SBY: Saya Yakin Bisa Sejahterakan Rakyat

Kompas.com - 02/11/2008, 05:06 WIB

JAKARTA - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menegaskan, berbagai krisis yang terjadi saat ini tidak akan memperlemah kerja sama antara Indonesia dan Jepang. Krisis itu justru harus dijadikan momentum bagi kedua negara dan bangsa untuk semakin mempererat dan memperluas hubungannya.

Presiden Yudhoyono menegaskan hal itu dalam sambutannya sebelum meresmikan Indonesia- Japan Expo, Sabtu (1/11) di Arena Pekan Raya Jakarta, Kemayoran. Pameran itu digelar penerbit surat kabar, harian Kompas bersama harian ekonomi Jepang, Nikkei, sebagai kontribusi nyata dalam perayaan 50 tahun persahabatan Indonesia dan Jepang. Pameran yang diikuti lebih dari 100 lembaga pemerintah dan swasta kedua negara itu menampilkan produk inovatif, peluang bisnis dan investasi, serta aneka seni dan budaya kedua bangsa.

Dalam kesempatan itu, Presiden didampingi Ibu Negara, Ny Ani Yudhoyono. Hadir pula sejumlah menteri dan pejabat negara, Gubernur Jakarta Fauzi Bowo, Dubes Jepang untuk Indonesia Kojiro Shiojiri, serta pengusaha nasional dan asing.

Presiden menyatakan, setengah abad hubungan persahabatan Indonesia dan Jepang telah memasuki babak strategis untuk meningkatkan kemakmuran rakyatnya. Inilah saat yang tepat untuk memperluas dan memperdalam kerja sama tersebut dengan menembus kerja sama tradisional untuk memasuki wilayah baru dalam kemitraan.

Menurut Presiden, kedua negara berpeluang bersama-sama mencari solusi berbagai krisis, seperti krisis energi, krisis pangan, dan perubahan iklim. Salah satu bidang yang ditekankan Presiden adalah pertanian. Kerja sama pertanian diperluas dengan mengombinasikan teknologi Jepang dan potensi pertanian serta keterampilan sumber daya manusia Indonesia. ”... Saya yakin kita bisa meningkatkan ketahanan pangan, kesejahteraan petani, dan masyarakat,” ujar Yudhoyono.

Presiden juga menyerukan agar kerja sama yang sudah dirintis bersama Badan Kerja Sama Internasional Jepang (JICA) dan Organisasi Perdagangan Luar Negeri Jepang (Jetro), seperti program one village one product (satu desa satu produk) dengan Pemerintah Daerah DI Yogyakarta untuk mempromosikan produk lokal di tingkat global, dapat diperluas dengan mengikutsertakan daerah dan produk lainnya.

Tiga dokumen

Presiden menyatakan, sejak tahun 2005, ada tiga dokumen yang menandai tonggak hubungan Indonesia Jepang, yaitu deklarasi kemitraan dan strategi bagi masa depan yang damai, deklarasi kemitraan menghadapi tantangan baru, serta persetujuan kemitraan Indonesia-Jepang yang diharapkan secara signifikan dapat meningkatkan hubungan ekonomi Indonesia-Jepang (EPA).

Terkait krisis keuangan global, Presiden Yudhoyono mengharapkan Jepang dan Indonesia mengerahkan kekuatan masing- masing untuk berkontribusi bagi reformasi ekonomi dunia dan menciptakan stabilitas regional.

Pemimpin Umum Harian Kompas Jakob Oetama menyatakan, perayaan tahun emas persahabatan dua negara diwarnai krisis keuangan yang dikhawatirkan berimbas ke sektor riil. ”Krisis keuangan itu menyadarkan betapa nyata interdependensi antarnegara,” ujar Jakob.

Senior Managing Director Nikkei Shiro Saito pun mengemukakan, Indonesia dan Jepang dapat bahu-membahu mengatasi berbagai masalah, termasuk krisis keuangan saat ini. ”Bagi Jepang, Indonesia sangat penting di Asia,” katanya.

Koinsidensi

Jakob menilai hubungan kedua negara ini tergolong unik. Meskipun singkat, pendudukan militer Jepang di Indonesia sangat keras. Namun, kehadiran Jepang juga bisa dipandang sebagai koinsidensi yang mempercepat proklamasi kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945. Selama 50 tahun berikutnya, meskipun ada riak-riak, hubungan bilateral Indonesia dan Jepang lebih banyak diwarnai persahabatan.

Suatu koinsidensi sejarah pula ketika krisis global kini mengguncang perekonomian dunia, peran Indonesia dan Jepang di kawasan regional semakin nyata. Kawasan Asia pun mengukuhkan posisi strategis dengan tampilnya China, India, negara-negara Asia Tenggara dan Asia Timur, seperti Jepang dan Korea.

Indonesia dan Jepang perlu membuat kerja sama bilateral itu lebih optimal. Indonesia pun sewajarnya berkembang, tidak lagi sekadar menjadi pemasok bahan mentah dan tempat berproduksi bagi industri Jepang. Indonesia perlu beranjak menjadi mitra yang makin berarti antara lain dalam proses produksi dan keahlian sumber daya manusia.

Ketua Asosiasi Jepang-Indonesia, yang juga mantan Perdana Menteri Jepang Yasuo Fukuda, seusai pembukaan pameran mengatakan, kerja sama erat Indonesia dan Jepang akan memperkuat kemampuannya untuk lolos dari ancaman krisis global yang saat ini terjadi.

Fukuda menilai perekonomian Indonesia masih relatif lebih baik dibandingkan sejumlah negara lain. Meskipun tak luput dari pengaruh memburuknya perekonomian global, dampak krisis diyakini Fukuda relatif lebih kecil bagi perekonomian Indonesia.

Indonesia masih memiliki modal kompetitif di tengah krisis, antara lain sumber daya alam, populasi yang besar dan masih tumbuh, serta fondasi sosial yang cukup kuat untuk menopang perekonomian. ”Jepang juga masih mempunyai kemampuan mengatasi masalah dalam krisis ini. Kerja sama di antara sesama negara yang masih punya kemampuan ini dapat memberi kontribusi lebih besar bagi kawasan regional, bukan sebatas bagi kedua negara,” ujar Fukuda.

Sebelum membuka pameran, Yudhoyono dan Fukuda bertemu empat mata. ”Presiden memberi penghargaan terhadap perhatian pribadi Fukuda kepada Indonesia,” ujar Juru Bicara Kepresidenan Dino Patti Djalal.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau