Rumor Bank Kesulitan Likuiditas Disebar Lewat SMS dan Email

Kompas.com - 14/11/2008, 22:43 WIB

JAKARTA, JUMAT - Rumor yang menyebut sejumlah bank mengalami kesulitan likuditas membuat khawatir kalangan perbankan termasuk Bank Indonesia. Kabar burung yang dapat mengganggu stabilitas moneter tersebut menyebar cepat melalui SMS dan email.

Direktur Utama Bank Bukopin Gleen Glenardi mengatakan rumor yang menyebut sejumlah bank kekurangan likuiditas diperoleh dari lewat pesan singkat (SMS). Pesan dalam SMS mengenai rumor tersebut kurang lebih berbunyi "Bank ini kesulitan likuiditas. Jadi hati-hati," kata Gleen.

Sejumlah motif di balik rumor tersebut, lanjut Glen, salah satunya dari pasar modal. "Misalnya saham lagi jatuh terus ada yang hendak miliki saham tertentu dan dibeli..Ini... itu... Pokoknya begitulah," paparnya.

"Kita telusuri dan dukung diproses. Kalau situasi begini jelas sangat ganggu keadaan," paparnya. Dalam pertemuan sejumlah bank swasta dengan bank negara dengan gubernur dan deputi Bank Indonesia hari ini disepakati untuk memproses secara hukum penebar rumor.

Gleen mengatakan beberapa bank yang dirumorkan telah melapor ke polisi. Akan ada tindakan hukum badan atau orang institusi yang sebarkan info tak berlasan. "Kami berterima kasih ke BI yang cepat tanggap terhadap keluhan ada. Kalau ada rumor bisa diatasi dan harus ada efek jera," paparnya.

Di tempat yang sama Wakil Direktur Utama Bank Artha Graha, Wisnu Chandra mengatakan pihaknya memperoleh rumor itu tadi sore melalui e-mail. "Ada email dari nasabah. Itu aja. Ada atau tidak dampaknya. Pasti kita tak tahu motifnya. Apa untuk kacaukan perbankan yang sudah baik atau hendak memancing di air keruh?" papar Wisnu.

Siapa oknum pengirim SMS dan email pasti ketahuan sumbernya sebab bisa dideteksi. Namun, Wisnu tak mau menyebut. "Yang jelas bukan orang bank. Dan lagi diproses. Teman-teman saya sudah lapor," paparnya. Wisnu hanya tersenyum ketika ditanya kemungkinan rumor disebar pengamat perbankan.

 

Dia hanya mengatakan masyarakat harus mempercayai informasi yang disampaikan BI. "Gubernur BI Boediono bilang hanya satu bank yang masalah dengan kliring dan informasi beredar lebih dari itu," jelas dia.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau