Korban Lapindo Kirim Surat ke SBY

Kompas.com - 11/11/2008, 17:04 WIB

JAKARTA, SELASA - Sekitar 150 warga dari empat desa di Sidoarjo yang terkena luapan lumpur panas Lapindo, Selasa (11/11) ngeluruk ke Istana Kepresidenan. Bermaksud untuk bertemu langsung dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, para korban Lapindo yang mewakili warga empat desa di Kedungbendo, Jatirejo, Siring dan Renokenongo justru hanya mampu menyampaikan maksud hati melalui surat.

"Kita menyampaikan surat untuk bertemu dengan Presiden SBY," kata Suwarno, Juru Bicara Warga korban lumpur panas Lapindo yang ditemui di Yayasan Lembaga Bantuan Hukum, Jakarta.

Menurut Suwarno, surat yang disampaikan ke Presiden Yudhoyono tersebut berisi tentang kehendak masyarakat di empat desa yang terkena luapan lumpur panas Lapindo agar tidak lagi berjanji-janji manis. "Kita menghendaki jangan sampai dibohong-bohongi terus sama PT Minarak," ujarnya.

Suwarno menegaskan, berdasar Peraturan Presiden Nomor 14 Tahun 2007, Lapindo membayar tanah, dan bangunan warga korban 20 persen di muka dan 80 persen satu bulan sebelum masa kontrak berakhir. "Lapindo telah melewati batas waktu. Saat ini, masa kontrak rumah kami habis, dan Lapindo belum melaksanakan perintah Perpres tersebut," ujarnya.

"Setidaknya ada sekitar 1.254 kepala keluarga di empat desa yang keleleran (terbengkalai)," tambahnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau