Megawati: Soal Cawapres, Sabar Ya...

Kompas.com - 02/11/2008, 04:56 WIB


JAKARTA - Calon presiden dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, yang juga Ketua Umum PDI Perjuangan, meminta masyarakat bersabar untuk mengetahui calon wakil presiden yang akan mendampingi dirinya.

Putri proklamator kemerdekaan RI, Bung Karno, itu masih mencermati dinamika politik dan masih menunggu momentum yang tepat.

Pernyataan itu disampaikan Megawati kepada pers seusai memberi pengarahan pada acara Pemantapan dan Penataran Juru Kampanye Nasional PDI Perjuangan Gelombang I di Hotel Mercure, Ancol, Jakarta, Sabtu (1/11).

Menurut Megawati, dinamika politik yang terjadi saat ini sangat dinamis. PDI-P juga masih memiliki tiga kali rapat kerja nasional guna menentukan pendamping dirinya untuk maju pada Pemilu 2009.

”Jadi, kalau ditanya hari ini siapa, tunggu sajalah dengan sabar. Suatu ketika akan muncul juga,” ujarnya.

Menurut Megawati, belakangan ini juga sudah ada beberapa tokoh yang mendeklarasikan diri sebagai calon presiden. Akibatnya, capres menjadi penuh, sedangkan cawapres menjadi minim.

”Kecuali mau mendegradasikan derajatnya, sudah mendeklarasikan diri sebagai capres juga mau digandeng sebagai cawapres. Kemungkinan itu selalu ada,” kata Megawati.

Megawati juga menekankan bahwa yang sangat diperhatikan PDI-P adalah momentum yang tepat. PDI-P juga berharap koalisi yang nanti akan dibangun dapat berjalan secara tepat karena koalisi itu tidak hanya untuk jabatan, tetapi untuk kerja sama membangun bangsa negara lima tahun mendatang.

Citra positif

Dalam acara pemantapan itu sendiri, Megawati meminta kepada semua juru kampanyenya agar menunjukkan citra positif. ”Citra positif itu penting,” kata Megawati dalam pengarahan awalnya sebelum wartawan diminta meninggalkan ruang sidang karena pengarahan itu bersifat tertutup.

Acara yang diadakan selama dua hari ini mengambil tema ”PDI Perjuangan untuk Semua, Membangun Citra Positif Partai Melalui Perilaku Politik dan Sikap Oposisi”.

Menurut Ketua Badan Pemenangan Pemilu PDI-P Tjahjo Kumolo, gelombang pertama diikuti 350 calon anggota legislatif, sedangkan gelombang II yang akan diadakan pada 11-12 November akan diikuti 300 caleg.

Dari berbagai survei yang dilakukan, suara PDI-P memang terus meningkat mengalahkan partai lain dan untuk sementara berada di urutan pertama.

Selain mendengarkan pengarahan Megawati, dalam acara itu juga akan diadakan pengarahan terbuka dari Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Antasari Azhar. Materi pemberantasan korupsi adalah agenda prioritas penanganan korupsi dalam rangka pemerintahan yang bersih.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau