Oleh A Ponco Anggoro
Tidak ada yang menduga batu setinggi 2,19 meter yang memiliki lebar 116 sentimeter dan tebal 29-250 sentimeter di Dusun Klagen,
Desa Tropodo, Kecamatan Krian, Sidoarjo, itu sarat nilai sejarah. Bahkan batu itu dikeramatkan oleh warga di sekitarnya.
Tidak ada papan penunjuk yang menunjukkan keberadaan batu yang merupakan prasasti peninggalan Raja Airlangga tahun 1037 Masehi itu. Tidak ada juga papan informasi di lokasi itu yang menjelaskan arti tulisan yang diukir di prasasti dan makna pembangunan prasasti oleh Airlangga.
Keberadaan prasasti tersebut seakan hendak dihilangkan dan dilupakan. Prasasti itu pun tidak lebih dari seonggok batu yang
diyakini memiliki kekuatan magis. Padahal, banyak sejarah yang tersirat di dalamnya yang bisa dipelajari karena masih relevan sampai
sekarang.
Prasasti yang berlokasi di Dusun Klagen itu bernama Prasasti Kamalagyan. Prasasti yang diyakini dibuat pada masa pembangunan di era Raja Airlangga setelah masa perjuangan mereintegrasikan penguasa yang melepaskan diri sepeninggal Raja Dharmawangsa.
Di prasasti itu terukir bahwa pada saat itu ada pembangunan tamwak atau tanggul yang dinamakan tamwak waringin sapta secara
gotong-royong oleh warga di Sungai Bangawan yang saat ini dikenal dengan nama Sungai Brantas. Tanggul dinamakan waringin sapta atau tujuh pohon beringin diduga karena pohon beringin yang memiliki akar kuat ikut dipakai sebagai tanggul.
Cegah banjir
Pembangunan tanggul di sungai yang dulu memiliki tiga anak sungai (Kalimas, Sungai Porong, dan Bangawan Trung) itu diperlukan karena tanggul yang ada tidak dapat mencegah banjir berulang kali.
Banjir menenggelamkan rumah warga di pinggir sungai, sawah, dan tempat suci. Perekonomian yang pada masa itu sangat bergantung pada alur sungai pun menjadi lumpuh. "Para pedagang yang hilir mudik melalui sungai menjadi kehilangan arah," kata Dwi Cahyono, arkeolog dari Jurusan Sejarah Universitas Negeri Malang.
Oleh karena itu, tanggul pun dibuat. Karena pada saat itu masih banyak "musuh politik" Raja Airlangga, warga Kamalagyan atau sekarang Dusun Klagen diminta menjaga tanggul tersebut. Sebagai imbalannya mereka tidak harus membayar pajak kepada kerajaan atau disebut desa perdikan.
Prasasti ini, menurut Dwi, mengingatkan kepada kita betapa kuat dan derasnya Sungai Brantas. Padahal, saat itu sudah ada tiga anak
sungai yang membuang aliran Sungai Brantas. Derasnya aliran itu masih terasa sampai sekarang. Sejumlah banjir yang diakibatkan meluapnya air sungai masih kerap terjadi.
"Oleh karena itu, sejarah di prasasti harus menjadi perhatian dari kabupaten/kota yang dilintasi sungai untuk membuat persiapan-
persiapan mengantisipasi derasnya sungai, apalagi sekarang sudah musim hujan," tambahnya.
Di sekeliling prasasti, menurut penjaga prasasti Osin (54), masih banyak ditemukan benda peninggalan sejarah seperti sumur, tumpukan batu bata, dan koin setiap kali warga menggali tanah. "Yang paling banyak ditemukan adalah koin. Ada warga yang menemukan 50 kilogram koin, tetapi kemudian dia menjualnya ke pedagang di Surabaya daripada menyerahkannya ke Balai Purbakala," ungkapnya.
Menurut Dwi, sangat dimungkinkan masih banyak peninggalan sejarah. Pasalnya, lokasi itu diyakininya merupakan titik percabangan dari Sungai Brantas ke tiga anak Sungai Brantas.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang