Energi Alternatif Sudah Saatnya Dipakai

Kompas.com - 13/11/2008, 21:04 WIB

YOGYAKARTA, KAMIS - Sumber energi alternatif pengganti minyak tanah maupun elpiji sudah saatnya dipakai masyarakat. Beberapa di antaranya ialah briket batu bara, biogas dari pengolahan kotoran ternak dan manusia, minyak jarak, briket grajen kayu, hingga spiritus.

Sumber energi itu cukup murah dan mudah dalam penggunaannya. Namun memang belum populer sehingga tidak cukup menarik masyarakat. Misalnya tanaman jarak pagar yang ditanam di sejumlah tempat di DIY, sulit dikembangkan .

Petani, menurut Kepala Seksi Migas Bidang Pertambangan dan Energi, Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi DIY Polin MW Napitu Pulu, lebih sering menjual biji jarak pagar. "Prakteknya sulit," ujarnya, Kamis (13/111).

Kendala juga ditemui dalam penggunaan briket batu bara . Mereka yang mempunyai kompor pun, sebagian tak melanjutkan karena pasokan briket terbatas. Di DIY baru terdapat empat penyalur briket batu bara di DIY.

Sarjimin, penyalur briket batu bara di Jalan Kaliurang Km 6 mengatakan, pemakaian briket jauh lebih aman ketimbang kompor minyak tanah. Kompor briket tak meledak dan tidak berjelaga. Rasa masakan juga tidak terpengaruh. Bahkan abu sisa briket bisa dipakai sebagai abu gosok pencuci alat dapur.

Harga briket hanya Rp 2.500 per kg. Sebagai perbandingan, satu kg briket dipakai untuk memasak tiga jam. Kalau memakai minyak tanah, itu butuh lebih dari satu liter. Padahal satu liter minyak tanah subsidi mencapai Rp 6.000. nantinya satu liter minyak tanah nonsubdisi minimal Rp 8.000.

Biogas dari pengolahan limbah tinja juga belum populer. Salah satu lokasi penggunaan biogas-yang dibangun dengan bantuan Pemkot Yogyakarta-berada di RT 37 Cokrokusuman, Jetis. Sebanyak dua rumah tangga telah menerapkannya dua tahun lalu.

"Nyala apinya bagus persis elpiji, dan tidak memengaruhi rasa masakan. Hanya saja, besar kecilnya nyala api tergantung jumlah bahan baku, kadar air, dan jarak dari rumah ke instalasi pengolahan," ujar Sri Rejeki (43), salah satu warga RT 37.

Pemerintah, kata Afnan Hadikusumo, anggota Komisi D DPRD DIY, perlu lebih kencang mendorong dan membantu masyarakat guna memakai energi alternatif. Misalnya grajen kayu atau limbah penggergajian kayu di Yogya, hanya dibuang maupun dibakar, ujarnya.(ARA/RWN/PRA)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau