Belanja Kebutuhan si Kecil Lewat Dunia Maya: Telepon, Barang Pun Datang (2)

Kompas.com - 06/11/2008, 16:05 WIB

Lain lagi Nico Winata Japar. Lewat www.homekios.com, pengusaha muda ini memilih menjual berbagai produk perawatan dan kebutuhan bayi, mulai dari toiletries, diapers, susu, bahkan vitamin.

Keberanian membidik pasar bayi dan batita ini diakui Nico karena ia tahu betul bagaimana para orang tua selalu menomorsatukan kebutuhan sang buah hati.

"Orang tua sebisa mungkin tak mengganti, apalagi mengurangi, apa pun yang jadi keperluan buah hatinya. Ini berbeda dengan orang dewasa yang bisa mengurangi atau meniadakan kebutuhannya jika kocek sudah tidak menyanggupi," ujar pria lulusan Universitas Petra, Surabaya ini.

Selain itu, Nico juga menangkap peluang besar saat melihat gaya hidup banyak pasangan muda di Jakarta."Saya mendengar banyak keluhan dari mereka yang kerepotan meluangkan waktu berbelanja ke supermarket, sepulang dari kantor. Belum lagi banyak juga kasus si anak butuh sesuatu mendadak, semisal diapernya habis, padahal jarak kantor dan rumah cukup jauh," cerita Nico.

Repot Banting Harga

Dari sinilah Nico memutuskan membuka usaha online kebutuhan bayi. "Melihat banyaknya pasangan yang bekerja sekarang ini, mereka pasti tidak punya banyak waktu untuk berbelanja barang kebutuhan anaknya. Oleh karena itu, kami berusaha menyediakan segala perlengkapan bayi yang dapat diantar hingga ke tempat tujuan," kata pria asal Surabaya ini.

Ternyata, Homekios berhasil menarik minat pelanggan, terutama para eksekutif muda. "Kebanyakan pelanggan kami adalah suami-istri yang bekerja. Pada umumnya mereka memesan kebutuhan anak karena alasan efisiensi waktu dan kepraktisan," ujar Nico yang menyasar segmen menengah-atas.

"Kebetulan, produk-produk yang kami sediakan adalah produk dari level terbaik. Jadi, konsumen kami memang mereka yang mempercayakan tumbuh-kembang anaknya dengan produk terbaik. Tentu kebanyakan yang mampu adalah kelas menengah-atas."

Meski membidik kelas tertentu, tak berarti Homekios sepi peminat. Meski belum genap setahun beroperasi, Nico mengklaim usahanya yang dibangun dengan modal Rp 100 juta rupiah ini sudah menjaring ratusan pelanggan.

Kalaupun ada kendala, lanjutnya, tak lain adalah program banting harga yang dilakukan para hypermarket. "Masalahnya, belakangan ini nyaris tiap hari hipermarket-hipermarket banting harga secara bergantian," keluh Nico yang selama ini selalu berusaha membandrol dagangannya dengan harga yang sama dengan hipermarket.

"Kami bisa menjual murah karena bekerjasama langsung dengan produsen produk bersangkutan," jelas Nico yang kini lebih mengandalkan layanan antar demi menarik hati konsumen. "Pelanggan yang perlu efesiensi, pasti tetap lebih memilih homekios. Kalau memesan lewat kami, barang, kan, diantar sampai tujuan. Harganya juga enggak lebih mahal."

Untuk layanan antar ini, Nico bahkan memberi treatment khusus. "Pemesanan minimal Rp 100 ribu rupiah, bebas biaya antar," ujar Nico yang ternyata lebih sering diminta konsumen untuk mengantarkan pesanan ke kantor, dibanding ke rumah. "Kebanyakan konsumen saya,kan, pegawai kantoran."

Gara-Gara Melamin

Tak hanya mengandalkan bisnis online, Nico mencoba strategi pemasaran lain. "Selain memiliki pelanggan di Jabodetabek, kami juga bekerja sama dengan sekitar 20 rumah sakit besar di Jakarta untuk melayani kebutuhan pasien ibu dan bayinya," paparnya.

Meski demikian, Nico memilih 2 sistem pembayaran yang paling sederhana. Pertama, pembayaran tunai di tempat, di mana pembayaran dilakukan setelah barang yang dipesan tiba di tempat. Kedua, sistem pembayaran online atau transfer bank. "Paling banyak pelanggan memilih bayar tunai," ujar Nico yang kini memiliki 3 kurir pengantar pesanan.

"Pegawai-pegawai ini saya beri berbagai macam pelatihan. Mereka, kan, harus mengenal dan menguasai produk yang kami pasarkan karena mereka nantinya harus mampu menjawab pertanyaan maupun keluhan konsumen seputar produk," ujar Nico yang pernah merasakan penurunan drastis daya beli konsumennya.

"Gara-gara kasus susu bermelamin yang bikin bayi keracunan, konsumen banyak yang takut memesan susu." Karena usahanya terbilang baru, Nico pun masih membatasi pesanan yaitu hanya bisa dilakukan dari hari Senin sampai Jumat, jam 08.00-17.00 WIB. "Khusus Sabtu, buka sampai jam 13.00 WIB," ujar Nico yang menjamin pesanan akan diantar maksimal 1 x 24 jam.

Melihat besarnya peluang di pasar yang dibidiknya, Nico berencana membuka cabang di berbagai kota di Indonesia. Untuk awalnya, "Saya akan menambah sentra pelayanan di 5 titik di Jakarta supaya konsumen di seluruh wilayah Jabodetabek bisa maksimal terlayani."

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau