G 20 Sepakat Terapkan Reformasi Sistem Keuangan

Kompas.com - 16/11/2008, 17:27 WIB

WASHINGTON, SABTU -  Para pemimpin negara G-20 sepakat meneruskan berbagai upaya dan langkah nyata yang diperlukan untuk menstabilkan sistem keuangan, dengan menyetujui kebijakan yang diperluas dalam kerjasama makro ekonomi guna memperbaiki pertumbuhan dan mendukung ekonomi negara berkembang dan negara maju.

Demikian salah satu deklarasi hasil Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) para pemimpin negara G-20 tentang Pasar Finansial dan Ekonomi Dunia atau Summit on Financial Market and The World Economy yang berakhir di Washington DC, Amerika Serikat, Sabtu (15/11) waktu setempat.

Kesepakatan lain adalah untuk bersama mengenali pentingnya dukungan kebijakan moneter yang dianggap cocok untuk kondisi domestik, menggunakan sisi fiskal untuk merangsang permintaan domestik untuk mempercepat efek, membantu negara ekonomi maju dan berkembang mendapatkan akses keuangan dalam kondisi likuiditas yang sulit ini serta mendorong Bank Dunia dan lembaga keuangan multilateral lainnya agar menggunakan kapasitas keuangan mereka secara penuh dan mendukung dikeluarkannya berbagai fasilitas baru dari Bank Dunia.

G-20 juga memastikan kembali bahwa IMF, Bank Dunia dan lembaga keuangan lainnya yang memiliki sumber dana yang cukup untuk melanjutkan perannya dalam upaya menangani krisis.

Para kepala pemerintahan juga sepakat bagi diperkuatnya kerangka kerjasama guna merestorasi pertumbuhan ekonomi global dan dibutuhkannya reformasi sistem finansial dunia saat ini.

Mereka juga mengaku telah bekerja keras dan mengambil tindakan yang tepat dalam merangsang pertumbuhan ekonomi di negara masing-masing, memperkuat likuiditas, memperkuat modal di institusi-institusi keuangan, melindungi tabungan dan deposito masyarakat, dan membuat aturan yang baik.

G20 menyadari masih dibutuhkannya banyak hal untuk menstabilkan pasar keuangan dan mendukung pertumbuhan ekonomi. Momentum pertumbuhan ekonomi makro mengalami perlambatan secara substansial dan perkiraan ekonomi global mengalami pelemahan.

Para kepala pemerintahan juga sepakat bahwa mereka membutuhkan sebuah kebijakan lebih luas yang berdasarkan pada kerjasama makro ekonomi yang lebih erat guna membangun pertumbuhan ekonomi, menghindari pertumbuhan yang terus negatif, dan melindungi pasar dan pembangunan di negara-negara berkembang.

Pemimpin ke-20 negara itu juga sepakat akan bertemu kembali pada 30 April 2009 mendatang. KTT itu kemungkinan akan dilakukan di Inggris atau Jepang, sebagaimana diungkapkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono setelah pertemuan itu.


Tetap dibutuhkan

Presiden Yudhoyono dalam jumpa pers itu menegaskan, memang jangan berharap banyak bahwa pertemuan puncak seperti itu bisa menyelesaikan semua masalah dengan cepat.

Namun demikian, pertemuan puncak seperti ini, kata Presiden Yudhoyono, tetap dibutuhkan. Apalagi para kepala negara itu sepakat untuk bekerja lebih erat lagi dalam menyelesaikan krisis ini. Sebab, perekonomian negara-negara, dalam sistem ekonomi global seperti saat ini, juga bergantung pada negara lain.

"Karena itu upaya yang dilakukan oleh negara masing-masing dan upaya regional serta global tetap penting untuk mencari jalan keluar krisis keuangan yang terjadi sekarang ini," katanya.

Ketika ditanya tentang kemungkinan Indonesia akan meniru kebijakan Pemerintah Amerika Serikat dan negara-negara Eropa memberi talangan kepada perusahan-perusahan yang bankrut, Presiden Yudhoyono telah menegaskan bahwa kebijakan seperti itu tidak akan dilakukannya.

Hal itu karena sekitar 10 tahun lalu, pemerintah sudah pernah mengeluarkan kebijakan bailout dengan melalui Bantuan Likuditas Bank Indonesia (BLBI) dan Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN).

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau