BANDARLAMPUNG, JUMAT--Warga Provinsi Lampung menyikapi penghentian tayangan "Empat Mata" di stasiun televisi dengan dua versi, yakni ada yang setuju dan tidak.
"Saya sangat setuju tayangan itu dihentikan. Soalnya, pada program yang menghadirkan si pemakan bangkai manusia Sumanto dan seorang perempuan pemakan daging mentah bahkan katak hidup, telah membuat anak saya muntah," kata Ny. Arini, warga Kotasepang, Kedaton, Bandarlampung, Kamis.
Tayangan itu, lanjut dia, mengajarkan kepada penonton, khususnya anak-anak yang belum cermat dalam memilah persoalan, akan hal yang tidak lazim.
Selain itu, sikap pembawa acaranya, Tukul yang genit terutama ketika ada bintang tamu yang cantik langsung meminta dicium, dan itu membuat Ny. Arini sebagai kaum perempuan kurang senang. "Kalau cara dan gayanya yang kocak, saya senang. Tapi yang
kegenit-genitan semestinya dihilangkan, karena tayangan tersebut disaksikan berbagai kalangan," sarannya.
Sementara yang menyukai penampilan Tukul pada program tersebut, mengaku kecewa karena tidak dapat melihat lagi gaya kocaknya.
"Semestinya, tidak dicekal begitu saja. Perlu peringatan dulu," kata Suryadi, warga Telukbetung, Bandarlampung.
Ia pun mengakui, tayangan yang menampilkan Sumanto dan wanita pemakan katak, memang sudah berlebihan dan tidak wajar.
Namun, lanjutnya, kesalahan bukan pada Tukul Arwana, tetapi tim kreatif yang tidak berfikir jauh terhadap akibat yang akan ditimbulkannya. (ANT)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang