Pengakuan Sri Rumiyati: Saya Berharap Tak Dihukum Mati (2)

Kompas.com - 11/11/2008, 10:23 WIB

Begitulah, saat tersandung, muncul pikiran, "Ah mending dimatiin saja. Selama ini saya dihina terus. Dewi juga ikut-ikutan menghina saya melalui SMS. Padahal, saya salah apa?

Ah, mending dimatiin supaya saya enggak disakiti lagi, enggak dihina, enggak mikirin Lebaran anaknya. Biar saya terbebas dari semuanya." Jadi, antara benci dan sayang, semua menyatu dalam pikiran saya saat itu.

Rasa ragu sempat muncul. Namun, perasaan agar terbebas dari hinaan dan siksaan ternyata lebih kuat. Antara sadar dan tidak, saya coba mengangkat batu koral tadi dengan kedua tangan, hampir tidak kuat karena batunya cukup berat, lalu saya bawa masuk ke rumah. Saat itu posisi tidur Hendra menghadap tembok.

Saya jatuhkan batu itu ke kepala Hendra. "Bug!" Batu itu sempat mental setelah kena kepalanya. Hendra diam tak bergerak. Namun, saking takutnya dia bangun dan menyerang, cepat-cepat saya jatuhkan batu itu ke kepalanya sekali lagi. Kali ini dia masih tetap tak bergerak.

Saat itulah saya tersadar dan setengah menyesali, kok, jadi begini? Saya sempat terdiam cukup lama. Menjelang pagi, baru saya mencari cara menyingkirkan mayat Hendra. Karena hari sudah pagi dan orang-orang sudah bangun, saya takut ketahuan dan dipukuli.

Awalnya saya bingung bagaimana cara menyingkirkan mayat suami saya. Karena selain berat banget, badan Hendra pun cukup jangkung. Saya saja seketiaknya. Tiba-tiba terlintas peristiwa mutilasi yang dilakukan Ryan yang saya tonton di televisi. Saya pikir, itu ide bagus.

Saya mutilasi saja supaya lebih mudah membawanya. Kebetulan, di depan rumah ada seorang anak tetangga. Kepadanya saya minta tolong diambilkan golok. Golok itu milik tetangga, tetapi biasa dipakai ramai-ramai. Setelah golok di tangan, barulah terpikir untuk membeli plastik kresek dan kardus.

Jari yang menyiksa

Meski demikian, saya belum yakin Hendra sudah mati. Untuk memastikan, saya gunakan gagang sapu. Saya sodok-sodok tubuhnya tanpa berani melihat langsung. Saya ketakutan kalau-kalau dia bangkit lagi. Apalagi, kan, katanya dia punya ilmu kebal. Hiii, saya ngeri.

Lalu terpikir oleh saya kalau kakinya dipotong dan dia diam saja, berarti benar sudah mati. Mulailah saya memotong kakinya di bagian pergelangan, lalu saya pinggirkan. Kemudian saya juga potong lehernya. Sepanjang memotong, saya selalu buang muka.

Karena dipotong sana-sini dia diam saja, saya pikir sudah aman. Berikutnya, kepala Hendra langsung saya masukkan ke dalam kantong kresek dan saya singkirkan ke dapur. Setelah itu, pikiran saya kosong, seperti tanpa rasa takut. Saya pun mulai memotong bagian tubuh lainnya dengan tenang. Saya ini, kan, pedagang ayam, jadi tahu cara memotong yang baik, benar, dan cepat. (Yati memperagakan bagian tubuh mana saja yang dia potong)

Mula-mula jari-jarinya. Saat memotong jemari Hendra, saya teringat semua perlakuannya terhadap saya. Oh, jari-jari ini yang menyiksa, di antaranya menyundut rokok ke tubuh saya, membotaki rambut, memukul badan, serta menusuk leher dan dada saya. (Yati mengangkat sedikit baju yang dikenakannya untuk menunjukkan bekas-bekas luka penganiayaan mendiang suaminya)

Pekerjaan memotong itu memakan waktu tak sampai dua jam. Semua potongan tubuh itu saya masukkan ke dalam kantong-kantong plastik, lalu saya taruh ke dalam sejumlah kardus. Sisanya, kantong berisi kepala dan jari-jari saya masukkan ke dalam travel bag yang beroda.

Seusai itu, saya mencuci golok, berganti baju dengan yang bersih, sambil memikirkan cara menyingkirkan potongan tubuh tadi. Sempat terlintas ide membuang ke laut. Namun, tidak jadi, kasihan kalau tubuhnya dimakan ikan sehingga tak bisa ditemukan orang. Saya ingin jasad Hendra dikuburkan.

Timbul ide menitipkan ke bus. Soalnya, dia berkecimpung di mobil angkutan, kan, sudah cukup lama. Pikir saya, bus setelah beroperasi pasti kembali ke pool, lalu mobilnya akan dicuci. Saat itulah kantong plastik akan ditemukan kru, lalu dilaporkan ke polisi. Jadi, paling lama dalam sehari sudah ketahuan dan mayatnya bisa dikuburkan. Namun, kelak perkiraan saya ini meleset.

Tato pengungkap

Untuk membawa kardus-kardus tadi, saya harus melakukan tahap demi tahap. Bukan apa-apa, berat. Saat kardus pertama saya bawa ke luar rumah, beberapa tetangga bertanya. Saya jawab, mau pindah rumah. Kardus saya bawa ke Kalideres dengan angkot.

Di sana, saya melihat bis tujuan Bandung yang siap berangkat. Kepada kondekturnya saya bilang, kardus itu milik saudara saya. Nanti orangnya nyusul. Kondektur percaya, saya lalu kabur.

Kemudian saya balik ke rumah mengambil kardus kedua. Kali ini saya titipkan kardus ke bis jurusan Cirebon. Saya bilang, pemiliknya akan naik di Terminal Plawad. Bahkan, saya minta disediakan bangku untuk dua orang. Saya sempat memberi tip buat keneknya Rp 5.000.

Saat balik lagi ke rumah, saya berpapasan dengan Ade Rozak, orang yang biasa membawa angkot kami. Ade lah yang membantu mengangkat kardus dan tas ke dalam angkot. Dari Kalideres, saya naik biskota ke Pulogadung. Di Pulogadung, saya naik ke atas bis yang masih sepi. Di atas bis saya sempat merokok dulu.

Ketika bus sudah keluar terminal, kardus saya masukkan ke kolong bangku. Sampai di Grogol, saya buru-buru turun, takut enggak ingat pulang. Lalu saya menyetop taksi warna putih, sambil membawa tas berisi satu bungkusan lagi. Saya masih sempat ngobrol dengan supir taksi.

Sampai di depan penjara wanita Tangerang, saya turun dekat lampu merah. Tas tadi saya tinggalkan di dalam taksi. Kebetulan ada angkot yang lewat, saya naik dan turun di Pasar Baru, Tangerang. Namun, saya sudah tidak berani pulang ke rumah di Kampung Teriti.

Saya putuskan pulang ke Temanggung, Jawa Tengah. Saya mantap pulang karena yakin perbuatan saya pasti akan ketahuan dengan cepat. Saya cuma tidak ingin anak-anak saya melihat saya ditangkap polisi.

Orang-orang di desa sempat heran melihat kedatangan saya karena memang saya jarang sekali pulang. Kepada mereka saya berbohong. Saya bilang, pulang mau cari pembantu. Hingga akhirnya polisi mendatangi rumah keluarga saya. Saya pun pasrah dan tak melawan dibawa ke Jakarta.

Saya sangat menyesal telah membunuh Hendra. Namun, menangis juga percuma karena semua sudah terjadi. Hendra sudah meninggal tanpa saya bisa melihat di mana ia dikuburkan. Hendra sudah tidak mungkin kembali. Enggak mungkin lagi bisa jalan-jalan dengan saya. (Yati terisak) Konon, orang yang meninggal dengan cara tubuhnya tidak utuh, arwahnya tidak akan pernah tenang.

Soal tato di lengannya yang jadi penanda, jujur saya tidak pernah tahu. Entah kenapa saya tidak pernah menanyakan perihal tato itu kepadanya. Namun, sebetulnya, saya bersyukur karena dengan tato itu pula polisi dengan mudah mengenali dan menangkap saya.

Saya akan menerima hukuman yang pantas buat saya, dengan dibantu oleh kuasa hukum saya, Bapak Haposan Hutagalung. Saya cuma berharap tidak dihukum mati karena masih ingin mengabdikan hidup menjadi orang yang berguna, khususnya buat anak-anak saya jika saya bebas kelak.

Haposan Hutagalung: Akumulasi sakit hati

Menurut kuasa hukum Yati, Haposan Hutagalung, sementara ini kliennya baru akan dikenai pasal tentang penghilangan nyawa. "Yati sudah mengakui perbuatannya. Hanya, perbuatan tersebut dilakukannya akibat akumulasi rasa sakit hati, penghinaan, serta siksan yang diterima selama menjadi istri Hendra."

Kalaupun Yati sampai melakukan mutilasi, ujar Haposan, dilakukan secara spontan dan hanya supaya lebih mudah memindahkan mayat Hendra. Sebenarnya, dia bisa saja membuang potongan mayat itu ke laut atau dikuburkan untuk menghilangkan jejak. Namun, dia malah memilih menitipkan ke angkutan umum agar cepat ketahuan."

Bahwa Yati memutuskan pergi ke rumah orangtuanya, kata Haposan, bukan karena ingin melarikan diri. "Dia cuma enggak mau ditangkap di depan anak-anaknya." ujarnya. Kini Yati sudah bersedia menjalani hukuman.

"Tugas saya hanya mengupayakan proses hukum berlangsung secara proporsional. Semoga hukumannya kelak tidak sampai maksimal. Apalagi, dia berjanji akan mengabdikan diri pada akhir masa tuanya."

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau