JAKARTA, KAMIS - Kebijakan pemerintah untuk menurunkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis premium bersubsidi senilai Rp500 per liter dinilai tidak berdampak pada rakyat kecil.
Pengamat ekonomi Aviliani usai menghadiri rapat tim panelis ekonomi di Kantor Kepresidenan, Jakarta, Kamis (6/11), mengatakan penurunan harga BBM yang hanya berlaku untuk jenis premium akan dinikmati oleh kelas menengah yang memiliki kendaraan bermotor. "Efek terhadap masyarakat miskin yang seharusnya mendapat dampak dari subsidi BBM tidak terlalu signifikan," ujarnya.
Pemerintah memutuskan penurunan harga premium bersubsidi senilai Rp500 per liter yang mulai berlaku 1 Desember 2008, tidak berlaku untuk jenis BBM lain seperti solar dan minyak tanah.
Aviliani mengatakan kebijakan penurunan harga premium itu juga tidak akan berdampak kepada daya beli masyarakat karena industri tidak akan menurunkan harga barang-barang.
Biaya transportasi, lanjut dia, juga tidak akan mengalami penurunan setelah kenaikan harga BBM pada Mei 2008. "Jadi, penurunan harga premium ini tidak akan berdampak apa-apa kepada harga barang-barang dan transportasi," ujarnya.
Aviliani menilai penurunan harga premium yang mulai berlaku pada 1 Desember 2008 terlalu cepat dilakukan oleh pemerintah. Ia berpendapat seharusnya pemerintah terlebih dahulu melakukan sosialisasi selama dua bulan, dan baru menurunkan harga pada awal 2009.
Aviliani berharap pemerintah sudah siap dengan instrumen untuk merespon fleksibilitas harga minyak mentah dunia yang bergerak naik-turun. Apabila pemerintah harus kembali menaikkan harga premium setelah menurunkannya, Aviliani mengkhawatirkan ongkos sosial yang harus ditanggung masyarakat.
"Masalahnya, harga naik turun itu kan tergantung dengan harga minyak dunia. Pemerintah harus siap dengan itu," ujarnya.
Pemerintah memutuskan menurunkan harga premium bersubsidi dari Rp6.000 per liter menjadi Rp5.500 per liter dengan dalih untuk meringankan beban masyarakat yang selama ini menanggung kenaikan harga komoditi akibat kenaikan harga minyak mentah dan krisis keuangan dunia.
Karena saat ini harga minyak mentah dunia sudah turun di kisaran 65 dollar AS, pemerintah menurunkan harga premium bersubsidi.