SEORANG nenek berusia 60 tahun, Ny Karmilah, tewas kedinginan di rumahnya yang terkepung banjir, Senin (3/11) siang. Karmilah meninggal di lantai dua rumahnya yang berukuran 4 m x 4 m di Kampungpulo, Kampungmelayu, Jakarta Timur.
Hingga kemarin petang, suasana duka menyelimuti rumah kontrakan keluarga Karmilah di gang sempit di RT 08 RW 02 Kampungpulo, Kelurahan Kampungmelayu, Kecamatan Jatinegara. Rumah kecil di dekat bantaran Kali Ciliwung itu ditinggali Karmilah dan suaminya, Jalil (60), serta Sutinah (35), anak pertama, dan Lilis Pratiwi (9), anak Sutinah.
Menurut Sutinah, Minggu malam ia dan ibunya tidur di lantai bawah. Saat itu Kali Ciliwung sudah meluap, tetapi belum sampai ke rumahnya. "Saya bersama ibu dan anak saya tidur di bawah beralaskan kasur lipat," ucapnya, sedangkan Jalil tidur di lantai atas. Sekitar pukul 05.00 Sutinah terjaga karena mendengar suara gemericik air. "Saya langsung bangkit dan membangunkan ibu dan anak saya. Bu... bu... bangun, banjir datang," tutur Sutinah sambil menitikkan air mata.
Sudah setahun terakhir, Karmilah lumpuh di kedua kakinya. Oleh karena itu, pada pagi itu Karmilah tak mampu menyelamatkan diri. Sementara itu, Sutinah hanya mampu memapah ibunya sampai anak tangga terbawah. Karmilah lalu disandarkan ke tembok. "Saya lalu pergi memanggil adik saya, sementara ibu ditemani anak saya. Saya tidak minta bantuan ke tetangga karena mereka juga sedang sibuk," tutur Sutinah.
Saat ditinggal pergi oleh Sutinah, Karmilah masih mengenakan pakaian yang ia kenakan saat tidur, yakni pakaian dalam dibalut kain. Di anak tangga tersebut, Karmilah yang kakinya terendam air sempat bercanda dengan sang cucu. Sekitar jam 06.00, Sutinah dan adiknya, Rusdi, datang. Saat itu ketinggian air di kawasan padat penduduk tersebut sudah sekitar setengah meter. Rusdi segera membopong ibunya ke lantai atas.
"Waktu saya angkat, ibu saya menggigil dan bilang kedinginan... kedinginan..," kata Rusdi.
Di lantai atas, Sutinah menggantikan baju sang ibu dan memasangkan selimut. Menurut Sutinah, selain mengeluh kedinginan, Karmilah juga mengeluhkan nyeri di perut. "Ibu cuma sempat makan lontong sayur, itu juga cuma sedikit karena mulutnya lagi enggak enak buat makan," katanya.
Sekitar pukul 14.00 Sutinah membangunkan ibunya untuk diajak makan siang. Namun, Karmilah tidak bergerak dan tak menunjukkan tanda-tanda masih bernapas. Sutinah pun menjerit menangisi kepergian ibunya. Jalil mengaku bangun ketika istrinya sudah diangkat ke lantai dua. "Pagi itu saya tidak dengar ada banjir. Saya tidur pulas sekali karena lelah bekerja," ucap sopir bajaj ini.
Ketua RT 08 RW 02 Abdul Qodir mengatakan, pada Minggu sore pengurus lingkungan sudah mengumumkan kepada warga akan kemungkinan datangnya banjir. "Itu sudah menjadi prosedur tetap," katanya. Pengumuman tersebut disampaikan melalui pengeras suara di musala.
Banjir melanda Kampungpulo sejak Minggu malam. Luapan Kali Ciliwung mulai menjalar ke rumah warga dari jam 23.00. Rumah kontrakan keluarga Karmilah termasuk paling dekat dengan Kali Ciliwung. Hampir tiap tahun Kampungpulo dilanda banjir.
"Banjir besar baru hari ini terjadi. Kemarin-kemarin sih luapan Kali Ciliwung tidak sampai ke sini, paling cuma di pinggiran kali. Kalau sudah begini, ya kami mulai waspada karena biasanya ini akan terus terjadi. Saya pribadi sih waswas karena banjir selalu datang pada malam hari, saat kami sedang tidur," ucap Ny Febi, warga Kampungpulo.
Sabeni, warga Kampungpulo, minta pemerintah mengeruk Kali Ciliwung. "Kali Ciliwung di bagian sini dangkal sekali Mas. Saya dengar di media massa program antisipasi banjir sudah dilakukan, tetapi di sini kok tidak ada apa-apanya," katanya.
Haris, Ketua RW 01 Kampungpulo, mengatakan, ada delapan RW di wilayah Kelurahan Kampungmelayu yang terendam banjir, di antaranya RW 01 di belakang RS Hermina, RW 02 dan 03 yang mencakup Kampungpulo, dan di RW 04, 05, 07, 08 yang termasuk kawasan Kebonpala, serta RW 06 di dekat rel kereta api.
Kemarin, banjir di Kampungpulo mulai surut dari jam 15.00. Namun, kata Haris, pada pukul 18.00 ada informasi bahwa ketinggian air di Bedung Katulampa, Bogor, naik lagi. "Kami tetap siaga karena hujan di Bogor dan Depok kelihatannya mulai turun setiap hari," tuturnya.
Sementara itu, Kepala Stasiun Klimatologi Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Bogor Endang Suprapti mengeluarkan peringatan bagi masyarakat yang tinggal di tepi sungai-sungai yang berhulu di wilayah Bogor untuk mewaspadai banjir bandang. Menurut Endang, dalam beberapa hari terakhir curah hujan di Bogor di atas normal.
"Pada 1 dan 2 November curah hujan di kawasan ini sekitar 109 milimeter per hari. Ini artinya sudah di atas normal karena biasanya di bawah 100 milimeter per hari," katanya ketika dihubungi Warta Kota, Senin. "Tingginya intensitas hujan di kawasan Puncak membuat volume air di sungai meningkat. Kalau intensitas terus di atas normal, bisa terjadi banjir bandang," imbuh Endang.
Kemarin, Bendung Katulampa di Bogor Timur berstatus waspada pada pukul 13.00 hingga pukul 17.00 karena ketinggian air di bendung mencapai 100 cm. Namun, pada pukul 17.00 ketinggian air di bendung tersebut menjadi 70 cm. "Ini disebabkan di kawasan Puncak hujan deras," kata petugas Bendung Katulampa, Andi Sudirman. (DEN/AKN)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang