Ahli Waris Rela Rumah Pengasingan Cut Nyak Dhien Jadi Museum

Kompas.com - 07/11/2008, 00:42 WIB

BANDA ACEH, JUMAT--Ahli waris rumah bekas tempat tinggal Cut Nyak Dhien ketika diasingkan serdadu Belanda, 1905-1908, di desa Kaum, Kelurahan Regol Wetan Kecamatan Sumedang, Provinsi Jawa Barat (Jabar), menyatakan rela jika bangunan itu dijadikan museum.

"Kalau rumah milik kami yang pernah ditempati Cut Nyak Dhien dijadikan museum sangat layak dan bagus bila gagasan ini menjadi kenyataan. Kami setuju andai rumah ini dijadikan museum," kata H Dadang (57), pemilik rumah tersebut saat menghadiri Seminar Raya di Banda Aceh, Kamis.

H Dadang bersama istri dan seorang anaknya berada di Aceh untuk menghadiri seminar berkaitan dengan peringatan seratus tahun Cut Nyak Dhien yang peserta terbanyaknya kaum perempuan.

Seminar itu berlangsung di rumah adat Aceh di gampong Lampisang, Kecamatan Pekan Bada Kabupaten Aceh Besar.

Seminar yang diprakarsai Pemerintah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) melalu Badan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (BP3A) itu diikuti sekitar 150 peserta dari berbagai unsur.

Kegiatan itu diawali kegiatan napak tilas dan ziarah ke makam Cut Nyak Dhien di Sumedang 29 Oktober 2008.

Menurut H Dadang, ahli waris rumah bekas tempat tinggal Cut Nyak Dhien, pihaknya tidak keberatan jika pemerintah menjadikan rumah tersebut sebagai museum.

Rumah itu menyimpan sejarah perjuangan seorang perempuan cerdas dan berani asal provinsi ujung paling barat di Indonesia itu.

"Saya kira sangat cocok bila rumah ini dijadikan museum sejarah perjuangan bangsa melawan penjajah tempo dulu. Bila rumah ini benar-benar menjadi museum tentu akan bermanfaat bagi anak bangsa yang berminat dan pemerhati sejarah perjuangan bangsa di negeri ini," katanya dengan nada haru.

H Dadang mengatakan, perawatan rumah itu tetap dilakukan dengan tetap menjaga keasliannya. Perawatannya dilakukan sesuai kemampuan.

Dadang mengaku bahwa perawatan yang dilakukan selama ini karena keluarganya, terutama kakek-neneknya merasa sangat dengan dekat dengan Cut Nyak Dhien.

Menurut Dadang, ahli waris rumah yang pernah ditempati perempuan asal daerah Serambi Makkah itu akan membantu sesuai kemampuannya karena Cut Nyak Dhien dalam keluarga H Dadang sudah seperti keluarganya sendiri. Keluarga Dadang akan membantu bila gagasan itu diwujudkan, ujarnya.

"Kami menyambut baik manakala rumah bekas tempat tinggal Cut Nyak Dhien itu dijadikan museum sejarah. Kami kira, ini gagasan brilian yang perlu disambut positif oleh semua pihak untuk mewujudkannya," kata Dadang yang mengatakan, keluarganya di Sumedang terasa semakin dekat dengan masyarakat Aceh.

Sementara Kepala BP3A Raihan Putry Ali Muhammad yang dihubungi secara terpisah mengatakan, gagasan menjadikan rumah itu sebagai museum merupakan gagasan brilian.

Menurut dia, tidak tertutup kemungkin rumah tersebut dijadikan museum Cut Nyak Dhien. Gagasan ini baik dan bisa menjadi sarana belajar bagi generasi muda di masa mendatang.

"Menurut saya rumah tersebut sangat layak dijadikan museum sejarah perjuangan pahlawan nasional Cut Nyak Dhien yang berakhir di Sumedang. Bisa saja rumah tersebut direnovasi dengan tetap menjaga keasliannya, kemudian diisi dan dihiasi aneka barang peninggalan Cut Nyak Dhien," katanya.

Raihan Putry yang juga dosen Fakultas Tarbiyah IAIN Ar-Raniry itu mengaku sudah melihat secara dekat rumah tempat tinggal Ibu Perbu (Ibu Ratu), panggilan akrab warga masyarakat kampung Kaum, Kelurahan Regol Wetan, Kecamatan Sumedang Selatan, sekitar Masjid Agung Sumedang tersebut.

Meski belum direnovasi sebagaimana layaknya museum, rumah tersebut sudah memiliki nuansa sejarah karena di depannya terpampang pamflet bertuliskan "Bekas Rumah Tinggal Cut Nyak Dhien Sumedang". Isi dalam rumah juga terlihat masih terjaga serta sejumlah barang peninggalan Cut Nyak Dhien, katanya.(ANT)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau