Megawati Terperosok, SBY Melesat

Kompas.com - 03/11/2008, 10:59 WIB

JAKARTA, SENIN — Enam bulan menjelang Pemilihan Umum Presiden 2009, peringkat Megawati dalam survei nasional (surnas) ketiga yang dilakukan Indonesian Research and Development Institute (IRDI) kembali terperosok. Sebaliknya, peringkat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono terus melesat.

Dalam survei yang berlangsung pada 6-13 Oktober 2008 terhadap 2.000 responden yang diambil secara proporsional ini, sebanyak 61,25 persen responden mengatakan akan memilih SBY jika pilpres yang hanya mencalonkan SBY dan Megawati berlangsung hari ini atau naik 8,56 persen dari surnas kedua. Sementara itu, responden yang memilih Megawati hanya 35,50 persen atau turun 7,54 persen dari surnas kedua.

Sementara itu, peringkat tingkat keterpilihan (elektabilitas) SBY tetap yang tertinggi. Ketika responden disodori pertanyaan setengah terbuka, yaitu jika pilpres dilakukan hari ini, 33 persen responden memilih SBY, 17,9 persen memilih Megawati, 5 persen memilih Wiranto, 4,7 persen memilih Prabowo Subianto, 2,8 persen memilih Hidayat Nur Wahid, 2,65 persen memilih Amien Rais, 2,45 persen memilih Abdurrahman Wahid, 1,6 persen memilih Sultan Hamengku Buwono X, 1,4 persen memilih Yusril Ihza Mahendra, 0,6 persen memilih Sutrisno Bachir, 0,45 persen memilih Sutiyoso, dan 0,15 persen memilih Rizal Mallarangeng.

Menurut Direktur IRDI Notrida Mandica Nur, hal itu tidak terlepas dari kesuksesan program-program kerja SBY, seperti program Bantuan Operasional Sekolah, buku murah, pemberantasan kemiskinan, dan pengendalian harga bahan pokok.

"Menurut temuan fakta di lapangan, hal ini tidak terjadi secara spontan. Mereka benar-benar merasakan adanya perubahan yang signifikan," ujar Notrida ketika jumpa pers Survei Politik Nasional III, Senin (3/11) di Jakarta.

Turut hadir dalam jumpa pers tersebut Wakil Sekretaris Jenderal Partai Golkar, Rully Khairul Azwar, dan Ketua DPP Partai Demokrat, Anas Urbaningrum.

Sementara itu, Jusuf Kalla dianggap sosok yang paling tepat untuk mendampingi SBY, yaitu 15,2 persen. Peringkat kedua dan seterusnya diduduki oleh Hidayat Nur Wahid sebesar 9,4 persen, Sultan Hamengku Buwono X (7,4 persen), Andi Mallarangeng (4,6 persen), Akbar Tanjung (4,4 persen), Fadel Muhammad (3,4 persen), Sutrisno Bachir (2,25 persen), Adhyaksa Dault (2,05 persen), Hasyim Muzadi (2 persen), Din Syamsuddin (1,8 persen), Rizal Mallarangeng (1,05 persen), Agung Laksono (1 persen), Aburizal Bakrie (1 persen), Anas Urbaningrum (0,75 persen), dan Hatta Radjasa (0,38 persen).

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau