Strategi Jitu Hingga 4 November

Kompas.com - 05/11/2008, 04:00 WIB
Simon Saragih

Kemenangan Barack Obama atas Hillary Clinton sebenarnya cukup mencengangkan wartawan, sejarawan, dan ”blogger”. Mengapa Obama menang atas Hillary? Jonathan Alter menuliskannya di Newsweek Web Exclusive, 5 Juni 2008. Faktor-faktor itu terus diterapkan kubu Obama dalam menghadapi pesaingnya, John McCain.

Menurut Alter, pesan perubahan yang diusung Obama jauh lebih superior sepanjang tahun 2008 ketimbang pesan Hillary soal pengalaman yang dia elu- elukan. Hillary salah dengan menganggap dirinya lebih berpengalaman daripada Obama.

McCain yang juga menerapkan strategi mengandalkan pengalaman seperti Hillary akhirnya mengusung ide perubahan, seperti menjanjikan perubahan dan menunjuk Sarah Palin sebagai simbol perubahan itu.

Dengan mayoritas warga mengatakan negara ada di jalan yang salah, pemilu ini adalah pemilu perubahan. Bahkan, McCain pun mengakui bahwa negara ada di jalur yang salah.

Obama sempat terancam karena dipicu ucapan Hillary bahwa perubahan yang ditawarkan Obama kabur dan sekadar retorik. Namun, kombinasi pidato hebat pada awal tahun 2007, rancangan situs yang andal membuktikan Obama lebih kuat karena dia memajang pesan-pesan secara baik di situsnya.

Jonathan Alter mengatakan, inspirasi yang diusung Obama lebih kuat ketimbang restorasi Dinasti Clinton. Peran akan sebuah harapan lebih menggigit ketimbang nostalgia yang didambakan Hillary soal kejayaan Bill Clinton.

Organisasi

Keunggulan Obama adalah dalam organisasi yang ditata mulai dari puncak hingga ke bawah. Selain memiliki pimpinan organisasi yang andal, petugas operasional di lapangan juga ditata rapi. Organisasi melibatkan siapa saja, etnis, usia, dan ras dari segala umur.

Superioritas Obama dalam perencanaan dan organisasi terlihat jelas mulai dari penggalangan dana yang mencengangkan, upaya mendekati delegasi, hingga pemanfaatan jaringan sosial, termasuk komunitas di internet (Facebook, Twitty, dan lainnya). Ada banyak orang yang ditugaskan melakukan itu.

Bentuk organisasi dengan 700 anggota adalah salah satu kisah kesuksesan Obama yang tidak diketahui banyak orang. Untuk memahami keandalan organisasi ini terlihat dari rata-rata kemenangan Obama dengan selisih 20 persen atau lebih pada 21 kemenangan di pemilu pendahuluan menghadapi Hillary. Hillary hanya punya lima kemenangan dengan selisih suara 20 persen atau lebih.

Kepribadian yang kuat

Salah satu alasan keandalan organisasi Obama adalah kekuatan kepribadian orang-orang yang masuk ke dalam organisasi Obama. Organisasi memastikan, setiap orang harus tenang serta saling bekerja sama dan dari awal harus diketahui jika ada yang melanggar aturan. Risikonya adalah keluar dari organisasi. Hanya ada sekitar tiga orang yang harus di depan, sebuah angka yang kecil dan menunjukkan rancangan organisasi yang bagus.

Tentu Obama sendiri adalah pribadi yang tenang. Dia kukuh soal itu. Banyak yang tidak paham manfaat dari ketenangan ini, yang sangat menolong dalam politik, yang pada umumnya mengandalkan penampilan dan sex appeal. Dia tak mau terlihat terlalu bersemangat dan tetap tampil tenang, ini penting bagi seorang bintang. Andaikan dia kehilangan ini, hasil mungkin akan beda.

Kejujuran

Obama tidak terlalu mudah dijangkau wartawan. Sebagai kandidat yang mendambakan transparansi, Obama seharusnya lebih banyak menggunakan media. Akan tetapi, Obama tidak berbohong dan tidak menghindari persoalan demi tujuan politiknya semata. Warga mencium ketulusan ini. Ini adalah keunggulan besar bagi seorang politisi.

Setelah Obama memenangi 11 pemilihan pendahuluan hingga pada Februari, kampanye kelihatan sudah berakhir. Namun, Obama tidak takabur.

Hillary telah menggali lubang sendiri. Kecaman bertubi-tubi kepada Obama membuat warga menilai Hillary terlalu kasar kepada Obama. Ini adalah salah satu alasan mengapa Hillary kalah di Iowa, sebuah negara bagian yang menghukum kandidat yang tak ramah.

Ketika mengumumkan pencalonan pada awal tahun 2007, Hillary mengatakan, ”Saya mencalonkan diri untuk menang.” Tak ada orang lain yang akan mengalahkan saya, itulah pesan pernyataan Hillary. Mengapa pula dia mendaulat sebagai calon terbaik. Pemilih tak ingin didikte. Ini paling tidak disukai, khususnya pemilih berpendidikan.

Strategi Hillary sangat buruk. Kubu Hillary merasa Obama sudah pasti kalah pada Super Tuesday, pemilu serentak di 22 negara bagian. Jika ini terjadi, Obama akan dipaksa secara moral mengundurkan diri. Karena itu, Hillary tak merasa perlu memperkuat organisasi. Ini bisa saja masuk akal pada tahun 2006 ketika Hillary adalah calon paling didambakan.

Namun, pada awal tahun 2007 jelas Obama mencuat dengan jaringan internet sebagai bagian penggalangan dana yang didapat dalam jumlah besar. Keyakinan tradisional bahwa seorang calon mengundurkan diri secara dini dan kekurangan dana adalah sebuah taktik yang salah.

Kadang organisasi media Hillary membentak media dan melecehkan wartawan televisi. Ini yang kemudian membuat wartawan amat jengkel.

Hillary juga dituduh arogan dan tidak melakukan penyesuaian secara cepat. Ini membuat para penyumbang berpikir dua kali. Sikap bermusuhan dengan media membuatnya tidak diminati warga yang independen dan delegasi super.

Strategi Obama pada pemilu 4 November juga melanjutkan, bahkan mengembangkan dari yang telah dilakukan. Obama makin memanfaatkan jaringan apa pun untuk bisa mengalahkan McCain.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau