JAKARTA, RABU - Grup Bakrie memang paling pintar bermanuver di lantai bursa. Yang terbaru, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mengumumkan rencana membeli kembali atau buy back saham. Anak usaha PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) ini akan buy back maksimal 3,3 miliar saham atau 17 persen saham dari lantai bursa.
Bumi akan memulai program buy back tersebut mulai hari ini hingga tiga bulan ke depan. Ia sudah menunjuk PT Recapital Securities sebagai broker pelaksana hajatan tersebut dan menganggarkan duit 824,67 juta dollar AS atau sekitar Rp 8,25 triliun (kurs Rp 10.000 per dolar AS), untuk buy back.
Mengenai sumber dana buy back, Bumi hanya menyebutkan akan mengambil dari kas internal dan utang. Senior Vice President Investor Relations BUMI Dileep Srivastava belum mengungkapkan porsi kedua sumber pendanaan itu. "Kami akan menjelaskan saat pembelian kembali sudah dilakukan," katanya kepada KONTAN, kemarin.
Produsen batubara terbesar di Indonesia ini menargetkan harga buy back Rp 2.500 per saham. Harga saham buy back itu lebih tinggi 111,86 persen dari harga saham BUMI di pasar. Kemarin, saham BUMI seharga Rp 1.180 per saham.
Bumi akan menggelar program buy back ini dalam dua tahap. Pertama, hingga akhir tahun ini, BUMI akan membeli sebanyak 1,08 miliar saham. Tahap kedua, mereka akan membeli 2,22 miliar saham pada tahun depan.
Danny Eugene, Kepala Riset Sarijaya Permana Sekuritas, menilai rencana Bumi menggunakan utang untuk membiayai program buy back akan mendatangkan risiko. Tambahan utang itu akan menyebabkan neraca keuangan Bumi jadi berat sebelah. "Karena ekuitasnya berkurang, sementara kewajibannya bertambah," imbuhnya.
Proposal program buy back BUMI pun memaparkan, jika buy back kelar, nilai ekuitas akan berkurang sebesar 824,67 juta dollar AS, dan asetnya susut 224,67 juta dollar AS. Menurut Danny, jika mengacu pada penjelasan tersebut, nilai utang untuk membiayai aksi korporasi itu mencapai 600 juta dollar AS.
Lagi-lagi, Dileep tetap menutup suara mengenai skema pendanaan eksternal yang dibuat perusahaan. Ia hanya bilang, pencairan pinjaman itu sesuai dengan kebutuhan dan jadwal pelaksanaan buy back saham.
Norico Gaman, Kepala Riset BNI Securities, menyarankan, sebaiknya BUMI mengambil duit dari kantong sendiri ketimbang utang. Mencari utang saat ini sangat sulit dan biayanya pun mahal. Boleh saja utang, asal sudah kepepet alias tak ada sumber dana lain. "Jaminannya juga harus aset produktif bukan aset yang sudah diagunkan," ujarnya.
Laba turun 132,2 juta dollar AS
Di sisi lain, utang tersebut juga bakal menggerus laba bersih BUMI sebesar 132,2 juta dollar AS dalam kurun tiga tahun ke depan. Perinciannya, laba bersih tahun ini terpangkas 3,4 juta dollar AS, tahun depan tergerus 44,1 juta dollar AS, dan pada 2010 bakal terpotong 49,1 juta dollar AS.
Penurunan laba bersih itu akibat peningkatan beban bunga bersih sebesar 4,9 juta dollar AS dalam dua bulan ke depan, 63 juta dollar AS pada 2009 dan sebesar 70,1 juta dollar AS pada 2010. "Buy back itu bertujuan memberi nilai tambah bagi pemegang saham. Jika laba malah turun, buat apa buy back," tandas Danny.
Toh, BUMI berharap aksi korporasi itu bisa mendongkrak kembali harga sahamnya. Maklum, selama kurun lima hari terakhir harga sahamnya sudah tergerus 46 persen. Bumi juga dapat untung kalau menjual kembali saham hasil buy back. Sebab, manajemen BUMI mengklaim, beberapa lembaga riset memperkirakan harga sahamnya bisa naik 127,8 persen dari harga buy back atau menjadi Rp 3.195 per saham.
Catatan saja, beberapa waktu lalu Bumi juga mengumumkan telah menandatangani utang senilai 75 juta dollar AS dari Credit Suisse, Singapura, dengan jaminan saham anak usahanya. Jangka waktu pinjamannya selama tiga tahun. Dalam perjanjian itu, BUMI memberikan opsi kepada Credit Suisse untuk membeli saham yang jadi jaminan utang itu.