JUTAAN jemaah haji tahun 2007 merasakan kenikmatan tersendiri di Masjid Nabawi di Madinah Al-Munawarrah. Mereka, di antaranya sekitar 210.000 dari Indonesia, dapat shalat dan berdoa di dalam Masjid Nabawi 24 jam sehari penuh.
Tahun lalu, Pemerintah Arab Saudi membuka Masjid Nabawi satu hari penuh. Jemaah haji pun bisa masuk dan memuaskan diri untuk shalat dan berdoa kapan saja, termasuk tengah malam.
Tidak mengherankan bila di tengah malam dalam suhu udara sangat dingin waktu itu berkelebat bayangan jemaah haji yang bergegas masuk ke masjid. Mereka berniat beribadah di Raudah, Taman Surga, tempat yang selalu diperebutkan yang ada di dalam masjid. Semoga kali ini dan seterusnya masjid yang agung itu buka sehari penuh.
Sebelumnya, masjid yang juga tempat dimakamkannya Rasulullah Muhammad SAW beserta Abu Bakar al-Shiddiq dan Umar bin Khattab, dua sahabat Nabi itu, hanya dibuka pada jam-jam tertentu, menjelang shalat subuh (sekitar pukul 03.00) hingga setelah Iisya (sekitar pukul 22.00).
Meski demikian, karena tempat untuk berziarah ke makam Rasulullah Muhammad SAW dan melaksanakan shalat serta berdoa di Raudah sangat terbatas, tidak sebanding jumlah jemaah haji, maka tetap saja ada ujian kesabaran. Kesempatan untuk jemaah pria dan wanita digilir. Kesempatan untuk jemaah perempuan lebih lama dari masa lalu.
Rasulullah Muhammad SAW dimakamkan bersama Abu Bakar dan Umar bin Khattab di satu kamar dari tiga bangunan semacam kamar yang ada di dalam Masjid Nabawi. Tempat pemakaman itu semula merupakan bagian dari rumah Nabi beserta Aisyah, istrinya. Sekarang, makam itu terletak di tengah, diapit dua kamar yang lain. Kamar-kamar itu tidak tertutup rapat, tetapi masing-masing dikelilingi semacam pagar tralis rapat lengkap dengan celah-celahnya.
Sambil terus berjalan perlahan dan berselawat, jemaah bisa menyaksikan makam Rasulullah dan kedua sahabatnya itu melalui celah pagar tralis. Jemaah tidak boleh lama diam di dekat makam Nabi. Ada ratusan orang lainnya menunggu di belakang, juga akan berziarah dan berselawat.
Nabi Muhammad SAW wafat dan dimakamkan di situ sejak tahun 632 di usia hampir 63 tahun. Dua tahun kemudian, Abu Bakar, sahabat seperjuangan Nabi, yang juga mertua Nabi karena dia adalah ayah Aisyah, wafat dan dimakamkan di dekat Nabi. Dua belas tahun sesudah Nabi wafat, khalifah Umar bin Khattab juga wafat. Jenazah Umar dimakamkan di sebelah Abu Bakar.
Dari buku Sejarah Masjid Nabawi karangan Dr Muhammad Ilyas Abdul Ghani yang diterbitkan di Arab Saudi, Rasulullah meninggal pada hari Senin dan dimakamkan Selasa.
Semula ada sahabat yang mengusulkan agar jenazah Nabi dimakamkan di mimbar Masjid Nabawi. Sahabat lain mengusulkan di Baqi, yang letaknya tidak jauh dari Masjid Nabawi. Akan tetapi, kemudian, Abu Bakar menyampaikan wasiat Nabi. Abu Bakar berkata, ”Aku mendengar Rasulullah Muhammad SAW bersabda, tak seorang pun Nabi yang meninggal kecuali akan dikebumikan di tempat dia meninggal.”
Semua sahabat setuju dengan ucapan Abu Bakar yang terkenal jujur, tidak pernah berbohong sedikit pun. Maka, Rasulullah dimakamkan di tempat dia meninggal, di kamar Aisyah.
Aisyah sendiri tidak dimakamkan di situ. Istri Rasulullah itu dimakamkan di Baqi bersama syuhada pejuang Islam lain.
Dari luar masjid, lokasi makam Rasulullah dan dua sahabatnya itu mudah dikenali oleh jemaah, yakni dari kubah berwarna hijau yang ada di atap masjid. Di bawah kubah hijau itulah letak makam yang selalu diziarahi jemaah ketika berada di Masjid Nabawi.
Raudah
Raudah adalah ruang di antara mimbar dan rumah Rasulullah. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah, Rasulullah pernah bersabda, ”Di antara rumah dan mimbarku adalah taman dari taman-taman surga, dan mimbarku di atas telagaku.”
Tidak mengherankan bila jemaah di Masjid Nabawi berusaha keras untuk bisa melaksanakan shalat dan berdoa di Raudah. Berdoa di Raudah diyakini akan dikabulkan Allah SWT, dan jejak jemaah yang beribadah di situ akan tampak di surga kelak.
Saat ini, taman surga yang berukuran sekitar 15 x 22 meter itu ditandai dengan tiang-tiang berwarna putih. Berlokasi antara makam hingga mimbar (mihrab) Nabi. Ketika membangun Masjid Nabawi tahun 622, Nabi tidak membuat mihrab, tetapi ia selalu berdiri dan menjadi imam shalat di tempat yang sama itu. Tempat Nabi berdiri itulah yang kemudian dibangun menjadi mihrab, berbentuk setengah lingkaran.
Bambang SP Wartawan, Jemaah Haji Tahun 2007
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang