budi Trisno, mengatakan, pembentukan tim gabungan ini atas instruksi Bupati Cilacap Probo Yulastoro, Sabtu. Titik-titik pengamanan di antaranya sejumlah pelabuhan penyeberangan, Pembangkit Listrik Tenaga Uap Cilacap, kawasan industri, dan wilayah pesisir yang berdekatan dengan Nusakambangan.

"Pengamanan dilakukan untuk menciptakan suasana kondusif di Cilacap, khususnya menjelang pelaksanaan eksekusi," tandas Budi. 

 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau