JAKARTA, SENIN - Dalam sepuluh tahun ke depan defisit pangan di Indonesia diperkirakan semakin meningkat karena produksi dalam negeri tak mampu mengimbangi konsumsi yang terus naik.
Peneliti Senior pada Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian Dewa Ketut S. Swastika di Jakarta, Senin (10/11) mengungkapkan komoditas pangan utama yang diperkirakan mengalami defisit hingga 2020 yakni padi, jagung, dan kedelai.
"Kalau tetap menggunakan teknologi konvensional, gap antara produksi dan konsumsi semakin tinggi," katanya pada Bincang-bincang Bioteknologi yang diselenggarakan CropLife Indonesia.
Menurut dia, selama 1970-2006 produksi padi di Indonesia mengalami peningkatan yang signifikan dari 10,9 juta ton menjadi 30,8 juta ton beras. Bahkan, pada 1985 Indonesia mampu mencapai swasembada pangan dari sebelumnya pengimpor beras terbesar.
Namun selama 36 tahun tersebut tingkat konsumsi beras di dalam negeri juga menunjukkan peningkatan yang cukup tajam yakni dari 11,9 juta ton menjadi 33,3 juta ton.
Kondisi serupa juga terjadi pada komoditas jagung. Pada 1970 produksinya sekitar 2,5 juta ton dengan konsumsi 2,5 juta ton. Namun, pada 2006 konsumsi sudah mencapai 14,9 juta ton. Sementara, produksi hanya 10,4 juta ton.
Begitu juga untuk kedelai. Produksi selama 1970 sebanyak 448 ribu ton dengan konsumsi masih 494 ton. Namun, pada 2006 produksi hanya naik menjadi 673 ribu ton sementara konsumsi melonjak menjadi 1,8 juta ton.
Pada 2006 hingga 2020, tambahnya, produksi padi, jagung dan kedelai dalam negeri menunjukkan tren kenaikan. Namun, konsumsi juga meningkat tajam melebihi produksi dalam negeri sehingga diperkirakan terjadi defisit.
Dikatakannya, defisit antara produksi dengan konsumsi padi selama 2006 hingga 2020 tidak terlalu mencolok karena pada 2020 produksi komoditas tersebut diperkirakan mencapai 34,5 juta ton beras sedangkan konsumsi dalam negeri 35,7 juta ton.
Sedangkan, konsumsi jagung pada 2020 diperkirakan melonjak menjadi 22,5 juta ton sementara produksi hanya 16,5 juta ton atau kekurangan sebanyak 6 juta ton.
Defisit pangan yang sangat tinggi pada 2020 terjadi pada kedelai yakni mencapai 2 juta ton karena dari konsumsi dalam negeri sebanyak 2,6 juta ton hanya mampu dipenuhi dari produksi nasional 634 ribu ton.
Untuk mengantisipasi terjadinya selisih yang tinggi antara produksi dengan konsumsi pangan tersebut, menurut Dewa Swastika diperlukan teknologi yang mampu meningkatkan produksi pangan dalam negeri. "Bioteknologi merupakan pilihan untuk meningkatkan produksi pangan dalam negeri," kata peneliti pada Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian itu.
Menurut dia, pengembangan produk rekayasa genetika baik untuk pangan maupun pakan menjadi keharusan dan sangat prospektif. Hal itu, disebabkan selama labih dari tiga dekade Indonesia belum mampu memenuhi kebutuhan pangan dengan menggunakan teknologi konvensional. "Kita tidak ingin ketinggalan dalam penerapan teknologi moderen," katanya.
Thailand dan negara-negara maju 10 tahun lalu sudah menggunakan jagung jenis hibrida sekitar 90 persen. Sedangkan, Indonesia masih kurang dari 20 persen.
China juga menanam sebagian besar padinya dengan jenis hibrida yang sangat produktif sedangkan Indonesia masih dalam penelitian.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang