Krisis ARV Teratasi

Kompas.com - 07/11/2008, 20:03 WIB

 

JAKARTA, JUMAT - Setelah mengalami krisis ketersediaan obat antiretroviral atau ARV, pemerintah akhirnya menambah alokasi dana pengadaan obat yang bisa menekan perkembangan HIV itu. Penambahan dana itu diperkirakan bisa memenuhi kebutuhan pengadaan obat antiretroviral hingga Maret mendatang.

Sebelumnya, ketersediaan obat ARV mengalami krisis dalam beberapa pekan terakhir. Hal ini mengakibatkan banyak orang dengan HIV/AIDS atau ODHA terancam putus berobat. Krisis ketersediaan obat ARV itu telah beberapa kali terjadi sejak disubsidi penuh oleh pemerintah pada tahun 2004 lalu.

"Saat ini Depkes sudah dapat memenuhi permintaan obat lini pertama dari rumah sakit-rumah sakit," kata Kepala Subdirektorat AIDS dan Penyakit Menular Seksual Depkes Sigit Priohutomo, Jumat (7/11), di Jakarta. Pengadaan ARV lini pertama sudah bisa dilakukan setelah mendapat tambahan dana dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara atau APBN sebesar lebih dari Rp 10 miliar.

"Dengan mekanisme penunjukan langsung, begitu dana tersedia, kami bisa langsung membeli obat-obatan ARV ke PT Kimia Farma selaku produsen obat ARV di dalam negeri," kata Sigit. Ada pun pengadaan obat-obatan ARV lini kedua yang didanai Dana Global untuk AIDS, Tuberkulosis dan Malaria (GFATM) masih dalam proses tender karena obatnya harus diimpor dari negara lain.

Ketua Perhimpunan Dokter Peduli AIDS Indonesia, Prof Samsuridjal Djauzi menyatakan, obat ARV lini pertama kini telah tersedia di berbagai rumah sakit. "Setidaknya, untuk dua bulan ke depan, ketersediaan obat ARV lini pertama bagi pasien yang terinfeksi HIV bisa terjamin," ujarnya.

Kaum ODHA kebanyakan mengguna kan obat ARV lini pertama-terdiri dari lima jenis-yaitu zidovudine, lamivudine, nevirapine, stavudine, dan efavirenz. Para ODHA umumnya menggunakan kombinasi tiga dari lima jenis obat ARV lini pertama itu. Akan tetapi, sebagian ODHA telah memakai obat-oba tan ARV lini kedua lantaran virus HIV telah kebal terhadap obat lini pertama.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau