Devisa Bebas Terkontrol, Cobain Deh!

Kompas.com - 10/11/2008, 17:55 WIB

JAKARTA, SENIN -  Ekonom Indef, Ikhsan Modjo mengatakan, perlunya mengubah sistem devisa bebas menjadi devisa bebas yang terkontrol untuk mengurangi tekanan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS.
    
Menurut Ikhsan, di Jakarta, Senin, jika tidak ada perubahan sistem, hal itu akan merepotkan Bank Indonesia (BI) yang terus-menerus akan melakukan intervensi ke pasar. "Cadangan devisa akan tergerus," ujarnya.
    
Beberapa lembaga keuangan internasional seperti Credit Suisse memprediksi, dalam waktu tiga bulan ke depan rupiah akan merosot ke level Rp12.500 per dollar AS.
    
Ikhsan menambahkan, jika sistem devisa bebas terkontrol jadi diterapkan, kebijakan itu akan menciptakan stabilitas moneter sehingga volatilitas rupiah dapat terjaga. Selain itu laju inflasi dan suku bunga bank juga akan lebih terkontrol.
    
Pemerintah perlu mengendalikan dana-dana asing yang masuk ke dalam negeri. "Mereka harus dikontrol," ucapnya.

Misalnya harus ada waktu minimum dana asing tersebut mengendap di dalam negeri atau tujuan investasinya apa.
    
Selain itu para eksportir dan nasabah kakap juga perlu dikontrol agar lalu lintas devisa menguntungkan bagi ekonomi bangsa. Para eksportir diharuskan untuk menempatkan dana valasnya di bank dalam negeri.
 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau