JAKARTA, RABU — Harga pertamax sudah turun menjadi Rp 7.000 per liter pada awal November lalu, sedangkan harga BBM bersubsidi yakni premium masih Rp 6.000 per liter. Tak heran, beda seribu rupiah membuat konsumen yang biasanya memakai premium beramai-ramai beralih ke pertamax.
Seperti diungkapkan Toni (36), harga yang cuma beda tipis dan manfaat penggunaan pertamax menjadi pertimbangan ia beralih menggunakan pertamax. "Karena oktannya lebih tinggi, jadi pembakaran kan lebih bagus, lebih iritlah pokoknya, tarikan mesinnya juga enak. Kalau biasa pake premium isi full tank Rp 20 ribu, biasanya untuk 3-4 hari cuma bolak-balik kantor rumah, kalo pertamax bisa 5 hari, lumayanlah," jelas pria yang berkantor di daerah Sudirman ini.
Selain itu, menurut Masduki (45), pertamax bisa menjaga mesin lebih awet dan tentunya alasan berhemat. "Bener-bener nyaman pake pertamax, memang mesin agak kaget, tapi lama-lama juga biasa. Kalau hemat gini kan uangnya bisa untuk yang laen, biaya sekolah anak misalnya," tutur pria yang tinggal di Rawabelong, Jakarta Barat ini.
Ia menuturkan akan beralih kembali menggunakan premium kalau memang harganya akan turun menjadi Rp 5 ribu. "Wah, kalau rakyat kecil kayak kita-kita ini nyarinya yang murah aja, kebutuhan bahan bakar kan utama, harusnya memang pemerintah nurunin BBM bersubsidi seperti premium, jadi beban rakyat sedikit dikurangilah, masak harganya cuma beda seribu dengan pertamax," tutur pria yang bekerja di perusahaan asuransi ini.
Sampai saat ini, pemerintah masih merencanakan akan menurunkan harga BBM bersubsidi seperti premium sekitar Rp 500-800 per liter. Pertimbangan penurunan ini untuk periode November-Desember 2008 dengan asumsi harga minyak dunia 70 dollar AS per barel dan nilai tukar rupiah terhadap dollar Rp 10 ribu. Sedangkan faktor yang mempengaruhi penurunan BBM bersubsidi antara lain ICP, kurs dollar dan jenis BBM yang akan diturunkan harganya.