Pelajaran Mengendalikan Banjir dari Klagen

Kompas.com - 15/11/2008, 01:21 WIB

Oleh A Ponco Anggoro

Tidak ada yang menduga batu setinggi 2,19 meter yang memiliki  lebar 116 sentimeter dan tebal 29-250 sentimeter di Dusun Klagen,
Desa Tropodo, Kecamatan Krian, Sidoarjo, itu sarat nilai sejarah. Bahkan batu itu dikeramatkan oleh warga di sekitarnya.

Tidak ada papan penunjuk yang menunjukkan keberadaan batu yang merupakan prasasti peninggalan Raja Airlangga tahun 1037 Masehi itu. Tidak ada juga papan informasi di lokasi itu yang menjelaskan arti tulisan yang diukir di prasasti dan makna pembangunan prasasti oleh Airlangga.

Keberadaan prasasti tersebut seakan hendak dihilangkan dan dilupakan. Prasasti itu pun tidak lebih dari seonggok batu yang
diyakini memiliki kekuatan magis. Padahal, banyak sejarah yang tersirat di dalamnya yang bisa dipelajari karena masih relevan sampai
sekarang.

Prasasti yang berlokasi di Dusun Klagen itu bernama Prasasti Kamalagyan. Prasasti yang diyakini dibuat pada masa pembangunan di era Raja Airlangga setelah masa perjuangan mereintegrasikan penguasa yang melepaskan diri sepeninggal Raja Dharmawangsa.

Di prasasti itu terukir bahwa pada saat itu ada pembangunan tamwak atau tanggul yang dinamakan tamwak waringin sapta secara
gotong-royong oleh warga di Sungai Bangawan yang saat ini dikenal dengan nama Sungai Brantas. Tanggul dinamakan waringin sapta atau tujuh pohon beringin diduga karena pohon beringin yang memiliki akar kuat ikut dipakai sebagai tanggul.

Cegah banjir

Pembangunan tanggul di sungai yang dulu memiliki tiga anak sungai (Kalimas, Sungai Porong, dan Bangawan Trung) itu diperlukan karena tanggul yang ada tidak dapat mencegah banjir berulang  kali.

Banjir menenggelamkan rumah warga di pinggir sungai, sawah, dan tempat suci. Perekonomian yang pada masa itu sangat bergantung pada alur sungai pun menjadi lumpuh. "Para pedagang yang hilir mudik melalui sungai menjadi kehilangan arah," kata Dwi Cahyono, arkeolog dari Jurusan Sejarah Universitas Negeri Malang.

Oleh karena itu, tanggul pun dibuat. Karena pada saat itu masih banyak "musuh politik" Raja Airlangga, warga Kamalagyan atau sekarang Dusun Klagen diminta menjaga tanggul tersebut. Sebagai imbalannya mereka tidak harus membayar pajak kepada kerajaan atau disebut desa perdikan.

Prasasti ini, menurut Dwi, mengingatkan kepada kita betapa kuat dan derasnya Sungai Brantas. Padahal, saat itu sudah ada tiga anak
sungai yang membuang aliran Sungai Brantas. Derasnya aliran itu masih terasa sampai sekarang. Sejumlah banjir yang diakibatkan meluapnya air sungai masih kerap terjadi.

"Oleh karena itu, sejarah di prasasti harus menjadi perhatian dari kabupaten/kota yang dilintasi sungai untuk membuat persiapan-
persiapan mengantisipasi derasnya sungai, apalagi sekarang sudah musim hujan," tambahnya.

Di sekeliling prasasti, menurut penjaga prasasti Osin (54), masih banyak ditemukan benda peninggalan sejarah seperti sumur, tumpukan batu bata, dan koin setiap kali warga menggali tanah. "Yang paling banyak ditemukan adalah koin. Ada warga yang menemukan 50 kilogram koin, tetapi kemudian dia menjualnya ke pedagang di Surabaya daripada menyerahkannya ke Balai Purbakala," ungkapnya.

Menurut Dwi, sangat dimungkinkan masih banyak peninggalan sejarah. Pasalnya, lokasi itu diyakininya merupakan titik percabangan dari Sungai Brantas ke tiga anak Sungai Brantas.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau