AMERIKA SERIKAT membuktikan diri telah siap melangkah menembus batas. Jutaan pemilih, hitam-putih, tua-muda, laki-laki perempuan, keturunan Afrika dan Hispanik, bersedia memercayakan masa depan mereka ke tangan Barack Obama, seorang senator asal Illinois keturunan kulit hitam.
Selama dua tahun menjabat sebagai senator, Obama bisa melihat apa yang bisa dilihat oleh sedikit orang. Amerika telah siap menerima perubahan.
Dia datang ke Capitol Hill dua tahun lalu dengan ”misi” membersihkan apa yang dilihatnya sebagai kekerdilan politik modern AS. Sikap partisan yang sengit dan perpecahan yang disengaja telah bercokol selama sedikitnya dua periode kepresidenan.
Kendati sempat tertatih-tatih dalam perjalanan menuju Gedung Putih, dengan mantra ”perubahan”, Obama berhasil membuat pertarungan kali ini menjadi ajang peleburan seluruh elemen bangsa.
"Dia telah menemukan kembali politik dari jalannya selama ini. Ini adalah revolusi besar seperti pemilihan Franklin D Roosevelt tahun 1932 dan John F Kennedy tahun 1960,” kata Paul Levinson, pakar politik dari Fordham University, New York, seperti dikutip kantor berita AFP.
Kemenangan besar Obama tidak seperti kemenangan Presiden George W Bush tahun 2000 dan 2004 yang, menurut pengamat, menganyam perpecahan dan membuat masyarakat berkelahi satu sama lain.
”Kita berhasil mengatasi segala hal yang dikira banyak orang adalah penghalang yang tidak bisa dihancurkan dalam politik kita. Kita berhasil menciptakan koalisi nasional. Itulah yang kita inginkan dan itulah yang kita lakukan,” kata David Axelrod, ahli strategi Obama.
Panggilan
Antusiasme pemilih untuk memberikan suaranya pun mengundang decak kagum tersendiri. Disebutkan, jumlah pemilih kali ini adalah yang terbanyak dalam sejarah pemilu AS, yaitu sekitar 135 juta orang.
”Saya sampai meneteskan air mata melihat antrean itu,” kata Bob Haskins, seorang pekerja di sebuah gereja di Atlanta, seperti dikutip International Herald Tribune (IHT).
”Bagi anak-anak muda itu, ini adalah panggilan. Semua yang dikatakan Martin Luther King menjadi kenyataan hari ini,” ujarnya, saat melihat anak-anak muda antusias mengantre untuk memberikan suara.
Tobey Benas, seorang pensiunan guru di Chicago, juga terkesan dengan momen pemilu tahun ini. ”Saya tidak percaya kita bisa sampai sejauh ini. Ini sangat menyentuh,” ujarnya, seperti dikutip IHT.
Isu ras di AS belum menjadi bagian dari cerita usang. Sentimen rasial masih membayangi, walaupun AS mengklaim sebagai negara demokratis yang melampaui segala perbedaan.
Dalam pidato kemenangannya di Chicago, Obama menegaskan bahwa batas-batas pemisah tak kentara bisa dilompati. ”Jika masih ada seseorang di luar sana yang masih sangsi bahwa Amerika adalah tempat di mana segala sesuatu mungkin terjadi, yang masih heran jika impian pendiri negara kita masih hidup, yang masih mempertanyakan kekuatan demokrasi, malam inilah jawabannya,” kata Obama.
Itu dibuktikan dengan suara dari kalangan pemilih kulit putih yang didapat Obama, yaitu 43 persen. Kendati kalah dari perolehan McCain (55 persen), Obama mengungguli perolehan kandidat presiden dari Demokrat tahun 2004, John Kerry, yang juga kulit putih.
Beberapa tahun belakangan ini warga AS di luar negeri terbiasa menjadi sasaran cercaan dan cemoohan berkat ”perang melawan terorisme” yang diusung Presiden Bush. Sentimen anti-AS kian merajalela di berbagai belahan dunia.
Tidak lama setelah Obama memenangi pemilu, William J Kole, seorang wartawan Associated Press di Austria, mendapat ciuman di pipi dari orang asing di bus, hanya karena dia seorang Amerika. ”Dia tidak mengatakan apa-apa, tetapi pesannya sangat jelas. Hari ini kami semua orang Amerika. Rasanya seperti perjalanan panjang di jalan bergelombang yang akhirnya berhenti,” ujarnya.
”Terpilihnya Obama menunjukkan kapasitas luar biasa Amerika untuk memperbarui diri dan beradaptasi dengan dunia yang sedang berubah,” kata mantan Sekjen PBB Kofi Annan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang