Pemakzulan terhadap Presiden Takkan Dilupakan

Kompas.com - 06/11/2008, 11:16 WIB

JAKARTA, KAMIS — Ketua Badan Penelitian dan Pengembangan Partai Amanat Nasional Sayuti Asyathri di Jakarta, Kamis (6/11), menyatakan tidak akan melupakan proses pemakzulan yang pernah diungkapkannya. Pasalnya, langkah presiden yang mengintervensi proses pemilu tidak bisa didiamkan saja.

"Proses itu bisa menjadi preseden meskipun yang diintervensi terjadi di Maluku Utara dan sangat jauh dari Jakarta. Namun, jangan lupa, Maluku Utara adalah bagian Negara Kesatuan Republik Indonesia," ujarnya.

Teguhnya Sayuti mengusul pemakzulan terhadap presiden bukan karena adanya dendam pribadi atau tidak bisa menerima kekalahan.

"Preseden yang dipakai untuk melantik Gubernur Maluku Utara yang mendasarkan pada penghitungan suara di sebuah hotel di Jakarta dan tanpa saksi, itu sangat menyakitkan dan merusak sistem pemilu. Kalau ini tetap dibiarkan, apa jadinya sistem pemilu kita. Peserta pemilu tidak akan memiliki jaminan lagi kalau proses pemilu tidak diintervensi pemerintah," ujarnya.

Menurut Sayuti, pemeritah selalu mengatakan bahwa keputusannya itu berdasarkan keputusan Mahkamah Agung. Ini jelas menyesatkan. Pasalnya, satu-satunya keputusan MA terkait dengan Pilkada Maluku Utara adalah memerintahkan penghitungan ulang.

"Dan, penghitungan ulang sudah dilakukan yang melibatkan penyelenggara pemilu yang sah dan saksi-saksi. Namun, penghitungan ulang yang memenangi Abdul Ghafur ini tidak dipakai pemerintah, bahkan mereka memakai penghitungan ulang di hotel di Jakarta oleh anggota penyelenggara yang sudah diberhentikan KPU dan tanpa saksi," ujarnya.

"Ini jelas tidak betul karena itu tidak bisa didiamkan saja. Kebenaran ini akan terus diperjuangkan meskipun seorang diri," kata Sayuti.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau