Akhir-akhir ini kasus mutilasi banyak terjadi. Setelah kasus Ryan yang menggemparkan, nama Sri Rumiyati (48) jadi pembicaraan. Ia dituduh menghabisi nyawa dan memotong-motong tubuh suaminya, Hendra. Berikut cerita lengkap ibu tiga anak kelahiran Medan ini.
Hendra, suami saya, berasal dari Pekanbaru. Sebenarnya, di kampung halamannya itu, dia sudah punya keluarga, satu istri dan tiga anak. Siapa nama mereka, saya enggak pernah tahu. Yang jelas, hingga saat ini mereka masih berdomisili di Pekanbaru.
Saat masih tinggal di Pekanbaru, Hendra adalah pengusaha kaya, punya toko, gudang, dan beberapa mobil. Selain itu Hendra juga punya usaha sampingan di Jakarta. Namun, entah kenapa, suatu hari Hendra meninggalkan keluarganya itu. Gara-garanya, ia tergoda wanita pekerja bar bernama Mega.
Hendra dan Mega kabur ke Jakarta dan tinggal di hotel selama berbulan-bulan. Ini kemudian membuat Hendra bangkrut. Setelah delapan tahun hidup bersama tanpa pernikahan, mereka kemudian pisah. Harta Hendra pun hampir habis.
Dari sini Hendra kemudian bertemu saya. Tepatnya sekitar 10 tahun silam. Kami saling kenal karena saya, yang berjualan sayur di pasar Tanah Tinggi, sering menumpang angkotnya. Saat itu saya sudah punya suami, Andi, dan tiga anak. Kala itu rumah tangga saya memang sedang kacau. Dalam kondisi guncang itulah saya akhirnya mau berpacaran dengan Hendra.
Di tengah masa pacaran, Hendra sempat pulang ke Pekanbaru selama beberapa bulan. Eh, enggak tahunya di sana dia malah kecantol dan menikah dengan Dewi. Saat itu Hendra masih memiliki toko makanan burung di Kotabumi, Banten.
Namun, baru sebentar menikah lagi, harta Hendra langsung ludas. Bahkan, rumah pun terpaksa dijual. Konon gara-gara keluarga Dewi sering minta uang ke Hendra. Akhirnya Dewi pun terpaksa tinggal di rumah kontrakan di bilangan Tangerang.
Setelah habis-habisan, Hendra kembali mengajak saya pacaran. Bahkan, berani melamar. Namun, saya sempat menolak karena tidak mau punya madu (Dewi) yang galak. Saya bilang, oke menikah asal Dewi setuju. Saya juga baru berani nikah kalau Hendra berani minta saya langsung kepada Andi.
Saya tak menyangka dia mau memenuhi syarat-syarat itu. Andi pun mengizinkan saya dinikahi Hendra. Singkat cerita, kami akhirnya menikah akhir 2005. Setelah itu, kami tinggal di Kampung Teriti, Tangerang.
Ancam anak
Rumah kontrakan kami terdiri atas tiga ruangan. Di rumah sederhana inilah kami tinggal seadanya. Kasur untuk tidur dibentang begitu saja di lantai karena Hendra tidak betah tidur pakai dipan.
Dua tahun lebih berumah tangga dengan Hendra, saya hanya merasa bahagia pada enam bulan pertama. Saat itu kami sering jalan-jalan berdua ke Pantai Pasir Putih. Namun, satu setengah tahun terakhir, saya merasa hidup di neraka. Saya sering disiksa dan dianiaya.
Penyebabnya biasanya bukan masalah besar. Satu waktu Hendra marah karena penumpang (angkot) sepi sehingga tak dapat setoran. Lain waktu, dia mengamuk karena kesal dengan orang lain di terminal, tapi saya yang jadi sasaran kemarahannya. Yang paling aneh, kalau sampai di rumah dia mendapati saya sedang shalat, pasti dia akan menendang saya sambil memaki.
Namun, di antara semua itu, tak ada yang membuat saya lebih terhina dari kelakuan dia mengangkat telepon Dewi saat sedang bersebadan dengan saya. Padahal, kan, saya bisa mendengar semua percakapan mereka.
Hendra tidak sungkan sedikit pun. Kadang ia bahkan berbohong dan bilang saya sedang di luar rumah. Bayangkan bagaimana terhinanya saya. Dewi memang sering telepon atau SMS, tanpa kenal waktu, dan dengan kata-kata yang tidak pantas. (Yati menitikkan air mata ketika menceritakan hal ini.)
Persoalan demi persoalan yang terus mendera membuat saya sering ingin kabur. Namun, Hendra selalu mencari saya dan meminta maaf. Pernah, saya sembunyi di rumah sahabat, tetapi akhirnya saya terpaksa pulang karena Hendra menyebar gosip, saya membawa kabur uangnya Rp 3 juta.
Setiba di rumah, dengan enteng Hendra berujar, cerita uang hilang itu cuma rekaan belaka. "Habis, Mama, kalau enggak dibegitukan, enggak bakalan pulang," katanya dengan santai.
Lain waktu, saya mau kabur, tetapi ketahuan. Dia lalu mengancam akan menganiaya anak-anak saya sampai cacat. Ini menjadi beban buat saya. Apalagi, Hendra juga bilang, punya ilmu kebal. Malah dia mencoba meyakinkan saya dengan menyayat kulit tangannya, tetapi tidak terluka.
Gara-gara tersandung
Puncak kekesalan saya terjadi pada 27 September. Hari itu Hendra pulang narik jam 22.00. Sampai di rumah dia masuk untuk menyimpan surat-surat mobil, lalu kami sama-sama mengelap mobil angkot milik kami. Setelah itu, saya bikinkan kopi kesukaannya.
Saat ngopi dia bilang, "Huh, Lebaran kurang dua hari. Pakaian anak-bini belum kebeli. Mana Dewi minta ini-itu. Pusing kepala saya. Pusing!" Saya jawab, "Kalau kamu pusing, kenapa tidak ninggalin saya? Kalau dengan saya, kan, kamu belum punya anak, sedangkan dengan Dewi, kan, sudah. Mbok, tinggalkan saya, tetapi kembalikan saya kepada Andi secara baik-baik.
Ternyata kalimat terakhir saya itu membuatnya marah. Dia memang gengsi menyerahkan saya kembali kepada Andi karena terlanjur janji akan menjaga dan merawat saya. Makanya dia enggak mau memulangkan saya ke Andi.
Penuh emosi, Hendra memaki-maki saya dengan kalimat yang enggak pantas dan dalam bahasa Minang yang saya tak mengerti artinya. Hendra pun memukuli saya berulang kali. Jarinya juga mendorong kepala saya berkali-kali. Meski begitu, saya masih bisa menahan emosi. Saya terima saja karena sudah terbiasa.
Sehabis makan, dia minta saya mengekop dirinya. Katanya, dia masuk angin. Kemudian dia tidur dengan badan telanjang. Dia selalu begitu, tidur tanpa mengenakan baju. Saya pun lantas ikut tidur. Tak lama berselang, dia mengajak berhubungan suami-istri. Dia bangun, duduk sebentar, lalu tertidur lagi. Untunglah, karena sebenarnya saya enggan melayaninya. Saya masih sakit hati.
Tak berapa lama, saya tahu dia mimpi dan mencumbu saya. Saya terganggu dan bangun. "Papa mimpi ya," ujar saya sambil mendorongnya karena kesal. Saat itu saya yakin dia tidak sedang memimpikan saya. Ini membuat saya kesal. Saya pikir, mengapa orang ini jahat sekali.
Saat itulah teringat semua perlakuan buruknya kepada saya, termasuk hinaan-hinaan Dewi. Saya pikir, kenapa saya masih saja dihina, padahal semua sudah saya lakukan. Makanannya saya sediakan meski enggak dikasih uang. Pakaiannya pun tetap saya cuci setiap hari. Di tempat tidur, saya selalu siap melayani jam berapa pun. Saya juga ikut memikirkan utang-utangnya. Kurang apa lagi saya ini? (Yati terdiam sejenak dan mulai terisak)
Terinspirasi Ryan
Sementara dia tertidur kembali, saya pergi ke belakang rumah dan duduk di bangku sambil merokok. Saat masuk dan mencoba tidur lagi, ternyata tak bisa. Mungkin karena perasaan masih jengkel. Saya lalu jalan ke luar rumah, ke kamar mandi untuk buang air.
Saat hendak kembali ke rumah, saya tersandung batu koral sebesar kepala manusia yang biasanya digunakan sebagai bahan pondasi rumah. Batu itu membuat saya nyaris terjatuh. Di sinilah semuanya bermula. Kalau saja saya tak tersandung batu, mungkin peristiwa mengerikan itu tidak akan terjadi. Tumpak Sidabutar
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang