Sultan dan Pangeran Charles Bicarakan Keberagaman Agama

Kompas.com - 05/11/2008, 00:07 WIB

YOGYAKARTA, SELASA--Sri Sultan Hamengku Buwono X seusai menerima kunjungan Pangeran Charles (60) dari Inggris dan rombongan di Kraton Yogyakarta, Selasa mengatakan, hal yang dibicarakan dengan tamunya adalah mengenai keberagaman beragama di Indonesia pada umumnya dan khususnya di Yogyakarta.

"Beliau sudah memahami dan telah mendapatkan informasi bahwa kita di Yogyakarta telah mengembangkan dialog antar agama," kata Sultan kepada wartawan di Kraton Yogyakarta.

Kata Sultan, mengembangkan dialog antar agama menjadi prioritas dalam kehidupan antar umat beragama.

Ia mengatakan Pangeran Charles memiliki tim yang nantinya akan melakukan dialog mengenai keberagaman beragama yang direncanakan berlangsung di London. "Tim itu terdiri pakar dari Oxford University dan Imam masjid di London," katanya.

Menurut dia, mereka juga minta apakah bisa Oxford University yang memiliki studi masalah agama bekerjasama dengan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta yang juga memiliki program studi agama dan lintas budaya pada sekolah pascasarjana, untuk mengembangkan program doktor.

"Hanya itu yang dibicarakan, tidak ada topik lain," kata Sultan HB X.

Pada kesempatan itu, Pangeran Charles juga berdialog dengan enam mahasiswa S2 dan S3 Program Studi Agama dan Lintas Budaya Sekolah Pascasarjana UGM Yogyakarta.

Dialog berlangsung di Gedong Jene Kraton Kasultanan Yogyakarta, tempat Sultan HB X menerima kunjungan Pangeran Charles beserta rombongan.

Ketika Sultan ditanya wartawan apakah diundang pada dialog di London nanti, ia menjawab tidak diundang.

Dalam kunjungannya ke Kraton Yogyakarta, Pangeran Charles dan rombongan menyaksikan Tari 'Golek Menak Rengganis' karya Sultan HB IX.

Penarinya empat orang, yaitu dua perempuan yang memerankan tokoh satria, dan dua laki-laki berperan sebagai burung garuda. Tarian ini berlangsung sekitar 15 menit.

Pangeran Charles yang mengenakan setelan jas berwarna krem, ketika menyaksikan tarian itu didampingi tuan rumah Sultan HB X yang mengenakan pakaian tradisional Jawa, yaitu surjan bermotif kembang dengan dominasi warna jingga lengkap dengan blangkon serta kain batik bermotif parang rusak.

Sedangkan permaisuri Sultan HB X, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas mengenakan kebaya warna jingga dengan kain batik yang motifnya sama dengan yang dipakai Sultan.

Seusai bertemu Sultan HB X di Kraton Kasultanan Yogyakarta, Pangeran Charles dan rombongan mengunjungi obyek wisata Tamansari yang lokasinya masih di kompleks kraton.

Setelah itu mengunjungi Pondok Pesantren Ali Maksum di Krapyak, Kabupaten Bantul, Daerah Isimewa Yogyakarta (DIY).

Dijadwalkan seusai mengunjungi Ponpes Ali Maksum, Pangeran Charles beserta rombongan berwisata ke Candi Borobudur di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Seusai mengunjungi Candi Borobudur, tamu negara tersebut langsung menuju Bandara Adisutjipto Yogyakarta untuk kemudian kembali ke Jakarta.

Duta Besar Inggris untuk Indonesia Martin Hatfull ikut mendampingi kunjungan Pangeran Charles ke Yogyakarta.(ANT)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau