HARI itu, seperempat jam setelah petugas shift malam tiba di Terminal Haji Bandara Raja Abdul Aziz, Jeddah, jemaah dari kelompok terbang enam embarkasi Aceh keluar dari bagian pemeriksaan dokumen. Para petugas berseragam biru muda yang tergabung dalam Panitia Penyelenggaraan Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi pun langsung menempatkan diri pada posisi masing-masing.
Dokter dan perawat bergegas menuju ruang Balai Pengobatan Haji Indonesia (BPHI) yang berada di salah satu bangunan berbentuk oktagon yang ada di bandara beratap puluhan payung raksasa berwarna krem itu.
Orang-orang di bagian penerimaan jemaah menyambar tongkat berbendera merah putih dan langsung menempatkan diri di depan pintu keluar tempat pemeriksaan dokumen serta titik-titik di sepanjang jalan menuju lokasi transit jemaah haji Indonesia.
Satu di antaranya berlari kecil ke ruang BPHI untuk mengambil kursi roda dan membawanya ke depan pintu keluar, siaga membantu jemaah yang kelelehan dan tidak kuat berjalan.
Di lokasi transit, petugas lain sudah siap dengan pelantang suaranya dan mulai melaksanakan tugasnya memberitahu jemaah lokasi kamar kecil, tempat sholat, arah kiblat, dan nasehat-nasehat ringan.
Sementara semua petugas sibuk menerima dan mengatur 263 anggota jemaah yang baru tiba, tukang angkut barang bandara yang semuanya mengenakan baju terusan warna hijau membawa koper-koper jemaah ke ruangan di samping lokasi transit dengan kendaraan pengangkut, menurunkan semuanya di sana dan pergi meninggalkan bukit koper di belakang mereka.
Di sana, 10 anggota laskar koper regu dua telah menunggu dengan troli-troli berukuran sedang. Dengan sigap mereka mengambil koper-koper berwarna hijau, memeriksa identitas koper dan mengelompokkannya sesuai dengan nomor rombongan yang tertera di bagian depan koper.
Sepuluh menit kemudian, lebih dari separuh bukit koper telah dipindahkan, berderet rapi di depan setiap plang nomor rombongan, dari nomor satu sampai nomor sembilan.
Holis Tomin (34), yang seragam birunya telah basah oleh keringat, Muhammad Wildan (25), Muhammad Bin Jakfar (27), dan beberapa anggota pasukan koper melanjutkan pekerjaan mengatur koper jemaah berdasarkan rombongan.
Holis dan Muhammad Mansyur (28) memisahkan koper-koper jemaah yang tidak bernomor rombongan. Jumlah koper tak bernomor rombongan bisa sampai 25 persen dari keseluruhan koper dalam satu kelompok terbang.
"Yang seperti ini yang bikin susah, tidak ada nomor regu, tidak ada nomor rombongan dan tidak ada kain penandanya," kata Mansyur, anak Pekalongan yang saat ini menjadi mahasiswa program strata dua jurusan ilmu-ilmu tafsir Al Quran di Universitas Al Azhar Kairo, Mesir, yang selama penyelenggaraan ibadah haji bekerja sebagai tenaga musiman.
Dengan bantuan seorang teman, putra ketujuh dari pasangan HM Nasridain dan Hj Nuriati itu kemudian berusaha mencocokkan nama dan asal pemilik koper dengan daftar identitas jemaah yang hari itu dijadwalkan tiba di Terminal Haji Bandara Raja Abdul Aziz.
Namun, usaha itu tampaknya tak membuahkan hasil memuaskan. Para ketua rombongan jemaah kemudian dipanggil dan diminta membantu mengidentifikasi koper-koper anggotanya yang tak identitasnya tidak lengkap. Masalah akhirnya terselesaikan. Koper-koper jemaah sudah tersusun rapi sesuai nomor rombongan saat jemaah beristirahat di lokasi transit.
Setelah sekitar 30 menit beristirahat di lokasi transit, jemaah diminta berbaris sesuai nomor rombongan di samping lokasi transit dan menyiapkan paspor coklat mereka. Anggota jemaah kemudian satu per satu masuk ke dalam bus yang telah disediakan untuk membawa mereka ke kota rosul, Madinah Al Munawaroh.
Setelah semua jemaah berada di dalam bus, koper-koper hijau yang telah diatur berdasarkan nomor rombongan diangkut ke bus pembawa rombongan jemaah oleh tukang angkut barang di bandara. Pekerjaan laskar koper untuk sementara berakhir.
Beberapa di antaranya kemudian beristirahat sambil mengobrol di bangku-bangku tempat transit yang berwarna oranye, yang lain tiduran di karpet-karpet yang dihamparkan di lantai tempat transit.
Masih ada enam kelompok terbang jemaah lagi yang akan tiba di bandara selama rentang waktu tugas mereka. Satu di antaranya diperkirakan keluar dari ruang imigrasi dalam setengah jam.
Dalam satu hari, paling sedikit mereka harus mengatur koper jemaah dari satu atau dua kelompok terbang yang biasanya terdiri atas sekitar 270 hingga 450 anggota jemaah haji Indonesia.
"Kalau lagi sedikit seperti itu, kami bisa santai, bisa tidur-tiduran di sini," kata Wildan, pemuda Bekasi yang sedang berusaha menyelesaikan kuliahnya di program strata dua jurusan ilmu-ilmu tafsir Al Quran Universitas Al Azhar, Mesir.
Tapi kalau jadwal kedatangan jemaah sedang padat, sampai enam hingga delapan kelompok terbang dalam satu masa tugas, mereka hampir tidak punya waktu untuk beristirahat. Tenaga mereka terkuras.
Dan pagi harinya tubuh menuntut lebih banyak asupan energi sehingga porsi makan mereka otomatis bertambah. "Apalagi ternyata banyak juga yang berat. Ada yang bawa beras segala. Pernah saya tanya salah satu ketua rombongan karena saya curiga isinya beras, dan jawabnya, ’Iya, tapi paling cuma tujuh kok’," katanya sambil mengangkat bahu dan tertawa.
Para anggota laskar koper terdiri atas dua regu dengan masing-masing 10 anggota. Regu satu bertugas dari pukul 09.00 sampai 21.00 dan regu dua bertugas pukul 21.00-09.00 waktu Arab Saudi. Mereka bekerja sejak jemaah datang hingga seluruh jemaah meninggalkan Arab Saudi pertengahan Desember nanti.
Musiman
Sebagian petugas di bagian pengaturan bagasi adalah mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di negara-negara Timur Tengah, seperti Arab Saudi, Mesir, Sudan, Maroko, Tunisia, dan Yaman. Mereka direkrut menjadi tenaga musiman (temus) selama penyelenggaraan ibadah haji di Arab Saudi.
"Informasi pendaftaran setiap tahun diterima persatuan pelajar Indonesia dari kantor Teknis Urusan Haji Jeddah melalui Kedutaan Besar RI di Mesir. Syaratnya sudah S2, bermukim lebih dari tiga tahun serta menguasai bahasa Arab dan Inggris," kata Mansyur.
Dalam hal ini, kantor Teknis Urusan Haji memberikan kuota temus untuk setiap negara tempat mahasiswa Indonesia belajar. Karena jumlah mahasiswa Indonesia di Kairo cukup banyak, lanjut dia, seleksi tenaga musiman dilakukan dengan pengundian. "Tapi yang sudah pernah ikut tidak boleh ikut pengundian lagi," tambahnya.
Sementara di Yaman, kata Muhammad bin Jakfar, seleksi temus dilakukan Kedutaan Besar RI dan organisasi persatuan pelajar Indonesia dengan tes tertulis.
Mereka yang sudah lolos seleksi temus kemudian berangkat ke Arab Saudi dengan biaya sendiri untuk mengikuti pelatihan dan selanjutnya menjadi petugas haji selama 72 hari.
"Untuk kami yang dari Yaman, biaya keberangkatan dan keperluan lain sekitar 300 dolar AS, karena kami bisa naik bus ke sini," kata Muhammad.
Sedangkan temus yang datang dari Kairo, menurut Mansyur, setidaknya mengeluarkan uang sekitar 700 dolah Amerika Serikat untuk tiket pulang pergi dan keperluan lainnya.
Honor yang akan didapat selama menjadi temus, sebelumnya tidak mereka ketahui dengan pasti. "Kami hanya mengacu yang didapat temus tahun sebelumnya saja, dan berharap tahun ini lebih banyak," katanya.
Deskripsi tugas, kata dia, juga baru diberitahukan ketika pelatihan temus. Mereka diberi dua opsi bidang tugas, yakni tugas lapangan atau tugas administrasi.
"Saya dan sebagian besar kawan memilih di lapangan dan kebagian ngurus bagasi. Saya pikir tugasnya hanya mencatat dan menertibkan koper saja, ternyata lebih pahit dari yang dibayangkan, tapi nggak apa-apa, ini juga menyenangkan, puas bisa melayani jemaah," kata Mansyur.
"Kalau saya sejak awal memang pilih tugas lapangan, sudah tahu kisaran pekerjaannya, dan siap dengan konsekuensinya. Apapun pekerjaannya, yang penting di sini kita bisa ikut melayani jemaah haji," kata Muhammad.
Honornya, menurut perkiraan mereka, juga lumayan banyak. "Bisa untuk menambah biaya menyelesaikan kuliah, tabungan untuk pulang ke Indonesia dan persiapan biaya menikah," kata Muhammad yang mengaku belum pulang ke tanah air sejak lima tahun lalu itu.
Kegembiraan yang lain, kata Mansyur, adalah saat bertemu dengan orang-orang Jawa yang selama bertahun-tahun tak banyak dia lihat, karena di Kairo ragam wajah orang Indonesia yang bisa dilihat sangat terbatas.
"Tapi di atas semua itu, yang terpenting, kita bisa beribadah di tanah suci, menunaikan ibadah haji dan umrah selama menjadi temus di sini," demikian Muhammad bin Jakfar.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang