JAKARTA, RABU - Iklan pahlawan Partai Keadilan Sejahtera yang menampilkan gambar tokoh-tokoh nasional sebenarnya merupakan ajakan rekonsiliasi. Sebagai generasi baru Indonesia, PKS menyadari posisinya sebagai bagian dari mata rantai sejarah bangsa dan suatu kesinambungan sejarah merupakan syarat bagi kebangkitan Indonesia.
Hal ini disampaikan Sekretaris Jenderal PKS, M Anis Matta di Jakarta, Rabu (12/11). "Kita harus bisa menyikapi masa lalu kita secara adil, arif dan proporsional. Kita kalau mau membangun bangsa ini, harus berhenti mengadili masa lalu. Namun tetap menjadikannya sebagai inspirasi bagi masa depan kita," ujarnya.
Menurut Anis, bangsa ini harus bisa melampaui luka-luka masa lalu, dengan menghilangkan dendam. Bangsa ini, lanjutnya, harus belajar berdamai sebagai sesama anak bangsa dan bersatu kembali merebut masa depan bersama.
"Para pahlawan kita adalah manusia biasa, mereka telah melakukan kerja-kerja luar biasa bagi bangsa yang mempengaruhi hidup kita semua hari ini. Mereka disebut guru atau pahlawan bangsa bukan karena mereka jadi malaikat, tapi karena kontribusi mereka lebih besar dari kelemahan-kelemahannya," ujarnya.
Tak hanya sosok pahlawan nasional yang ditampilkan dalam iklan tersebut. Mantan Presiden Soeharto pun ada. Sebagai manusia, menurut Anis, para pahlawan tentu punya banyak salah. Bukan hanya Soeharto, Soekarno pun punya catatan pelanggaran Hak Asasi Manusia.
Misalnya, Soekarno pernah memenjarakan Buya Hamka dan Natsir. Soeharto, pernah memenjarakan Ketua Majelis Syuro PKS, KH.Hilmi Aminuddin selama dua tahun."Tapi PKS adalah partai dakwah, misinya adalah perubahan dan tidak akan pernah ada perubahan kalau masih ada dendam," ujarnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang