Badan Harus Harum!

Kompas.com - 15/11/2008, 10:44 WIB

Modal utama penampilan yang menarik adalah bau badan yang segar dan harum. Dan, perawatan tubuh yang tepat tak sebatas pada mandi saja. Pada dasarnya tubuh kita memiliki bau alami, tapi akan jadi masalah bila tubuh mengeluarkan  aroma kurang sedap di hidung. Berikut beberapa masalah bau badan dan cara mengatasinya.

Bau keringat
Sebenarnya keringat yang keluar dari tubuh kita adalah hal yang normal dan tidak berbau, sampai ia kontak dengan bakteri di kulit. Dan tempat favorit para bakteri adalah di daerah yang hangat, gelap, dan basah seperti daerah ketiak.
Bila Anda sering mendapati baju Anda basah di bagian ketiak, mungkin Anda mengalami hyperhidrosis, di mana kelenjar keringat bekerja terlalu aktif. Sedangkan keringat berlebihan ditambah dengan rasa mual, kepala pening dan berat badan terus turun, bisa jadi Anda mengalami masalah dengan tiroid atau indikasi adanya penurunan gula darah.

Deodoran yang biasa kita pakai kebanyakan sudah mengandung antiperspirant yang akan mengatasi keringat berlebih. Sayangnya kita sering memakainya di waktu yang salah. "Agar ketiak selalu kering, gunakan saat kulit dalam keadaan kering sehingga zat aktif produk lebih cepat meresap," kata David E.Bank, direktur Center for Dermatology, Cosmetic & Laser Surgery, New York.

Bau kaki
Tahukah Anda bahwa kaki kita memiliki 250.000 kelenjar keringat, satu kaki, bukan sepasang. Tak heran bila kaki memproduksi 1/2 cangkir keringat setiap harinya. Saat kaki panas dan lembab, bakteri pun akan senang tinggal di sana dan menyebabkan bau tak sedap. Untuk mengatasinya, cuci dan keringkan kaki setiap habis mandi. Gunakan sepatu yang terbuat dari bahan alami, seperti kulit atau kanvas, sehingga kaki bisa "bernapas". Anda juga bisa memakai antiperspirant khusus untuk bagian kaki setiap malam sehingga kaki selalu kering.

Area intim kurang segar
Area intim wanita memiliki bau alami. Bau khas ini akan semakin kuat atau sebaliknya kurang berbau mengikuti siklus menstruasi. Yang perlu diwaspadai adalah bila area intim mengeluarkan bau yang menyengat dan disertai keluarnya cairan kekuningan atau hijau. Kondisi ini bisa jadi indikasi adanya infeksi jamur atau bacterial vaginosis.

Untuk menjaga kesegaran area intim, saat mandi, basuh dengan sabun lembut. Selain itu hindari pencetus bakteri, yakni lembab. Segera ganti pakaian dalam yang basah dan lembab. Jangan terlalu sering menggunakan pakaian dalam yang terbuat dari kain yang tidak menyerap keringat, seperti satin. Konsultasikan dengan dokter bila terjadi infeksi jamur.

Bau mulut
Bau naga alias bau mulut sebenarnya terjadi ketika bakteri yang tinggal di dalam mulut kita dan bertugas menghancurkan partikel makanan, memproduksi senyawa belerang yang bau. Apa yang kita makan juga bisa menyebabkan mulut berbau tak sedap.  Bagaimana cara memiliki napas yang segar? Saat menggosok gigi, bersihkan juga permukaan lidah dengan sikat khusus untuk menyingkirkan bakteri. Jangan lupa untuk mengurangi konsumsi makanan yang memiliki bau tajam, seperti petai, bawang putih, atau duren.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau