BANJARMASIN — Warga asal Banjarmasin, HJ (25), berbuat nekat. Tak terima trio bom Bali I, Imam Samudra, Amrozi, Ali Ghufron alias Muklas, dieksekusi, dia mengancam akan membom empat tempat penting di Jakarta.
Teror bom itu disebar HJ lewat pesan singkat ke layanan Polri 1717 menjelang Amrozi dkk dieksekusi di Lembah Nirbaya, Nusakambangan, Minggu (10/11) dini hari.
Namun, tak lama kemudian, Minggu pagi, keberadaan HJ yang sekarang tinggal di Tanah Grogot, Kalimantan Timur, tercium (Detasemen Khusus) Densus 88. Tanpa perlawanan, HJ pun dibekuk jajaran Cyber Crime Densus 88 Antiteror Mabes Polri di Grogot.
Tak hanya HJ, jajaran Cyber Crime Mabes Polri juga berhasil membekuk seorang peneror lainnya, yakni DM (26), warga Lebak, Banten. DM ditangkap di rumahnya, Minggu malam, saat menonton televisi.
Di hadapan petugas penyidik, kedua peneror via SMS itu mengaku tidak rela jika Amrozi dkk dieksekusi mati. “Mereka mengaku tidak rela jika Amrozi dkk dieksekusi,” kata Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Abu Bakar Nataprawira di Jakarta, Senin.
Abu Bakar mengakui, pihaknya belum mengetahui apakah HJ dan DM merupakan simpatisan dan jaringan teroris atau tidak. “Hal inilah yang tengah kita dalami,” ujarnya.
Di tempat lain, Wakil Kepala Densus 88 Antiteror Kombes Pol Saut Usman Nasution mengatakan, HJ dan DM mengakui tidak rela jika Amrozi dkk ditembak mati sehingga menebar teror melalui SMS.
“Seperti HJ, dia mengancam akan membom empat tempat penting di Jakarta kalau Amrozi dkk dieksekusi,” ujar Saut seraya menambahkan, HJ ini berprofesi sebagai pedagang sandal dan helm.
HJ, katanya, ditangkap petugas di tempat tinggal di Tanah Grogot Kaltim, Minggu pagi, dan kemudian dibawa ke Mabes Polri dengan melalui penerbangan Garuda.
Sama seperti HJ, DM juga menebar teror lewat SMS akan mengebom sejumlah tempat-tempat seperti lembaga pemerintah.
“DM ini pengangguran. Dia mengaku cuma iseng mengirim teror,” ujar Saut.
DM, kata Saut, mengaku tidak tahu jika SMS yang dikirimnya akan berdampak besar. Ada tiga SMS yang dikirimnya ke call canter Polda Metro Jaya 1717. SMS itu di antaranya berisi “Pak Polisi, aku sudah pasang bom di Blok M,” dan “Kenapa teroris dieksekusi mati. Padahal, kami ini membela umat muslim.”
Polda Kalsel Tahu
Penangkapan terhadap HJ ini ternyata diketahui juga oleh jajaran Densus 88 Polda Kalsel. Menurut sumber Metro Banjar, anggota Densus 88 Mabes Polri sebelum turun ke Kalimantan sempat berkoordiansi dengan aparat Polda Kalsel dan Polda Kaltim.
“Mereka tak merinci siapa yang akan ditangkap. Hanya beberapa poin dipertanyakan ke anggota Densus 88 Polda Kalsel,” ujarnya.
Di tempat lain, Direktur Reskrim Kombes Drs Machfud Arifin yang dikonfirmasi, Senin, membenarkan adanya penangkapan tersebut.
“Ditangkap Densus 88 Mabes Polri di Kaltim. Bukan teroris, tetapi peneror via telepon,” beber Machfud ketika dihubungi Metro via ponsel.
Ditanya apakah sebelum penangkapan ada koordinasi dengan jajarannya (Densus 88 Polda Kalsel), Machfud pun tak mengelak.
“Pastilah ada, kami ini bagian dari pusat,” papar Machfud yang tengah berada di Jakarta.
Disinggung alamat HJ di Banjarmasin, Machfud tak mau merinci dengan alasan penyidikan dilakukan oleh Mabes Polri.
Dengan adanya ancaman teror itu, Mabes Polri tidak main-main menanggapinya. Semua Polda dan jajarannya di seluruh Indonesia diperintahkan untuk siaga dan mewaspadai setiap ancaman teror. Pengamanan pun dilakukan di semua objek-objek vital, seperti pusat keramaian, mal, dan lembaga pemerintahan di seluruh wilayah RI.
“Pengamanannya diserahkan kepada setiap Polda sesuai dengan tingkat kerawanan, struktur, dan kultur daerah masing-masing. Makanya kita memerintahkan kepada semua kapolda untuk siaga dan mewaspadai setiap ancaman teror sekecil apa pun,” ujar Abu Bakar.
Menurut jenderal bintang dua ini, pengamanan sebenarnya dilakukan sebanyak tiga tahap, yakni menjelang pelaksanaan eksekusi, pada saat eksekusi, dan pascaeksekusi mati Amrozi dkk.
“Pengamanan itu sendiri dilakukan dengan cara patroli, baik tertutup maupun terbuka. Secara mobile ataupun berada di tempat atau sengaja ditempatkan di beberapa titik rawan, terutama di objek-objek vital,” ujarnya. (Persda Network/ndr/dwi)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang