Wiranto Akui Tersangkut sebagai Pemimpin Lama

Kompas.com - 02/11/2008, 12:00 WIB

JAKARTA, MINGGU - Ketua Umum DPP Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) Wiranto mengakui dirinya merupakan pemimpin lama , namun dengan semangat baru. "Saya pemimpin lama dengan semangat baru, stok lama tetapi semangat baru yang berpihak pada rakyat," kata Wiranto saat berpidato pada deklarasi Gerakan Nasional Relawan Pusat Operasi Penggalangan dan Sosialisasi (POS) Wiranto di Jakarta, Minggu (2/11).

Mantan Menko Polkam itu menyatakan bahwa hatinya nuraninya bersumpah untuk membela rakyat. "Hatinya terpanggil bila rakyat membutuhkan," kata mantan Panglima TNI itu.  Wiranto mengatakan pemimpin mendatang memang harus mengedepankan hati nurani rakyat.

Ia menegaskan bahwa rakyat ingin perubahan agar hidup lebih adil dan sejahtera serta mampu mewujudkan bangsa yang mandiri. Mantan Menteri Hankam itu menyatakan bahwa dia belum secara resmi mendeklarasikan diri sebagai calon presiden mendatang karena saat ini sedang fokus untuk memenangkan Pemilu Legislatif 9 April 2009.

Mengenai banyaknya permintaan rakyat kepada dirinya untuk menjadi presiden mendatang, Wiranto mengatakan tak dapat memungkiri hal itu dan ia menganggap permintaan itu sebagai aspirasi rakyat yang menginginkan perubahan di negeri ini.  "Mudah-mudahan dalam waktu yang tidak terlalu lama lagi saya akan menyampaikan deklarasi," katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau