Pertumbuhan Penumpang Internasional Terganggu

Kompas.com - 05/11/2008, 19:52 WIB

JAKARTA, RABU - PT Garuda Indonesia memperkirakan, pertumbuhan penumpang internasional, khususnya ke Indonesia yang menggunakan maskapai ini  akan terganggu pada 2009 sebagai dampak krisis global saat ini.
   
"Dampaknya, kami perkirakan, penumpang in bound (masuk ke Indonesia) tahun depan, akan terkoreksi pertumbuhannya," kata Direktur Utama PT Garuda Indonesia, Emirsyah Satar kepada pers usai Penandatanganan MoU antara PT Garuda Indonesia dengan Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) di Jakarta, Rabu (5/11).
   
Namun, Ermirsyah menegaskan, pertumbuhan yang terkoreksi tersebut, terutama disebabkan negara-negara pasar penerbangan Garuda seperti Korea, Jepang dan Australia, mata uangnya terdepresiasi signifikan akibat krisis global. "Angkanya sekitar 25-35 persen. Ini signifikan dan bisa berpengaruh pada kemampuan daya beli, termasuk untuk keperluan berwisata," kata Emirsyah.
   
Sementara itu, pertumbuhan domestik, kata dia, relatif tidak berpengaruh. Bahkan, kondisinya cenderung membaik karena pada 2009, situasinya diuntungkan oleh pesta politik dan demokrasi 2009 berupa Pemilu dan semangat otonomi daerah. "Bakal banyak perjalanan yang diperlukan oleh bangsa ini," kata Emirsyah.
   
Hal itu, kata Emirsyah, tecermin dari apa yang terjadi tahun ini. "Target keutungan operasi kita, sepertinya melebihi target," kata Emirsyah.
   
Dia menyebut, laba usaha operasi pada tahun ini diperkirakan melebihi target sebesar Rp290 miliar.
   
Hanya saja dia menambahkan, terkait dengan kondisi nilai tukar rupiah terhadap dollar AS yang akhir-akhir ini melemah, orang nomor satu di Garuda ini memperkirakan, jika di atas Rp10 ribu/dollar AS, Garuda akan mengali rugi kurs.
   
"Rugi kursnya hanya dalam neraca atau tidak ada uang yang dikeluarkan, terutama forex loss terhadap utang Garuda yang didominasi dolar AS," katanya.
   
Catatan menunjukkan, utang Garuda ke sejumlah kreditor asing dan dalam negeri saat ini nilainya mencapai 763 juta dollar AS. Rinciannya antara lain, Garuda berutang kepada European Export Credit Agency (ECA) sebesar 510 juta dollar AS dan ke sejumlah pemegang surat utang (promissory notes) 130 juta dollar AS.  Selain itu, Garuda juga punya utang ke Export Development Canada sebesar 12 juta dollar AS.
   
Tidak hanya itu, maskapai pelat merah ini juga berutang kepada para pemegang mandatory convertible bonds (MCB) seperti Bank Mandiri, Angkasa Pura I dan II, yang jumlahnya mencapai 131 juta dollar AS.     
   
Sedangkan sisanya, sekitar 100 juta dollar AS adalah utang ke sejumlah kreditor dalam negeri lainnya, yakni BRI, BNI, dan Pertamina.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau