JAKARTA, RABU - Berangkat ke tanah suci dan mengunjungi Masjidil Haram merupakan perintah yang menjadi dambaan bagi setiap Muslim di seluruh dunia. Bahkan, bagi masyarakat Indonesia, harus antri di daftar tunggu yang panjang untuk bisa diberangkatkan ke Arab Saudi sebagai jamaah haji.
Dengan quota sebanyak 210.000 orang, sebetulnya sudah menempatkan jamaah haji Indonesia sebagai rombongan haji terbesar di seluruh dunia. Namun, di tanah air masih ada 668 ribu orang yang sekarang sedang menunggu giliran.
Media Center Haji Departemen Agama di Jakarta, Rabu (12/11) mengingatkan, menunaikan ibadah haji, tidak seperti perjalanan ke luar negeri untuk keperluan yang lain. Selama musim haji, kebijakan pemerintah negara kaya minyak itu terhadap pendatang sangat ketat, karena itu sebaiknya semua dokumen yang diperlukan seperti paspor haji, buku kesehatan, dan tanda identitas lain sudah disiapkan sebelum keberangkatan dan disimpan di dalam tas kecil yang bisa dibawa kemana-mana.
Pada musim haji, penerbangan menuju ke Arab Saudi sangat padat, jutaan muslim dari berbagai belahan dunia, termasuk 21 0 ribu muslim dari Indonesia beserta barang-barang bawaan mereka akan memasuki negara itu melalui dua pintu masuk utama yakni terminal haji Bandara Raja Abdul Aziz di Jeddah dan Bandara Pangeran Muhammad Bin Abdul Aziz di Madinah.
Ketika tiba di bandara, setiap jemaah haji akan melalui pintu Wukala Al Wahhad atau bagian imigrasi yang mencatat kedatangan jemaah haji. Jemaah yang baru datang akan diminta menyerahkan paspornya untuk diperiksa dan disobek lembar data kedatangannya. Setelah pemeriksaan selesai, paspor akan dikembalikan kepada jemaah. Untuk mengantisipasi kejadian yang tidak diinginkan, sebelum melangkah keluar dari antrian pemeriksaan Wukala jangan lupa memastikan semua dokumen telah kembali tersimpan di tas kecil masing-masing.
Setelah pemeriksaan keimigrasian selesai, jemaah baru bisa mengambil tas tentengan yang selama berada dalam pesawat disimpan di dalam kabin. Sementara koper besar yang disimpan di dalam bagasi akan diurus oleh petugas Arab Saudi dan petugas haji Indonesia yang ditugaskan di bandara Jeddah dan Madinah. Yang penting dalam hal ini adalah identitas tas dan koper setiap jemaah. Karena itu sebaiknya tas tentengan dan koper diitulisi identitas lengkap jemaah seperti nama, nomor kelompok terbang (kloter), embarkasi, daerah asal, nomor rombongan, dan nomor regu.
Identitas koper yang lengkap akan memudahkan petugas mengatur dan mengelompokkan barang bawaan jemaah yang akan diangkut ke tempat tinggal jemaah. Pemberian tanda yang lain seperti pita berwarna, kain, tali atau semacamnya juga akan memudahkan jemaah mengenali barang bawaan masing-masing.
Bagi jemaah gelombang pertama yang masuk melalui Bandara Raja Abdul Aziz Jeddah, setelah tiba akan transit sekitar 30 menit di bandara. Selama transit, jemaah bisa beristirahat dan sholat di lokasi transit untuk jemaah haji Indonesia. Jemaah disarankan tidak pergi ke luar lokasi transit karena akan segera diberangkatkan ke Madinah dengan bus sesuai dengan nomor rombongan. Sebelum masuk ke dalam bus, jemaah diminta menyiapkan paspor hajinya masing-masing karena akan diminta oleh petugas Naqobah, penyedia bus ke Madinah. Paspor akan dikembalikan lagi kepada jemaah untuk disimpan.
Setelah naik ke dalam bus, jemaah akan menerima paket makanan dari katering bandara yang dikontrak pemerintah untuk menyediakan makanan bagi jemaah. Sebelum makan, ada baiknya jemaah memeriksa paket makanan yang dibagikan untuk memastikan makanan yang diterima aman dan layak dikonsumsi. Bila sekiranya makanan yang dibagikan berbau dan dicurigai basi, jemaah bisa melapor ke petugas haji di bandara supaya petugas bisa meminta ganti sekaligus menyampaikan komplain kepada penyedia katering. Selamat jalan, semoga mabrur.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang