Impor Batu Bara Harus Dibatalkan

Kompas.com - 05/11/2008, 20:26 WIB

KPK-N; batalkan impor batubara

JAKARTA, RABU - Komite Penyelamat Kekayaan Negara (KPK-N) menyesalkan rencana impor batu bara yang akan dilakukan Perusahaan Listrik Negara (PLN). Hal itu dinilai merupakan pelecehan terhadap konstitusi, khususnya pasal 33 UUD 1945.

"Bagaimana mungkin kita sebagai salah satu negara pengekspor batu bara terbesar kelima di dunia, justru harus mengimpor bahan baku tersebut hanya karena kontraktor-kontraktor swasta/asing penambang SDA milik rakyat, tidak bersedia menjual kepada PLN karena harganya lebih murah?" ujar Koordinator KPK-N Marwan Batubara, Rabu (5/11).

Seperti diberitakan, PLN segera mengundang pemasok batu bara dari Australia, China, India dan negara lain, karena gagal memperoleh pasokan dari produsen domestik untuk mengoperasikan sejumlah pembangkit listrik.

"Ini jelas sangat memperihatinkan ditengah kondisi ekonomi negara yang terancam dampak krisis keuangan global," ujar Marwan.

Marwan mengatakan, lebih dari 74 persen produksi batu bara Indonesia justru diekspor dan hanya 25,33 persen sebagai konsumsi domestik. KPK-N menilai Menteri ESDM tidak mampu dan gagal menegakkan peraturan dan kontrak PKP2B termasuk pengaturan tentang domestic market obligation (DMO). Juga kementerian BUMN gagal menyinergikan seluruh BUMN yang terkait sesuai konsep Indonesia Incorporated yang selama ini diusung, sesuai pasal 33 UUD 1945.

"SBY-JK tampaknya tidak mampu mengendalikan dan mengarahkan menteri-menteri ESDM, Keuangan, BUMN, dan Perdagangan, demi mengamankan sektor energi yang demikian strategis bagi kepenitngan negara dan rakyat," tegas Marwan.

Selanjutnya KPK-N, kata Marwan yang juga anggota DPD RI itu, minta segera batalkan rencana impor batubara itu dan meminta Presiden SBY menjalankan pemerintahan sesuai konstitusi, mengutamakan kepentingan negara dan rakyat serta bertindak tegas terhadap menteri yang diduga telah bertindak merugikan negara.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau