GRESIK, SENIN - Setiap musim tanam tiba, selalu terjadi kelangkaan pupuk dan petani sulit mendapatkannya. Himpunan Kerukunan Tani Indonesia Cabang Gresik meminta pemerintah Kabupaten Gresik mengalokasikan subsidi sarana produksi khususnya pupuk.
Sementara Dinas Pertanian Kabupaten Lamongan mengusulkan pupuk bersubsidi sebanyak 225 ton, sebab alokasi pupuk bersubsidi untuk Lamongan hanya 96 ton.
Pengurus Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Cabang Gresik, Asikin Hariyanto, Senin (10/11) mengatakan pada November hingga Desember ini merupakan pemupukan pertama untuk awal-awal masa pertumbuhan. Kebutuhan pupuk pada masa pertumbuhan lebih banyak dibanding pemupukan kedua pada masa generatif (peranakan) sekitar Januari mendatang.
Dia memaparkan, para petani dalam setiap hektar hanya menggunakan 120 kilogram (kg) Urea dari normalnya 250 kg, 40 kg ZA dari kebutuhan normal 75 kg, 50 kg SP-36 dari kebutuhan normal 100 kg, dan 135 kg Phonska dari kebutuhan normal 300 kg.
"Oleh karena subsidi pupuk 2009 belum turun, sebaiknya pemerintah Kabupaten Gresik mengalokasikan subsidi untuk sarana produksi khususnya pupuk. Selama ini, penggunaan pupuk jauh di bawah normal," kata Asikin.
Sementara itu, kebutuhan pupuk yang lebih banyak dari alokasi subsidi pupuk untuk Kabupaten Lamongan disadari menyebabkan terjadi kelangkaan pupuk di lapangan. Menghadapi musim tanam padi Oktober sampai Desember ini, Dinas Pertanian Kabupaten Lamongan mengusulkan pupuk bersubsidi sebanyak 225.000 ton ke Provinsi Jawa Timur. Namun, alokasi pupuk bersubsidi untuk Lamongan hanya sebanyak 96.000 ton.
Kepala Dinas Pertanian Lamongan, Djoko Purwanto menyebutkan pupuk yang didistribusikan ke 27 kecamatan di Lamongan, terdiri dari Urea sebanyak 58.090 ton, pengganti SP-36/Super Phos sebanyak 17.160 ton, ZA sebanyak 7.886 ton, dan Phonska sebanyak 13.853 t on.
Sampai Oktober lalu, sisa pupuk yang telah didistribusikan sebanyak 26.000 ton lebih, Urea sebanyak 10.835, Super Phos 6.695 ton, pupuk ZA sebanyak 1.085 ton dan Phonska sebanyak 9.038 ton.
Antisipasi kekosongan stok pupuk bersubsidi Pemkab. Lamongan mengusulkan lagi pupuk tambahan ke Provinsi Jawa Timur sekitar 19.000 ton pupuk terdiri dari Urea sebanyak 10.768 ton, Super Phos sebanyak 7.153 ton, serta Phonska sebanyak 9.038 ton.
Kepala Bagian Humas dan Protokol Lamongan, Aries Wibawa menambahkan usulan itu didasari kondisi pertanian Lamongan sebagai penghasil dan lumbung padi terbesar di Jatim dengan surplus produksi 763.000 ton per tahun. Hasil padi bukan hanya memenuhi kebutuhan masyarakat Lamongan tetapi menjadi penopang kebutuhan masyarakat Jatim.
Untuk pemupukan, petani di Lamongan menggunakan pupuk tunggal dan pemupukan majemuk yaitu menggunakan semua jenis pupuk. Petani padi menggunakan pupuk majemuk dan petani perkebunan seperti petani tebu menggunakan pupuk tunggal jenis ZA.
Ukuran ideal penggunaan pupuk Urea sebanyak 250 sampai 300 kg per hektar, pupuk Super Phos (125-150 kg), Phonska (300 kg). Harga pupuk idelanya Urea Rp 1.200 per kg, Super Phos Rp 1.550 per kg, ZA Rp 1.050 per kg, Phonska Rp 1.750 per kg.
Namun di tingkat petani, harga pupuk Urea bisa melambung hingga Rp 90.000 per zak isi 50 kilogram dari normalnya Rp 60.000. Petani di Desa Tenggulun, Kecamatan Solokuro, Kabupaten Lamongan Punjadi (56) mengatakan setiap musim tanam pupuk selalu langka dan mahal.
"Kondisi petani di sini cukup sulit karena tidak ada irigasi teknis. Untuk tanam padi saja masih ada yang disebarkan," katanya.
Petani lainnya, Triman (62), mengatakan lahan yang dimiliki petani sempit tempatnya juga terpisah-pisah. "Dari bumi 300 sekitar setengah hektar lebih yang dimilikinya, menghasilkan 20 zak padi. Namun kebanyakan lahan di sini ditanami padi sekali, jagung dua kali. Sebagian lahan ditanami cabe rawit atau kacang tanah," kata Triman.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang