Mata Sang Monster Ditikam Pakai Kayu

Kompas.com - 16/11/2008, 19:57 WIB

SABTU sore (15/11), sekitar pukul 18.00 Wita, air laut mulai pasang. Seperti biasanya pintu air,  ia buka agar air laut bisa masuk ke tambak udang. Selanjutnya, Muhammad Husaini (50) --sang penjaga tambak-- mulai berkeliling mengecek apakah ada tanggul yang bocor. Tambak yang dijaganya, terletak di RT 1 Kelurahan Sesempohan, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU).

Biasanya, bila ada bagian tanggul yang rendah atau jebol, ia memperbaikinya agar udang-udang dan ikan yang ada di daerah pengawasannya tak kabur. Caranya, tanggul-tanggul yang retak atau rusak, ia timbun dengan tanah liat yang dikeruknya dari dasar tambak. Selama ini tanggul di sekitar tambak, berfungsi sebagai jalan setapak.

Matahari mulai tenggelam. Husaini masih sibuk memperbaiki tanggul yang rusak. Kedua kakinya, sudah lama berendam di tepian tambak. Berkali-kali ia membungkuk mengambil tanah tambak sebagai bahan penambal tanggul. Ketika kedua tangannya sedang mengangkat tanah liat hasil garukannya, tiba-tiba seekor buaya diperkirakan berusia enam tahun dan panjangnya empat meter, menerkam tangan kanannya. Selanjutnya, sambil menggigit tangan korban, kepala buaya bergerak ke kanan dan kiri. Tubuh Husaini seakan terbang di atas air.
 
Lelaki itu berteriak sekuat tenaga meminta tolong. Apalagi saat tubuhnya dibanting buaya berkali-kali ke segala arah, hingga badannya berdarah-darah terkena kulit tubuh buaya. "Saya sedang memperbaiki tanggul, tiba-tiba datang buaya dari balik tanggul. Tangan kanan saya pun diterkam," kata Husaini.

Ditengah kepanikan, Husaini tak mau pasrah. Nyawanya harus ia selamatkan, walau harus berhadapan dengan monster rawa. Sekuat tenaga, Husaini berusaha bertahan, agar tubuhnya tak tertelan mulut buaya. Awalnya, ia berpikir tak mungkin bisa melawan monster yang selama ini kerap ditakuti warga sekitar. Tetapi, berbekal semangat melindungi jiwanya, ia akhirnya mampu melawan sang buaya.

Masih dalam keadaan panik, tangan kiri Husaini berusaha meraih benda apa saja yang bisa dipakai sebagai alat untuk membunuh sang buaya agar tangan kanannya bisa terlepas dari gigitan. Sebilah kayu pohon bakau, tiba-tiba ia temukan. Tanpa basa-basi, kayu itu ia tusukan tepat mengenai kedua mata buaya. Sang buaya terlihat kesakitan.

"Ada kayu di sebelah badan saya. Benda itu saya tusukan ke matanya. Barulah gigitannya lepas dan saya bisa menyelematkan diri," kenang Husaini. Sementara buaya yang menyerangnya, tiba-tiba ngacir dengan mata penuh darah. Pertarungan antara manusia dan buaya, akhirnya berakhir walau tubuh Husaini penuh darah.

Usai bertarung dengan sang buaya, dengan tenaga seadanya Husaini berjalan kaki menuju pondok yang ada di sekitar tambak. Ketika berada di depan pondok, lelaki itu berteriak sekuat tenaga meminta pertolongan.

Aco, salah seorang keponakannya yang mendengar jeritan minta tolong segera berlari ke pondok. Sang paman didapati dalam keadaan terkulai lemas. Luka-luka yang ada di tubuh korban, lalu dibalut dengan kain sarung. Selanjutnya, korban dibawa ke tepi jalan raya, sekitar 2 Km dari TKP.

Khawatir kondisi Husaini tak mungkin bisa disembuhkan, malam itu juga keluarganya memutuskan membawa korban ke Balikpapan lewat jalur laut. Perjalanan dari Balikpapan memakan waktu sekitar satu jam, menumpang perahu klotok. Tiba di Balikpapan, korban dibawa ke Rumah Sakit Tentara Dr R Hardjanto. Para petugas medis kemudian mengobati semua luka korban.

Tanggal 25 Oktober 2008 lalu, seorang anak yang sedang bermain di hutan bakau di tempat yang sama juga diterkam buaya. Bagian betis sang bocah, sempat digigit hingga berlubang. Tapi nyawa sang bocah selamat, karena posisi buaya tidak leluasa lantaran terjepit pohon-pohon bakau. Sehingga, saat mengejar mangsanya, sang buaya itu mengalami kesulitan.

"Buaya itu tak bisa mengejar, karena tubuhnya terjepit pohon bakau. Dia tidak bisa lari ke depan. Untung korban berhasil melarikan diri," kata Ince Manan, warga sekitar kepada Tribun. (M Yamin)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau