TASIKMALAYA, JUMAT - Konversi penggunaan bahan bakar minyak tanah ke elpiji di Tasikmalaya mulai disosialisasikan. Program konversi ini akan dilakukan paling lambat pertengahan bulan Desember 2008.
"Pada bulan Desember 2008 nanti program konversi minyak tanah ke elpiji harus sudah dilakukan di Jakarta, Banten, dan Jawa Barat. Oleh karena itu, program konversi di Tasikmalaya akan secepatnya dilakukan," kata Sales Representative Elpiji PT Pertamina Rayon V Bandung Lucky Pangemanan, Jumat (14/11), saat menyosialisasikan program konversi bahan bakar terhadap aparat pemerintah Kota Tasikmalaya.
Dalam program konversi di Kota/Kabupaten Tasikmalaya Pertamina menargetkan penyaluran 520.000 tabung gas elpiji isi tiga kilogram dan kompornya kepada rumah tangga dengan belanja per bulan di bawah Rp 1,5 juta dan pelaku usaha kecil dan menengah. Saat ini, dari target 520.000 tabung baru tersedia 30.000 tabung gas.
"Sekarang data penerima tabung gas dan kompornya memang belum ada. Nantinya, pendataan siapa saja yang berhak menerima tabung gas dan kompornya ini dilakukan oleh konsultan," kata Lucky.
Dalam sambutannya, Wali Kota Tasikmalaya Syarif Hidayat berharap Pertamina dapat menjamin pasokan elpiji agar tidak terjad i gejolak sosial di masyarakat. Tersedatnya distribusi akibat perbaikan kilang Balongan beberapa waktu lalu diharapkan tidak terjadi lagi.
Lucky mengakui bahwa aspek distribusi berpotensi menjadi kendala teknis di lapangan. Oleh karena itu, untuk menjamin kelancaran pasokan sebuah stasiun pengisian bahan bakar elpiji pun sudah disiapkan di Depo Pertamina Tasikmalaya .
Dijelaskan Lucky, seiring dengan dimulainya program konversi minyak tanah ke gas elpiji maka sedikit demi sedikit pasokan minyak tanah di masyarakat akan dukurangi. Sebanyak 33 agen minyak tanah yang ada di Tasikmalaya pun akan dilibatkan dalam program konversi ini.
Gas elpiji dinilai memiliki beberapa kelebihan dibandingkan dengan minyak tanah. Selain lebih praktis digunakan, penggunaan elpiji lebih hemat ketimbang minyak tanah. Dengan asumsi harga minyak tanah seharga Rp 2.850 per liter dan penggunaan selama delapan hari menghabiskan sebanyak delapan liter maka biaya yang harus dikeluarkan sebesar Rp 22.850.
Sementara menggunakan elpiji seberat tiga kilogram selama delapan hari hanya menghabiskan biaya Rp 12.750 dengan asumsi harga per kilogram elpiji Rp 4.250. Dengan demikian, ada biaya penghematan sebesar Rp 10.100 selama delapan hari.
Lucky juga mengimbau masyarakat untuk waspada terhadap beberapa penipuan yang mengatasnamakan Pertamina. Misalnya, menjual regulator, selang, dan alat ukur tekanan dengan harga tinggi, antara Rp 170.000-Rp 350.000 secara kredit. Ada pula yang memberikan penjelasan yang salah kaprah tentang elpiji. Apabila masyarakat menemui oknum yang tidak bertanggung jawab diharapkan mau melapor kepada aparat yang berwenang.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang