TROWULAN, MINGGU - Direktur Jenderal Sejarah dan Purbakala Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Hari Untoro Dradjat mengatakan, benda cagar budaya tak cukup dipelajari sekolah-sekolah. Masyarakat perlu melihat langsung ke lapangan agar bisa menumbuhkan kebanggaan dan kecintaan kepada budaya bangsa.
"Di balik benda cagar budaya itu banyak pelajaran berharga yang bisa dipetik. Kita bisa melihat lebih jauh di sekitarnya. Misalnya situs-situs Kerajaan Majapahit. Di balik benda-benda cagar budaya ini kita bisa melihat sejarah tentang kota, perdagangan, dan sebagainya." katanya, Minggu (2/11) di Cagar Budaya Wringin Lawang, Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Provinsi Jawa Timur.
Hari menjelaskan, di Trowulan karena sangat banyak benda-benda dan bangunan candi peninggalan Kerajaan Majapahit, maka Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik, Senin (3/11) akan meletakkan batu pertama pembangunan Taman dan Pusat Informasi Majapahit. Menurut Dirjen Hari Untoro Dradjat, Majapahit tidak hanya sekadar jadi bahan kajian para arkeolog, tetapi juga informasi yang amat berguna bagi masyarakat umum, dan sebagai tujuan wisata yang menarik.
Tinggalan Kerajaan Majapahit sangat banyak, baik keramik, logam, bangunan, dan segala macam. Benda Cagar Budaya Wringin Lawang, misalnya, ini merupakan gerbang kota Majapahit.
"Tepat di tengah gerbang, pada saat bulan purnama di bulan Mei dan Juni setiap tahun, bulan terlihat indah sekali. Karena itu dinamakan kawasan Trowulan, yang artinya terang bulan," papar Hari. Dari aspek pelestarian, tinggalan budaya di wilayah Trowulan ini merupakan salah satu upaya pelestarian kota kuno masa klasik yang dimiliki Indonesia.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang