JAKARTA, RABU - PT Garuda Indonesia memperkirakan, pertumbuhan penumpang internasional, khususnya ke Indonesia yang menggunakan maskapai ini akan terganggu pada 2009 sebagai dampak krisis global saat ini.
"Dampaknya, kami perkirakan, penumpang in bound (masuk ke Indonesia) tahun depan, akan terkoreksi pertumbuhannya," kata Direktur Utama PT Garuda Indonesia, Emirsyah Satar kepada pers usai Penandatanganan MoU antara PT Garuda Indonesia dengan Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) di Jakarta, Rabu (5/11).
Namun, Ermirsyah menegaskan, pertumbuhan yang terkoreksi tersebut, terutama disebabkan negara-negara pasar penerbangan Garuda seperti Korea, Jepang dan Australia, mata uangnya terdepresiasi signifikan akibat krisis global. "Angkanya sekitar 25-35 persen. Ini signifikan dan bisa berpengaruh pada kemampuan daya beli, termasuk untuk keperluan berwisata," kata Emirsyah.
Sementara itu, pertumbuhan domestik, kata dia, relatif tidak berpengaruh. Bahkan, kondisinya cenderung membaik karena pada 2009, situasinya diuntungkan oleh pesta politik dan demokrasi 2009 berupa Pemilu dan semangat otonomi daerah. "Bakal banyak perjalanan yang diperlukan oleh bangsa ini," kata Emirsyah.
Hal itu, kata Emirsyah, tecermin dari apa yang terjadi tahun ini. "Target keutungan operasi kita, sepertinya melebihi target," kata Emirsyah.
Dia menyebut, laba usaha operasi pada tahun ini diperkirakan melebihi target sebesar Rp290 miliar.
Hanya saja dia menambahkan, terkait dengan kondisi nilai tukar rupiah terhadap dollar AS yang akhir-akhir ini melemah, orang nomor satu di Garuda ini memperkirakan, jika di atas Rp10 ribu/dollar AS, Garuda akan mengali rugi kurs.
"Rugi kursnya hanya dalam neraca atau tidak ada uang yang dikeluarkan, terutama forex loss terhadap utang Garuda yang didominasi dolar AS," katanya.
Catatan menunjukkan, utang Garuda ke sejumlah kreditor asing dan dalam negeri saat ini nilainya mencapai 763 juta dollar AS. Rinciannya antara lain, Garuda berutang kepada European Export Credit Agency (ECA) sebesar 510 juta dollar AS dan ke sejumlah pemegang surat utang (promissory notes) 130 juta dollar AS. Selain itu, Garuda juga punya utang ke Export Development Canada sebesar 12 juta dollar AS.
Tidak hanya itu, maskapai pelat merah ini juga berutang kepada para pemegang mandatory convertible bonds (MCB) seperti Bank Mandiri, Angkasa Pura I dan II, yang jumlahnya mencapai 131 juta dollar AS.
Sedangkan sisanya, sekitar 100 juta dollar AS adalah utang ke sejumlah kreditor dalam negeri lainnya, yakni BRI, BNI, dan Pertamina.