LAMONGAN - Indikasi makin dekatnya waktu pelaksanaan hukuman mati (eksekusi) terpidana Bom Bali I, Amrozi dan kawan-kawan (dkk), terlihat jelas di lapangan.
Sebuah landasan untuk pendaratan helikopter kemarin telah siap di dekat kampung halaman Amrozi di Desa Tenggulun, Kecamatan Solokuro, Lamongan.
Selain itu, tim penggali kuburan yang terdiri dari 16 orang juga telah siaga setiap saat andaikata eksekusi atas Amrozi dkk telah terjadi, dan jenazah dia serta kakaknya Mukhlas alias Ali Gufron dimakamkan di Tenggulun.
Menurut Kepala Desa (Kades) Tenggulun, Abu Sholeh, sebetulnya 16 penggali makam yang berasal dari warga desa setempat itu bukan dipersiapkan secara khusus terkait rencana eksekusi Amrozi dkk.
Mereka sudah biasa bekerja apabila ada warga yang meninggal dan dikuburkan di pemakaman desa.
Hanya saja, kata Abu Sholeh, para penggali kubur itu sudah mengetahui rencana eksekusi Amrozi dkk, sehingga sudah melakukan antisipasi.
“Kalau misalnya di antara mereka nanti sedang bekerja di sawah, mereka menyatakan siap berangkat ke kuburan untuk melakukan penggalian,” ucap Abu Sholeh kepada Surya, Sabtu (1/11).
Tim penggali makam itu berasal dari 8 RW di lingkungan Desa Tenggulun.
Masing-masing RW menyumbangkan dua warganya untuk masuk tim penggali. “Tim penggali makam ini bekerja dalam waktu bersamaan secara gotong royong. Dalam waktu 3 jam, biasanya penggalian sudah selesai,” terang Abu.
Sementara itu, landasan bagi pendaratan helikopter telah disiapkan di salah satu lapangan di Dusun Bango, Desa Payaman, yang bertetangga dengan Tenggulun. Lapangan desa tersebut bahkan sudah diberi tanda huruf H warna putih dari bubuk kapur. Lapangan tersebut diduga kuat bakal digunakan sebagai tempat pendaratan heli yang akan mengangkut jenazah Amrozi dan Mukhlas.
Pembuatan landasan itu dibenarkan oleh Kades Payaman, M Rofiq.
"Landasan itu dibuat pada Kamis (30/10) malam lalu. Tetapi saya tidak tahu siapa yang membuat huruf H untuk landasan," kata dia pada Surya, Sabtu (1/11) kemarin.
Sebelumnya, Kapolwil Bojonegoro, Kombes Pol Noer Ali mengatakan, pihaknya telah mempersiapkan tiga lokasi untuk landasan helikopter, namun dia tak menyebut lokasi persisnya.
Menurut Kepala Divisi (Kadiv) Humas Mabes Polri, Irjen Pol Abubakar Nataprawira, dua helikopter disediakan untuk mengangkut jenazah Amrozi cs dari Nusakambangan setelah eksekusi berlangsung. Penyediaan heli itu dilakukan karena diyakini tiga terpidana Bom Bali I (Amrozi, Mukhlas dan Imam Samudra) tak akan dimakamkan di Nusakambangan –tempat mereka menjalani hukuman selama ini.
"Kami fasilitasi untuk mengangkut jenazah dengan helikopter," kata Abubakar ketika dihubungi, Sabtu (1/11).
Abubakar menjelaskan, dua helikopter tersebut merupakan peralatan Polisi Udara Mabes Polri. Landasan helikopter juga sudah disiapkan di sekitar Lembaga Pemasyarakatan (LP) di Nusakambangan, Cilacap (Jawa Tengah).
“Satu heli akan menuju Lamongan dengan membawa Amrozi dan Mukhlas. Sedangkan satu heli lainnya akan menuju kampung halaman Imam Samudra di Serang, Banten,” ucap Abubakar.
Abubakar mengatakan jalur udara dipilih dengan alasan lebih cepat. Faktor keamanan juga menjadi alasan, namun bukan yang utama. "Biar cepat selesai saja dan segera dikuburkan," ujarnya.
Menurut Agus Setiawan dari Tim Pengacara Muslim (TPM) yang jadi kuasa hukum ketiga terpidana, Imam Samudra sudah memberikan tiga surat wasiat. Satu surat untuk TPM yang sudah dibuka menyatakan bahwa Imam ingin dikebumikan di kampungnya di Lopang, Serang.
Agus menuturkan, isi surat yang pernah dibacakan oleh Imam itu antara lain: kalau Aziz (Imam Samudera) meninggal untuk tidak ditangisi, bungkus jenazahnya dengan kain kafan yang paling murah saja, dan kemudian Imam ingin dimakamkan di kampungnya di Lopang, Serang. "Itu yang saya ingat."
Ustadz Chozin, kakak tertua Amrozi dan Mukhlas, mengatakan keluarga sejauh ini belum sampai pada pembicaraan tentang pelaksanaan eksekusi dan pemakaman. Namun, kata Chozin, wajar saja seandainya dua adiknya itu nanti minta dimakamkan di tempat asalnya. Seorang kakak Amrozi dan Nur Hasyim bapaknya, diketahui dikuburkan di pemakaman umum desa Tenggulun.
Yang jelas, menurut Chozin, keluarga di Lamongan belum diberitahu soal kapan persisnya waktu eksekusi meski Kejaksaan Agung telah menegaskan bahwa eksekusi akan dilakukan awal November –dan bahkan ketiga terpidana juga telah diisolasi di sel khusus yang steril dari para napi lainnya.
“Padahal, jika eksekusi akan dilaksanakan, kan harus ada pemberitahuan minimal 3x24 jam sebelumnya. Bagaimana mungkin kami bisa mengatakan bahwa eksekusi sudah dekat kalau pemberitahuan saja belum kami terima,” kata Ustadz Chozin saat dikontak Surya, Sabtu (1/11) malam..
Kendati demikian, imbuh Chozin, pihak keluarga akan berangkat ke Nusakambangan, Cilacap, pada Senin (3/11) mendatang. “Ini bukan karena kami tahu eksekusi sudah dekat tapi kami akan menyerahkan berkas Peninjauan Kembali (PK) keputusan eksekusi. “Kami tak akan datang rombongan. Mungkin satu atau dua wakil dari pihak keluarga, dan nanti akan ditemani Tim Pengacara Muslim (TPM),” jelas Chozin.
Di Tenggulun, desa yang sepi itu mulai dua hari terakhir berubah marak setelah ratusan personel media, baik cetak maupun elektronik, mulai mendatanginya. Mereka memburu kepastian hari H eksekusi selain juga membuat laporan harian terkait perkembangan situasi di sana. Namun aparat keamanan berseragam tidak satupun tampak. Hanya saja yang berpakaian preman tampak di sejumlah tempat.
Pemerintah Desa Tenggulun berharap eksekusi Amrozi dkk tidak berbarengan dengan pelaksaan Pilgub Jatim Putaran II pada 4 November mendatang. Sebab, hal itu berpotensi mengganggu pelaksanaan coblosan.
“Kalau dilaksanakan pas dengan hari H Pilgub, kami khawatir nanti angka golput meningkat karena warga beralih ingin melihat pemakaman Amrozi,” kata Abu Sholeh, Kades Tenggulun.(st3/ant)