CHICAGO, MINGGU — Sebagai presiden AS yang baru terpilih, Barack Obama, mengadakan kontak telepon dengan Presiden Rusia Dmitry Medvedev dan beberapa pemimpin negara lainnya. Menurut keterangan yang dikeluarkan oleh kantor presiden di Kremlin, Obama dan Medvedev mengungkapkan keseriusan untuk menciptakan interaksi positif dan konstruktif terhadap pembangunan dan stabilitas global.
Medvedev dan Obama sepakat untuk dibentuk pertemuan bilateral awal. Obama dan Medvedev juga sepakat bahwa AS dan Rusia mempunyai kesamaan tanggung jawab dalam merespons permasalahan global yang serius.
Pemerintah George W Bush berencana membentuk perisai misil yang berdekatan dengan perbatasan Rusia. Rencana tersebut menambah kerenggangan hubungan antara Kremlin dan Washington.
Setelah Obama resmi memenangi Pemilu AS, Rabu (5/11), Medvedev mengancam akan menggerakkan misil jarak pendek ke wilayah Rusia yang berbatasan beberapa negara sekutu NATO meskipun AS menawarkan proposal baru pengurangan senjata nuklir serta pertahanan misil. Proposal itu mencakup izin bagi tim peninjau Rusia memasuki lokasi pertahanan misil AS di Polandia serta Republik Ceko.
Selama masa kampanye, Obama sempat mengaku ragu dengan pengembangan sistem pertahanan itu. Menurut Obama, sistem itu akan memerlukan proses uji coba yang rumit dan memakan biaya hingga miliaran dollar AS.
Selain dengan Medvedev, Obama juga mengadakan percakapan melalui telpon dengan Presiden Polandia Lech Kaczynski mengenai aliansi AS-Polandia. Menurut penasehat kebijakan luar negeri Obama, Denis McDonough, presiden terpilih AS itu tak membentuk komitmen apapun mengenai rencana perisai misil.
Namun, pernyataan Denis McDonough itu bertolak berlakang dengan pernyataan yang dikeluarkan oleh Lech Kaczynski. Presiden Polandia itu menjelaskan, Obama menekankan pentingnya kemitraan strategis Polandia dan AS serta harapan akan kelanjutan kerja sama militer dan politik kedua negara. "Obama juga menjelaskan, proyek pertahanan misil akan tetap dilanjutkan," kata Kaczynski.