Makin Doyan Makan, Makin Krisis Pangan

Kompas.com - 10/11/2008, 18:09 WIB

JAKARTA, SENIN - Dalam sepuluh tahun ke depan defisit pangan di Indonesia diperkirakan semakin meningkat karena produksi dalam negeri tak mampu mengimbangi konsumsi yang terus naik.
    
Peneliti Senior pada Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian Dewa Ketut S. Swastika di Jakarta, Senin (10/11) mengungkapkan komoditas pangan utama yang diperkirakan mengalami defisit hingga 2020 yakni padi, jagung, dan kedelai.
    
"Kalau tetap menggunakan teknologi konvensional, gap antara produksi dan konsumsi semakin tinggi," katanya pada Bincang-bincang Bioteknologi yang diselenggarakan CropLife Indonesia. 
    
Menurut dia, selama 1970-2006 produksi padi di Indonesia mengalami peningkatan  yang signifikan dari 10,9 juta ton menjadi 30,8 juta ton beras. Bahkan, pada 1985 Indonesia mampu mencapai swasembada pangan dari sebelumnya pengimpor beras terbesar.
    
Namun selama 36 tahun tersebut tingkat konsumsi beras di dalam negeri juga menunjukkan peningkatan yang cukup tajam yakni dari 11,9 juta  ton menjadi 33,3 juta ton.
    
Kondisi serupa juga terjadi pada komoditas jagung. Pada 1970 produksinya sekitar 2,5 juta ton dengan konsumsi 2,5 juta ton. Namun, pada 2006 konsumsi sudah mencapai 14,9 juta ton. Sementara, produksi hanya 10,4 juta ton.
    
Begitu juga untuk kedelai. Produksi selama 1970 sebanyak 448 ribu ton dengan konsumsi masih 494 ton. Namun, pada 2006 produksi hanya naik menjadi 673 ribu ton sementara konsumsi melonjak menjadi 1,8 juta ton.
    
Pada 2006 hingga 2020, tambahnya, produksi padi, jagung dan kedelai dalam negeri menunjukkan tren kenaikan. Namun, konsumsi juga meningkat tajam melebihi produksi dalam negeri sehingga diperkirakan terjadi defisit.
    
Dikatakannya, defisit antara produksi dengan konsumsi padi selama 2006 hingga 2020 tidak terlalu mencolok karena pada 2020 produksi komoditas tersebut diperkirakan mencapai 34,5 juta ton beras sedangkan konsumsi dalam negeri 35,7 juta ton.
    
Sedangkan, konsumsi jagung pada 2020 diperkirakan melonjak menjadi 22,5 juta ton sementara produksi hanya 16,5 juta ton atau kekurangan sebanyak 6 juta ton.
    
Defisit pangan yang sangat tinggi pada 2020 terjadi pada kedelai yakni mencapai 2 juta ton karena dari konsumsi dalam negeri sebanyak 2,6 juta ton hanya mampu dipenuhi dari produksi nasional 634 ribu ton.
    
Untuk mengantisipasi terjadinya selisih yang tinggi antara produksi dengan konsumsi pangan tersebut, menurut Dewa Swastika diperlukan teknologi yang mampu meningkatkan produksi pangan dalam negeri. "Bioteknologi merupakan pilihan untuk meningkatkan produksi pangan dalam negeri," kata peneliti pada Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian itu.   
    
Menurut dia, pengembangan produk rekayasa genetika baik untuk pangan maupun pakan menjadi keharusan dan sangat prospektif. Hal itu, disebabkan selama labih dari tiga dekade Indonesia belum mampu memenuhi kebutuhan pangan dengan menggunakan teknologi konvensional. "Kita tidak ingin ketinggalan dalam penerapan teknologi moderen," katanya.
    
Thailand dan negara-negara maju 10 tahun lalu sudah menggunakan jagung jenis hibrida sekitar 90 persen. Sedangkan, Indonesia masih kurang dari 20 persen.
    
China juga menanam sebagian besar padinya dengan jenis hibrida yang sangat produktif sedangkan Indonesia masih dalam penelitian.              

 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau